JARAK bumi dengan matahari adalah 150 juta kilometer. Kalau dilewati cahaya maka dibutuhkan waktu 8 menit. Jadi, sinar mentari yang sampai ke mata kita itu bukanlah sinar matahari yang sekarang melainkan sinar matahari dari 8 menit yang lalu. Cahaya matahari butuh 8 menit untuk sampai ke mata kita.
Sementara bintang (Alpha Century) berjarak 4 tahun perjalanan cahaya untuk sampai di Bumi. Sehingga cahaya bintang kembar yang terlihat kala malam sebetulnya bukanlah cahaya bintang kembar saat ini, melainkan cahaya dari 4 tahun yang lalu. Ada juga bintang yang berjarak 10 tahun perjalanan cahaya. Bayangkan kalau kita mau menuju bintang berjarak 10 tahun cahaya menggunakan pesawat tercepat yang dimiliki manusia, yang kecepatannya 20.000 Kilometer per jam, maka kita butuh waktu 500 tahun untuk sampai ke bintang tersebut.
Matahari berukuran 1,2 juta kali lebih besar dari bumi dan matahari bukanlah bintang terbesar di alam semesta. Selain matahari ada bintang berjarak 10 tahun cahaya, lebih jauh dari itu ada bintang yang berjarak 100 tahun cahaya, 1000, 1 juta, 1 miliar tahun cahaya bahkan ilmuwan Jepang berhasil menemukan bintang dengan jarak 10 miliar tahun cahaya. Jadi, bumi kita ini hanyalah seperti debu di padang pasir alam semesta. Jika manusia sebagai debu di bumi, maka bumi adalah debunya tata surya, tata surya debunya galaksi Bimasakti, galaksi Bimasakti debunya supercluster, supercluster debunya langit pertama secara Astronomi. Padahal dalam al-Quran dijelaskan langit itu ada tujuh, dan yang dipenuhi bintang-bintangnya untuk menghiasi langit dunia adalah langit pertama (Q.S. ash-Shâffât: 6). Padahal kita tahu sendiri bahwa tidak akan cukup usia kita untuk menjelajahi seluruh isi alam semesta ini karena sudah sedemikian besarnya langit pertama.
Jika kita lanjutkan penjelasan ini maka ternyata langit pertama adalah debunya langit kedua, karena besarnya langit kedua berkali lipat tak berhingga jika dibanding dengan langit pertama, dan langit kedua adalah debunya langit ketiga, dan langit ketiga adalah debunya langit ke empat dan seterusnya hingga langit yang ketujuh yang memiliki perbandingan yang tak berhingga karena setiap kali naik ke langit berikutnya, langit di atasnya selalu tak berhingga kali besarnya dibandingkan langit sebelumnya, dan dari sini Nampak betapa besarnya alam ciptaan Allah ini dan karenanya setiap salat layak kita menyebut Allah Maha Besar dalam lafad Allahu Akbar. Beginilah cara Allah menggiring pemahaman kita tentang makna Allahu Akbar.
Bayangkan, betapa tidak mampunya manusia dalam menggapai kebesaran perjalanan ke tujuh langit ini namun Rasulullah melalui Isra’ Mikraj diberikan mukjizat oleh Allah untuk mampu melakukan perjalanan dari langit pertama hingga langit ketujuh. Di mana langit ketujuh ini? Jika kita menganggap langit ketujuh di atasnya langit pertama maka kita harus menjelajah keluar angkasa di langit pertama untuk berhasil sampai di langit ketujuh. Namun, dari bumi untuk menuju bintang Alpha Century butuh 4 tahun cahaya, dan meski sudah menempuh 10 miliar tahun kita masih berada di wilayah langit pertama.
Jadi sangat mustahil bagi Rasulullah melewati ruang angkasa. Bahkan penjelasan langit ketujuh di atas langit pertama hingga langit keenam bertentangan dengan ayat yang menyebutkan Allah itu dekat, karena Allah itu bersemayam di Arsy dan Arsy itu berada di atas langit ketujuh. Kalau begitu, berarti Allah itu jauh sekali. Padahal di dalam al-Quran digambarkan bahwa Allah itu dekat, dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hati kita, dan Allah lebih dekat kepada kita daripada urat leher kita sendiri (Q.S. Qâf: 16). maka penjelasan yang logis adalah langit ketujuh tidak di atas langit pertama tapi berada di sini, di langit pertama namun dalam dimensi lain yang lebih tinggi.
Penjelasan ini sesuai dengan pernyataan: kepunyaan Allah-lah timur dan barat, sehingga kita menghadap ke mana saja maka kita menghadap ke Allah karena Allah sedang meliputi kita (Q.S. al-Baqarah [2]: 115). Sehingga untuk bertemu Allah, tidak diperlukan perjalanan ke Sidratul Muntaha. Dan memang tujuan utama Rasulullah ke Sidratul Muntaha bukanlah untuk menemui Allah, karena Allah sudah meliputi Rasulullah, juga meliputi kita semua di mana pun kita berada. Perjalanan Isra’ dan Mikraj lebih bertujuan untuk menunjukkan tanda-tanda kebesaran Allah (Q.S. Al-Isrâ’:1).
Di dekat Sidratul Muntaha, Rasulullah menyaksikan surga. Ketika itu Sidratul Muntaha diliputi sesuatu yang membuat pandangan beliau tidak bisa dipalingkan dan tidak bisa melampaui. Sungguh beliau menyaksikan tanda-tanda dan ciptaan Allah yang luar biasa hebatnya itu (Q.S. An-Najm: 18).
Isra’ Mikraj membawa Rasulullah ke satu posisi yang paling tinggi untuk memahami betapa hebatnya ciptaan-Nya dan betapa besarnya Allah. Hal ini dilakukan untuk memotivasi Rasulullah karena sebelum Isra’ Mikraj, Rasulullah sedang berada pada titik terendah perjuangannya. Di mana penduduk Tha’if melempari Beliau dengan batu sampai berdarah-darah, dilanjutkan dengan dikurung oleh orang kafir, diembargo secara ekonomi, Allah juga mewafatkan paman Rasulullah (Abi Thalib), mewafatkan istri Rasulullah (Khadijah) dan ini bukanlah ketidak-sengajaaan, melainkan disengaja oleh Allah, karena memang tak ada yang kebetulan di dalam kehidupan ini. Setahun kemudian setelah peristiwa Isra’ Mikraj terjadilah titik balik perjuangannya, yaitu beliau bersama pengikutnya hijrah ke Madinah, kemudian dari Madinah bisa menaklukkan kota Makkah.
Tujuh langit merupakan ciptaan Allah yang luar biasa yang begitu tingginya ciptaan itu informasinya diabadikan dalam peristiwa Isra’ Mikraj, Allah beritahu kepada Rasulullah justru ketika dia berada di titik terendah kehidupannya saat itu. Seolah ingin mengatakan pada umatnya bahwa sejauh apa pun kita jatuh, sebanyak apa pun permasalahan yang kita alami.
Kita harus ingat, bahwa Allah Maha Besar yang akan selalu dapat mengangkat derajat kita setinggi apa pun yang dikehendaki. Semoga tulisan ini dapat menjadi pengingat kita setiap kali kita merayakan Isra’ Mikraj. Mudah-mudahan Allah memberikan barokah dan rahmat-Nya untuk kita semua. (*)
*) Guru Fisika MAN 1 Banyuwangi.
Editor : Ali Sodiqin