Anak-anak sangat suka makan permen bola mata tersebut. Terlebih permen lunak jelly kenyal, dengan aneka rasa buah tersebut paling laris di antara permen lainnya. Bagi anak-anak, rasa adalah segalanya. Mereka tidak akan memikirkan, apakah permen tersebut sudah memenuhi standar kesehatan, ataukah ada dampak negatif setelah mengonsumsinya atau tidak.
Di dekat sekolah saya mengajar, ada beberapa toko kecil yang menjual segala macam jajanan. Tetapi hanya ada satu toko yang menjual permen bola jelly lunak tersebut. Permen jelly itu sangat laris, meskipun harga satu buah dijual Rp 2.000. Harga yang terjangkau bagi anak-anak sekolah di kelas pedesaan. Mengingat rata-rata uang saku mereka tidak lebih dari Rp 5.000.
Pembelian permen merupakan pilihan logis bagi anak-anak untuk mendapatkan jajanan dengan rasa enak dan relatif lama untuk menikmatinya. Pagi saat jam efektif berlangsung, saya mengajar di kelas lima. Kebetulan anak saya yang pertama berada di kelas tersebut.
Seperti biasa, sebelum saya memulai pembelajaran, saya absen terlebih dahulu untuk mengetahui siapa saja yang masuk dan tidak. Kebetulan pada waktu itu ada satu anak lelaki tidak hadir karena sakit.
Saya bertanya kepada anak didik saya, kenapa si A tidak masuk? ”Perutnya sakit, Bu,” jawab Si B. Mereka menyebut A sakit lantaran kebanyakan makan permen jelly yang bentuknya seperti mata. Mereka pun akhirnya bercerita, bahwa permen jelly tersebut sudah banyak memakan korban. Terutama di kalangan anak sekolah dasar (SD), yang mengakibatkan mereka harus dirawat di rumah sakit.
Merasa penasaran dengan permen bola yang berbentuk seperti mata, akhirnya saya pun membeli satu buah. Anak-anak didik saya pun berceloteh, untuk meyakinkan saya bahwa mereka melihat sendiri ada kejadian setelah memakan permen tersebut mengakibatkan sakit perut, yang berakibat fatal jika tidak segera ditangani.
Tak lama setelahnya, permen jelly itu sudah tidak dijual lagi di toko sebelah tempat saya mengajar. Karena si penjual merasa takut akan kejadian yang tidak diinginkan. Meskipun dari berbagai sumber ada yang mengatakan, bahwa permen jelly bola mata tersebut halal untuk dikonsumsi, tetapi sampai saat ini sudah tidak ada yang menjual permen jelly bola mata tersebut.
Melihat dari berbagai sumber media sosial, berita di TV, sudah banyak sekali kejadian dampak konsumsi permen jelly, akhirnya permen bola tersebut tidak diperbolehkan untuk dikonsumsi lagi.
Mungkin tidak hanya permen jelly tersebut yang sudah dilarang beredar. Ada banyak permen yang lainnya, salah satunya permen rokok. Bukan karena kandungan permen tersebut, melainkan dari bentuknya yang mirip dengan bentuk rokok. Permen ini sempat ngetren di awal tahun 2000-an. Bentuknya yang mirip dengan rokok asli, diisi dengan cokelat.
Tapi pada tahun 1960-an, permen rokok ini pernah dilarang beredar di pasaran. Karena saat itu produk permen rokok bentuknya sangat mirip dengan rokok asli. Bahkan, ada permen rokok yang memasang logo mirip seperti brand rokok terkenal. Dari sana, banyak orang tua yang khawatir bahwa permen ini bisa memengaruhi anak-anak untuk mencoba rokok asli.
Pada Maret lalu, Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Banyuwangi menyosialisasikan Sertifikat Halal. Manfaat Sertifikat Halal tersebut bagi konsumen dan produsen di antaranya memberikan ketenangan bagi konsumen saat mengonsumsi suatu produk dan meningkatkan kepercayaan kepada konsumen.
Dengan adanya Sertifikat Halal yang dikeluarkan oleh Kemenag melalui Badan Pengawas Jaminan Produk Halal (BPJPH) tersebut, semoga banyak perusahaan yang mendaftar. Selain gratis, juga sangat penting dan berpengaruh sekali terhadap kesehatan jika dikonsumsi jangka panjang. Sebab, sudah ada label atau logo halal. (*)
*) MIS Nurul Huda 2 Macanputih, Banyuwangi.
Editor : Gerda Sukarno Prayudha