Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ramadan sebagai Bulan Inspirasi Perjuangan

Gerda Sukarno Prayudha • Sabtu, 1 April 2023 | 06:40 WIB
Photo
Photo
Marhaban ya Ramadan.

Tak terasa bulan Ramadan kembali hadir di tengah kita, bahkan sudah memasuki hari kedelapan. Tentu kita semua, khususnya umat Islam, merasa bersyukur bisa dipertemukan dengan bulan yang penuh rahmat dan ampunan ini.

Saya ingin mengajak para pembaca untuk mengingat dua peristiwa penting yang terjadi pada era Rasulullah Muhammad Shalallahu Alaihi Wasssalam dan lembaran baru perjalanan Republik Indonesia. Pertama adalah peristiwa perang Badar Kubro yang terjadi pada 17 Ramadan tahun ke-2 Hijriah atau bertepatan dengan 13 Maret 624 Masehi. Perang ini menjadi perang terbesar pertama setelah Nabi Muhammad SAW memutuskan hijrah dari Makkah ke Madinah (Yastrib).

Juga menjadi perang yang mencatatkan sejarah sangat heroik bagi kaum muslimin. Sebab, jumlahnya hanya 313 pasukan. Sementara di pihak lawan (Kafir Quraisy) jumlahnya antara 900 sampai seribu pasukan.

Hal ini berdasarkan informasi yang diperoleh Rasulullah SAW dari dua orang penjaga sumur di Badar yang menyebutkan bahwa mereka tidak tahu jumlah pasukan kaum Kafir Quraisy secara pasti. Tapi mereka menyebutkan, dalam sehari mereka biasa menyembelih unta antara sembilan sampai sepuluh ekor. Satu ekor unta diperkirakan habis untuk makan seratus orang.

Selain itu, peralatan perang kaum Kafir Qurisy juga sangat lengkap. Mereka terdiri dari 600 pasukan berbaju perisai besi, 100 pasukan kuda, juga membawa 700 ekor unta. Sedangkan pasukan Nabi yang hanya berjumlah 313 orang lebih mengandalkan kemampuan strategi perang para sahabat dengan memanfaatkan penguasaan medan, yaitu di daerah Badar.

Atas pertolongan Allah SWT, perang dengan jumlah pasukan tidak seimbang tersebut akhirnya dimenangkan oleh kaum muslimin sebagaimana disebutkan dalam Alquran surat Ali Imron ayat 123: ”Sesungguhnya Allah telah menolongmu dalam peperangan Badar. Padahal kamu (saat itu) orang-orang yang lemah. Oleh sebab itu, bertakwalah kepada Allah, agar kamu mensyukurinya”.

Peristiwa kedua yang menjadi catatan penting dan terjadi pada bulan Ramadan adalah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Sejarah itu terukir pada tanggal 17 Agustus 1945 yang bertepatan dengan tanggal 9 Ramadan 1365 Hijriah. (Ahmad Mansyur Surya Negara, Api Sejarah 2; 2017).

Dalam peristiwa bersejarah tersebut, para tokoh bangsa ini seperti Presiden Soekarno, Mohammad Hatta, Ahmad Soebarjo, Sayuti Melik, serta beberapa tokoh lainnya, membahas dan mengetik teks proklamasi di rumah Admiral Maeda, hingga menjelang subuh.

Artinya, pada malam 9 Ramadan tersebut, mereka tetap gigih berjuang dan memikirkan nasib masa depan bangsa dan negara ini tanpa kenal waktu. Bahkan, mereka juga melaksanakan sahur bersama di rumah juang tersebut. ”Waktu itu bulan puasa. Aku masih dapat makan sahur di rumah Admiral Maeda” (Moh. Hatta, Menuju Gerbang Kemerdekaan, 2011).

Sambil santap sahur, para tokoh bangsa itu tetap menggelar rapat untuk menentukan lokasi pembacaan teks proklamasi kemerdekaan. Termasuk menentukan tempatnya. Dari beberapa usulan, akhirnya disepakati pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan RI dilaksanakan di rumah Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 Jakarta, yang kini menjadi Tugu Proklamasi.

Tepat pukul 10.00 tanggal 17 Agustus 1945 Masehi, bertepatan dengan tanggal 9 Ramadan 1364 Hijriah, teks Proklamasi Kemerdekaan akhirnya dikumandangkan, menandai terbebasnya rakyat Indonesia dari penjajahan asing selama ratusan tahun.

Dari dua peristiwa yang terjadi pada bulan Ramadan tersebut, yaitu Perang Badar Kubro (17 Ramadan tahun ke-2 Hijriah) dan pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan (9 Ramadan 1364 Hijriah), kita tentu bisa mengambil pelajaran penting. Kedua peristiwa itu mengajarkan dan menginspirasi kita, bahwa Ramadan bukan hanya soal ritual keagamaan. Seperti tadarus Alquran, salat Tarawih, sahur, dan berbuka puasa. Apalagi sekadar beli baju baru, kue Lebaran, dan mempersiapkan diri untuk rekreasi saat libur Lebaran.

Kedua peristiwa itu juga mengajarkan dan menginspirasi kita bahwa Ramadan juga momentum untuk membangkitkan semangat perjuangan. Keberanian membebaskan rakyat dari segala bentuk penjajahan dan penindasan. Membebaskan masyarakat dari ketidakadilan. Membebaskan rakyat dari segala bentuk kezaliman serta membuka sejarah baru atas perjalanan peradaban Islam dan nasib Bangsa Indonesia ke depan.

Memasuki era digital seperti sekarang ini, yang disebut dengan era 4.0, bahkan sebagian menyebut sudah memasuki era 5.0, tentu medan perjuangan sudah berbeda. Musuh kita bukan lagi senapan dan bukan pasukan kuda. Bukan pula bom dan senjata meriam. Tapi, musuh utama saat ini adalah bahaya penyalahgunaan wewenang, narkoba, media sosial, berita hoaks, intoleransi, ideologi transnasional, korupsi, kemiskinan, kebodohan, ketertinggalan informasi dan teknologi.

Semua musuh tersebut tentu tidak bisa ditangkal dengan perisai besi, pedang, atau pun kendaraan tank. Melainkan dengan bekal nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan yang kuat pada diri generasi muda. Para generasi muda saat ini penting untuk mengenal nilai-nilai agama dan budayanya sendiri. Mereka penting mengenal identitas nasional negaranya sendiri, sebelum mengenal identitas nasional negara lain.

Yang terpenting lagi, selama masa belajar dan memahami nilai-nilai agama dan budaya tersebut, mereka tidak salah dalam memilih guru. Sebab, salah memilih guru bisa jadi justru menjerumuskan mereka ke dalam pemahaman yang sesat. Ibnu Sirin, seorang ulama ahli fikih dan perawi hadis dari kalangan tabiin dari Basrah, mengungkapkan pentingnya sanad seorang guru bagi para pencari ilmu agama. Beliau mengatakan, ”Sesungguhnya, ilmu ini agama. Maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama kalian”.

Semoga momentum Ramadan kali ini menjadikan kita sebagai sosok pejuang yang mampu menghadapi zamannya. Penyalahgunaan wewenang jabatan, media sosial, korupsi, narkoba, berita hoaks, intoleransi, ideologi transnasional, kemiskinan, kebodohan harus kita jadikan musuh bersama. Belajar dari peristiwa perang Badar dan pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan, semoga kita mampu menjadikan bulan Ramadan sebagai bulan perjuangan menghadapi musuh-musuh era kini. Semoga! (*)

 

*Ketua PC ISNU Banyuwangi/Dosen Komunikasi Penyiaran Islam IAIDA Blokagung

  Editor : Gerda Sukarno Prayudha
#tulisan #artikel #pendapat #opini