BANYUWANGI – Penerapan skema Tiba–Bongkar–Berangkat (TBB) oleh Kementerian Perhubungan Republik Indonesia justru memicu kemacetan panjang di jalur menuju Pelabuhan Ketapang.
Antrean kendaraan yang hendak menyeberang ke Bali bahkan dilaporkan mengular hingga sekitar satu kilometer ke arah utara pelabuhan.
Kondisi ini menjadi ironi di tengah upaya pemerintah mengurai kepadatan ekstrem yang sebelumnya terjadi di Pelabuhan Gilimanuk.
Seperti diketahui, pada Senin (16/3), antrean kendaraan di Gilimanuk sempat mencapai puluhan kilometer dan menyebabkan sejumlah pengemudi kelelahan hingga pingsan.
Kebijakan TBB Berujung Antrean di Sisi Jawa
Sebagai respons darurat, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengambil langkah cepat dengan menambah armada kapal serta menerapkan skema TBB.
Skema ini dirancang untuk mempercepat rotasi kapal di dermaga. Kapal yang tiba langsung membongkar muatan dan kembali berlayar tanpa proses pemuatan, sehingga diharapkan mampu memangkas waktu tunggu.
Namun di lapangan, kebijakan tersebut justru memunculkan antrean baru di sisi Ketapang.
Pantauan di lokasi menunjukkan kepadatan terjadi sejak dalam area kantung parkir hingga meluber ke jalan raya sepanjang sekitar satu kilometer. Volume kendaraan meningkat tajam, didominasi wisatawan dan warga Bali dari luar daerah yang hendak merayakan Hari Raya Nyepi.
Penumpang Berebut Kapal Reguler
Masalah semakin kompleks karena sebagian besar kapal menerapkan sistem TBB. Akibatnya, kendaraan dari arah Jawa hanya bisa dilayani oleh kapal yang masih beroperasi secara reguler.
Kondisi ini membuat penumpang harus berebut slot di kapal yang terbatas jumlahnya.
Salah seorang wisatawan asal Surabaya, Merry, mengaku telah masuk area pelabuhan sejak pukul 05.30 WIB. Namun hingga siang hari, kendaraannya belum juga mendapat giliran naik kapal.
“Mobil jalan tidak sampai lima meter sudah berhenti lagi, begitu terus,” keluhnya.
Ia mengaku situasi tahun ini jauh lebih parah dibanding pengalaman sebelumnya. Tahun lalu, ia hanya mengalami kemacetan sekitar 1,5 jam. Kini, setelah lima jam, ia bahkan belum berhasil naik kapal.
“Tadi sempat kepikiran balik kanan dan membatalkan hotel,” imbuhnya.
Wisatawan Lain Ikut Terjebak
Keluhan serupa disampaikan wisatawan lain, Aditya. Ia mengaku tidak menyangka kemacetan juga terjadi di sisi Ketapang.
“Saya kira aman dari Ketapang, ternyata kena macet juga. Masuk jam tiga sore, jam setengah tujuh baru masuk kapal,” ujarnya.
Di sisi lain, kondisi di Bali mulai menunjukkan perbaikan. Salah seorang pemudik, Nurfiana, menyebut antrean panjang justru sempat terjadi sekitar 11 kilometer sebelum pelabuhan Gilimanuk.
Ia mengaku harus menunggu hingga sepuluh jam sebelum mencapai dermaga.
ASDP Terapkan Berbagai Skema Darurat
Direktur Utama ASDP Indonesia Ferry, Heru Widodo, menyatakan berbagai langkah percepatan terus dilakukan bersama pemangku kepentingan.
Sejak Senin (16/3), kepolisian menerapkan sistem satu arah (one way) dalam radius sekitar 4,5 kilometer untuk mempercepat arus kendaraan menuju pelabuhan.
Selain itu, kendaraan kecil juga dialihkan ke buffer zone kargo guna mengurangi kepadatan di jalur utama menuju Gilimanuk.
Dari sisi operasional, sebanyak 35 unit kapal dioperasikan di lintasan Ketapang–Gilimanuk. Namun, skema TBB masih diterapkan di beberapa dermaga seperti MB I, MB IV, dan LCM.
“Berbagai langkah percepatan operasional terus kami lakukan agar arus kendaraan tetap bergerak dan antrean dapat segera terurai,” ujar Heru.
Lonjakan Penumpang dan Kendaraan
Data Posko Angkutan Lebaran mencatat lonjakan signifikan arus penyeberangan dari Bali ke Jawa.
Pada H-6, jumlah penumpang meningkat 33,8 persen, dari 60.099 orang menjadi 80.416 orang. Kendaraan roda dua melonjak 52,7 persen, sedangkan kendaraan roda empat naik 9,2 persen.
Pada H-5, jumlah penumpang masih meningkat menjadi 76.495 orang atau naik 2,9 persen dibanding tahun lalu.
Sementara itu, dari arah Jawa menuju Bali didominasi kendaraan pribadi dan bus. Tercatat kendaraan roda empat mencapai 1.697 unit (naik 5,1 persen), sedangkan bus mencapai 547 unit (naik 16,9 persen).
ASDP Janji Optimalkan Layanan
General Manager ASDP Cabang Ketapang, Arief Eko, menegaskan pihaknya akan terus meningkatkan kapasitas layanan.
“ASDP berkomitmen mengoptimalkan operasional kapal dan dermaga agar arus kendaraan terserap maksimal. Kami juga mengimbau pengguna jasa untuk mengikuti arahan petugas,” ujarnya.
Evaluasi TBB Jadi Kunci
Melihat kondisi yang terjadi, penerapan skema TBB dinilai perlu evaluasi lebih lanjut. Meski bertujuan mempercepat rotasi kapal, implementasi yang tidak merata justru memindahkan titik kemacetan dari Bali ke Jawa.
Jika tidak segera disesuaikan, antrean panjang di Pelabuhan Ketapang berpotensi terus terjadi, terutama pada momen puncak arus mudik dan libur panjang seperti menjelang Nyepi. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin