alexametrics
25.3 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Apkasi Pilih Gelar Bimtek di Banyuwangi

RADAR BANYUWANGI – Keberhasilan Pemkab Banyuwangi mengembangkan sektor pariwisata menuai atensi khusus dari Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi). Salah satunya diwujudkan dengan menjadikan kabupaten the Sunrise of Java sebagai tempat belajar.

Ya, Apkasi berkomitmen memperkuat desa wisata yang dikembangkan oleh pemerintah kabupaten. Seperti halnya yang sedang digenjot oleh Pemkab Dharmasraya, Provinsi Sumatra Barat (Sumbar).

Untuk itu, Apkasi dan Pemkab Dharmasraya menggelar bimbingan teknis (bimtek) ”Pengembangan dan Pengelolaan Desa Wisata Berbasis Masyarakat, Potensi Lokal, dan Ketahanan Pangan” di Banyuwangi. Bimtek yang digeber selama empat hari itu diikuti 34 kepala nagari alias kepala desa asal kabupaten berjuluk Ranah Cati Nan Tigo tersebut.

Direktur Eksekutif Apkasi Sarman Simanjorang mengatakan, kesempatan kali ini harus dimanfaatkan untuk belajar dari Banyuwangi. ”Banyuwangi telah lebih dahulu sukses mengembangkan desa wisatanya,” ujarnya saat pembukaan kegiatan di Hotel El Royale, Kamis malam (2/6).

Sarman menyebutkan bahwa alam di Dharmasraya memiliki potensi yang tidak jauh berbeda dengan Banyuwangi. ”Tinggal kita belajar pengelolaannya. Bagaimana memanfaatkan potensi kita dan memaksimalkan berbagai perangkat yang ada. Seperti media sosial dan lain sebagainya,” kata dia.

Sementara itu, Bupati Ipuk Fiestiandani yang membuka bimtek tersebut menyebutkan bahwa desa wisata di Banyuwangi berbasis ecotourism. Sehingga wisata yang dikembangkan mengedepankan keindahan alam dan keluhuran seni-budaya. ”Kami melibatkan potensi yang ada di tengah masyarakat kita dalam mengembangkan pariwisata. Sehingga rakyat tidak hanya menjadi penonton, tapi juga langsung terlibat dan mendapatkan manfaat secara langsung,” kata bupati kelahiran 10 September 1974 tersebut.

Ipuk juga mengemukakan sejumlah hasil riset yang dikeluarkan oleh Mc Kensy tentang pariwisata pascapandemi. Setelah wabah Covid-19 yang melanda dunia, pariwisata menjadi sektor yang paling terpukul. Paling tidak hingga 2023 kelesuan wisata bisa kembali pulih. ”Namun, wisata yang pulihnya paling cepat adalah wisata yang menyasar wisatawan nusantara dibandingkan dengan yang menyasar wisatawan mancanegara,” terangnya.

Ipuk menambahkan, hasil riset tersebut selaras dengan arah pengembangan pariwisata Banyuwangi. Kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini berhasil mengembangkan destinasi wisata dengan market wisatawan domestik. Sehingga selama pandemi, meski terdampak namun Banyuwangi dapat segera pulih seiring dengan meredanya pandemi. ”Jadi, sudah tepat jika sekarang berfokus mengembangkan desa wisata,” kata perempuan yang juga salah satu anggota Dewan Pengurus Apkasi tersebut.

Salah satu desa wisata di Banyuwangi yang akan menjadi jujugan para peserta adalah Desa Tamansari, Kecamatan Licin. Desa di kaki Gunung Ijen ini berhasil mengembangkan desa wisata berbasis pemberdayaan masyarakat. Tidak hanya mengandalkan keindahan Kawah Ijen yang mendunia, namun juga spot-spot indah lainnya mulai dieksplorasi. Mulai areal perkebunan hingga pemandian alam Seruni.

Selain objek wisata, pemerintah desa setempat juga mendorong warganya untuk terlibat dengan menyediakan berbagai fasilitas bagi wisatawan. Seperti membuat homestay, oleh-oleh, suvenir dan aneka kuliner khas. Tak ayal upaya tersebut membuahkan sejumlah penghargaan. Di antaranya adalah Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021 dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. (sgt/bay/c1)

RADAR BANYUWANGI – Keberhasilan Pemkab Banyuwangi mengembangkan sektor pariwisata menuai atensi khusus dari Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi). Salah satunya diwujudkan dengan menjadikan kabupaten the Sunrise of Java sebagai tempat belajar.

Ya, Apkasi berkomitmen memperkuat desa wisata yang dikembangkan oleh pemerintah kabupaten. Seperti halnya yang sedang digenjot oleh Pemkab Dharmasraya, Provinsi Sumatra Barat (Sumbar).

Untuk itu, Apkasi dan Pemkab Dharmasraya menggelar bimbingan teknis (bimtek) ”Pengembangan dan Pengelolaan Desa Wisata Berbasis Masyarakat, Potensi Lokal, dan Ketahanan Pangan” di Banyuwangi. Bimtek yang digeber selama empat hari itu diikuti 34 kepala nagari alias kepala desa asal kabupaten berjuluk Ranah Cati Nan Tigo tersebut.

Direktur Eksekutif Apkasi Sarman Simanjorang mengatakan, kesempatan kali ini harus dimanfaatkan untuk belajar dari Banyuwangi. ”Banyuwangi telah lebih dahulu sukses mengembangkan desa wisatanya,” ujarnya saat pembukaan kegiatan di Hotel El Royale, Kamis malam (2/6).

Sarman menyebutkan bahwa alam di Dharmasraya memiliki potensi yang tidak jauh berbeda dengan Banyuwangi. ”Tinggal kita belajar pengelolaannya. Bagaimana memanfaatkan potensi kita dan memaksimalkan berbagai perangkat yang ada. Seperti media sosial dan lain sebagainya,” kata dia.

Sementara itu, Bupati Ipuk Fiestiandani yang membuka bimtek tersebut menyebutkan bahwa desa wisata di Banyuwangi berbasis ecotourism. Sehingga wisata yang dikembangkan mengedepankan keindahan alam dan keluhuran seni-budaya. ”Kami melibatkan potensi yang ada di tengah masyarakat kita dalam mengembangkan pariwisata. Sehingga rakyat tidak hanya menjadi penonton, tapi juga langsung terlibat dan mendapatkan manfaat secara langsung,” kata bupati kelahiran 10 September 1974 tersebut.

Ipuk juga mengemukakan sejumlah hasil riset yang dikeluarkan oleh Mc Kensy tentang pariwisata pascapandemi. Setelah wabah Covid-19 yang melanda dunia, pariwisata menjadi sektor yang paling terpukul. Paling tidak hingga 2023 kelesuan wisata bisa kembali pulih. ”Namun, wisata yang pulihnya paling cepat adalah wisata yang menyasar wisatawan nusantara dibandingkan dengan yang menyasar wisatawan mancanegara,” terangnya.

Ipuk menambahkan, hasil riset tersebut selaras dengan arah pengembangan pariwisata Banyuwangi. Kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini berhasil mengembangkan destinasi wisata dengan market wisatawan domestik. Sehingga selama pandemi, meski terdampak namun Banyuwangi dapat segera pulih seiring dengan meredanya pandemi. ”Jadi, sudah tepat jika sekarang berfokus mengembangkan desa wisata,” kata perempuan yang juga salah satu anggota Dewan Pengurus Apkasi tersebut.

Salah satu desa wisata di Banyuwangi yang akan menjadi jujugan para peserta adalah Desa Tamansari, Kecamatan Licin. Desa di kaki Gunung Ijen ini berhasil mengembangkan desa wisata berbasis pemberdayaan masyarakat. Tidak hanya mengandalkan keindahan Kawah Ijen yang mendunia, namun juga spot-spot indah lainnya mulai dieksplorasi. Mulai areal perkebunan hingga pemandian alam Seruni.

Selain objek wisata, pemerintah desa setempat juga mendorong warganya untuk terlibat dengan menyediakan berbagai fasilitas bagi wisatawan. Seperti membuat homestay, oleh-oleh, suvenir dan aneka kuliner khas. Tak ayal upaya tersebut membuahkan sejumlah penghargaan. Di antaranya adalah Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021 dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. (sgt/bay/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/