alexametrics
28.1 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

16 Ribu Warga Manfaatkan Program Lapor Bansos

RadarBanyuwangi.id Program Lapor Bantuan Sosial (Bansos) yang digulirkan Pemkab Banyuwangi mendapat sambutan positif warga kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini. Buktinya, sekitar 16 ribu warga yang belum tersentuh bantuan sama sekali memanfaatkan program pelaporan secara daring tersebut. Bahkan, bantuan tahap awal sudah mulai disalurkan.

Seperti diketahui, pelaporan online tersebut telah dibuka Pemkab sejak pekan lalu. Warga cukup melapor di situs yang telah disediakan. Nah, sejak dibuka pada 26 Agustus lalu, telah ada sekitar 16 ribu data pelapor. Dari jumlah tersebut telah terverifikasi sebanyak 11 ribu orang.

Bupati Ipuk Fiestiandani mengatakan, pada tahap awal pemkab telah menyalurkan 2.800 paket sembako kepada. “Secara bertahap, semua pengajuan akan mendapatkan sembako” ujarnya.

Bantuan ini diutamakan bagi warga terdampak pandemi Covid-19 yang belum pernah tersentuh bantuan dari pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. “Semoga sedikit bantuan dari pemkab ini bisa membantu Bapak-Ibu dan keluarga. Mohon terus bersabar dan tetap optimistis kita bisa melewati situasi sulit ini,” kata dia. 

Bantuan ini adalah program pelaporan online yang dibuka Pemkab Banyuwangi pekan lalu. Warga cukup melapor di situs yang telah disediakan. Warga bisa melaporkan diri sendiri, juga warga lain yang dinilai perlu mendapat bantuan.

Ipuk mengatakan, pemerintah pusat, provinsi, dan Pemkab Banyuwangi telah menyalurkan berbagai skema bansos yang menjangkau lebih dari 250 ribu keluarga yang masuk Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Mulai Progra, Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), Bantuan Langsung Tunai (BLT) Desa, Bantuan Sosial Tunai (BST) Kementerian Sosial (Kemensos), Bantuan Presiden Produktif Usaha Mikro (BPUM), jaring pengaman Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim, dan bantuan yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Banyuwangi.

Namun, lanjut Ipuk, situasi di lapangan sangat dinamis. Pandemi covid-19 berdampak sangat luas sehingga pasti masih banyak warga yang belum terjangkau bantuan. “Maka kami membuka pelaporan via online. Program ini untuk memfasilitasi warga yang belum terdata dalam DTKS dan belum mendapatkan bantuan dari pemerintah,” tuturnya.

Ipuk meminta warga yang belum menerima bantuan untuk bersabar. “Jangan menyalahkan kepala desa, lurah, dan ketua Rukun Tetangga (RT) atau ketua Rukun Warga (RW). Insya Allah kami akan terus mencari cara agar masyarakat yang terdampak bisa mendapatkan bantuan,” imbuhnya.

Paket sembako yang diserahkan merupakan hasil gerakan hari Belanja di Pasar dan Warung Rakyat oleh para aparatur sipil negara (ASN) se-Banyuwangi pada 8 Agustus 2021. Hasil gerakan belanja tersebut seluruhnya didonasikan ke Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 untuk diberikan kepada warga yang terdampak pandemi. Setiap paket berisi beras, minyak goreng, mi instan, dan gula.

Salah seorang penerima bantuan tersebut, Urita, warga Kecamatan Glagah mengaku senang. Dia sebelumnya berdagang buah keliling, kini berhenti karena sepi pembeli. “Karena tidak ada pemasukan, akhirnya modal saya ikut terpakai untuk kebutuhan sehari-hari. Alhamdulillah, dapat bantuan. Bisa mengurangi belanja sembako,” pungkasnya. (sgt/aif)

RadarBanyuwangi.id Program Lapor Bantuan Sosial (Bansos) yang digulirkan Pemkab Banyuwangi mendapat sambutan positif warga kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini. Buktinya, sekitar 16 ribu warga yang belum tersentuh bantuan sama sekali memanfaatkan program pelaporan secara daring tersebut. Bahkan, bantuan tahap awal sudah mulai disalurkan.

Seperti diketahui, pelaporan online tersebut telah dibuka Pemkab sejak pekan lalu. Warga cukup melapor di situs yang telah disediakan. Nah, sejak dibuka pada 26 Agustus lalu, telah ada sekitar 16 ribu data pelapor. Dari jumlah tersebut telah terverifikasi sebanyak 11 ribu orang.

Bupati Ipuk Fiestiandani mengatakan, pada tahap awal pemkab telah menyalurkan 2.800 paket sembako kepada. “Secara bertahap, semua pengajuan akan mendapatkan sembako” ujarnya.

Bantuan ini diutamakan bagi warga terdampak pandemi Covid-19 yang belum pernah tersentuh bantuan dari pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. “Semoga sedikit bantuan dari pemkab ini bisa membantu Bapak-Ibu dan keluarga. Mohon terus bersabar dan tetap optimistis kita bisa melewati situasi sulit ini,” kata dia. 

Bantuan ini adalah program pelaporan online yang dibuka Pemkab Banyuwangi pekan lalu. Warga cukup melapor di situs yang telah disediakan. Warga bisa melaporkan diri sendiri, juga warga lain yang dinilai perlu mendapat bantuan.

Ipuk mengatakan, pemerintah pusat, provinsi, dan Pemkab Banyuwangi telah menyalurkan berbagai skema bansos yang menjangkau lebih dari 250 ribu keluarga yang masuk Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Mulai Progra, Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), Bantuan Langsung Tunai (BLT) Desa, Bantuan Sosial Tunai (BST) Kementerian Sosial (Kemensos), Bantuan Presiden Produktif Usaha Mikro (BPUM), jaring pengaman Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim, dan bantuan yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Banyuwangi.

Namun, lanjut Ipuk, situasi di lapangan sangat dinamis. Pandemi covid-19 berdampak sangat luas sehingga pasti masih banyak warga yang belum terjangkau bantuan. “Maka kami membuka pelaporan via online. Program ini untuk memfasilitasi warga yang belum terdata dalam DTKS dan belum mendapatkan bantuan dari pemerintah,” tuturnya.

Ipuk meminta warga yang belum menerima bantuan untuk bersabar. “Jangan menyalahkan kepala desa, lurah, dan ketua Rukun Tetangga (RT) atau ketua Rukun Warga (RW). Insya Allah kami akan terus mencari cara agar masyarakat yang terdampak bisa mendapatkan bantuan,” imbuhnya.

Paket sembako yang diserahkan merupakan hasil gerakan hari Belanja di Pasar dan Warung Rakyat oleh para aparatur sipil negara (ASN) se-Banyuwangi pada 8 Agustus 2021. Hasil gerakan belanja tersebut seluruhnya didonasikan ke Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 untuk diberikan kepada warga yang terdampak pandemi. Setiap paket berisi beras, minyak goreng, mi instan, dan gula.

Salah seorang penerima bantuan tersebut, Urita, warga Kecamatan Glagah mengaku senang. Dia sebelumnya berdagang buah keliling, kini berhenti karena sepi pembeli. “Karena tidak ada pemasukan, akhirnya modal saya ikut terpakai untuk kebutuhan sehari-hari. Alhamdulillah, dapat bantuan. Bisa mengurangi belanja sembako,” pungkasnya. (sgt/aif)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/