Amalan merupakan bangunan kecil persegi empat, biasanya terdapat di pinggir jalan, terutama di desa-desa serta dilengkapi dengan pengeras suara. Dengan tujuan menggalang dana, mencari dana untuk proyek, atau yang sering terjadi untuk pembangunan masjid.
Dari sini saya menyaksikan pengendara berlalu-lalang melemparkan sejumlah uang. Entah uang kertas atau koin kepada orang-orang di sekitar amalan, dengan maksud bersedekah untuk masjid. Dari situ saya berpikir, betapa pentingnya bersedekah. Betapa perlunya saling menolong antar sesama. Betapa sangat dianjurkan berbuat kebaikan kepada yang lain. Lebih-lebih dengan tetangga sendiri.
Ya, sedekah. Sedekah ialah mengamalkan harta atau materi di jalan Allah secara ikhlas. Dengan tidak mengharap balasan dari apa yang sudah kita perbuat, dan semata karena mengharapkan ridha-Nya. Sedekah juga salah satu amal saleh yang termasuk perintah Allah SWT.
Menurut sumber lain dari buku Fiqh Islam, shodaqah atau sedekah ialah bentuk harta yang dikeluarkan oleh orang-orang di jalan Allah. Seperti halnya memberikan harta kepada fakir miskin tanpa mengharapkan timbal balik, yakni dengan suka rela.
Namun tak jarang ditemukan banyak penghambat-penghambat untuk melakukan kebaikan. Misalnya perihal sedekah ini. Di antaranya: Terlalu cintanya kita terhadap harta sehingga menyebabkan kita seseorang yang bersifat bakhil, naudzubillah himindzalik. Allah SWT telah berfirman dalam QS: Ali Imran : 181 yang artinya, “Sekali-kali janganlah orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka.”
Kemudian, tidak yakin bahwa Allah yang akan membalas amal sedekah kita. Alasan ini cukup mengindikasikan bahwa kita kurang mengimani, bahwa Allah sebagai pemberi dan penetap rezeki serta hati akan merasa sempit karena kurang bersyukur. Orang yang seperti ini beranggapan, dia akan bersedekah jika ia mendapat garansi dan jaminan dari harta yang disedekahkan akan kembali berlipat ganda. Maka orang yang berkarakter seperti ini akan merugi karena telah mengkalkulasikan nikmat Allah.
Selanjutnya, terlalu mementingkan keinginan dan urusan duniawi. Dalam arti, orang dengan alasan ini menganggap sedekah sebagai penghambat cita-cita. Baginya, tolok ukur kesuksesan dan kebahagiaan ditinjau dari melimpahnya harta dan kemewahan. Memberikan sedekah pada yang lainnya menjadi suatu hal yang merugikan baginya karena membuang-buang harta yang ia dapatkan dengan jerih payahnya. “Kok seenaknya dikasihkan orang lain,” batinnya.
Penghambat selanjutnya, merasa lebih beruntung jika harta dipakai untuk menabung/ berinvestasi. Mungkin alasan ini hampir ada di setiap benak kita, dengan tendensi, hemat pangkal kaya. Pemikiran seperti ini adalah karakter yang barmain-main hitungan dengan Allah. Hidupnya ialah tentang matematika berpikir manusia. Ia lupa, bahwa Allah ialah zat yang tidak tertandingi. Padahal Allah sendiri berjanji dalam Alquran bahwa Allah pemberi balasan terbaik dari amalan sedekah, infak, zakat, dan wakaf yang bersifat menyuburkan dan memberi keberkahan.
Alasan terakhir lain dari penghambat sedekah ialah, khawatir sedekah tidak diberikan kepada yang seharusnya. Hal ini menimbulkan benak saya berteriak ”sedekah kok pilih-pilih”. Karena apa ya? Alasan ini merupakan alasan klasik dari enggannya seseorang bersedekah. Padahal cukup mengeluarkannya saja dengan niat semata-mata agar Allah ridha dan mencintai kita, maka kita akan mendapat pahala sedekah tersebut. Insyaallah.
Jika kita ragu harta yang disedekahkan tidak sampai pada penerimanya, maka alangkah baiknya kita memilih lembaga sedekah yang dipercaya. Sebab tidak semua benih akan tumbuh. Tidak semua amal sedekah akan mulus jalannya di mata Allah. Jika tidak konsisten, komitmen, dan diserahkan pada lembaga profesional yang berkapasitas mengurusinya.
Terakhir, alasan yang sering kentara yakni bersedekah menjadi omongan tetangga. Diakui atau tidak. Namanya kehidupan ada saja yang tidak suka, setiap perbuatannya ada yang menyaksikan, ada yang menilai. Padahal perbuatan baik yang dilakukan, apalagi yang bertolak belakang, habis sudah.
Dari apa paparan di atas, perlu digarisbawahi bahwa untuk bersedekah tidak harus mengeluarkan uang yang banyak. Tidak semata memberi uang 20 juta, baru bisa dikategorikan sedekah, salah kaprah! Dimulai dari bawah dulu, seperti konsep memanjat tangga. Tidak mungkin langsung dari atas pasti dari bawah dulu.
Kembali pada amalan di atas. Kebanyakan para pengendara yang bersedekah memberi uang “icrik-icrik”. Melihat hal itu bahwa sedekah tidak harus banyak, “sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit.” Tidak usah merasa gengsi jika sedekah sedikit. Toh, sedekah itu perbuatan baik. Hitung-hitung untuk melatih kita agar lebih sadar akan pentingnya berbagi. Melatih kita banyak di luar sana yang membutuhkan uluran tangan kita.
Mengingat harta yang kita miliki semata hanya milik Allah, kita hanya sebuah perantara. Sebesar apa pun harta yang kita miliki, jika Allah menghendaki dalam seketika hilang, seketika habis. Kita bisa apa?
Dengan bersedekah, menjadikan kita lebih mensyukuri nikmat yang Allah berikan kepada kita. Lebih menghargai dan menyadari adanya Allah membuat mulut pasti Allah akan menciptakan juga apa yang diperlukan oleh mulut. Maka dari itu, tidak usah khawatir sedekah yang kita berikan tidak diganti oleh Allah. Perlu diingat, untuk sedekah bukan semata berupa uang. Bisa sedekah berupa tenaga, pikiran, senyuman, atau yang lainnya. Allah akan membalas perbuatan hambanya dengan setimpal. Jangan khawatir!
Gimana, masih takut untuk bersedekah? Semoga kita termasuk dalam jajaran hamba yang dicintai Allah karena bersedekah. Pun hati kita tetap terjaga keimanannya sebab menunaikan amal sedekah yang sejatinya ialah sebagai tanda bukti keimanannya pada Allah, Rasul-Nya, ketetapan Allah, dan hari Akhir. (*)
*) Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia, Institut Agama Islam Darussalam, Blokagung, Banyuwangi. Editor : Ali Sodiqin