RADARBANYUWANGI.ID - Waktu terus bergulir, dari menit ke menit, dari jam ke jam, dari hari ke hari, serta dari minggu ke minggu. Rasanya baru kemarin kita begitu bersemangat mempersiapkan diri untuk memasuki bulan Ramadan. Namun beberapa saat lagi, Ramadan akan meninggalkan kita. Padahal kita belum optimal melaksanakan qiyamul lail, belum optimal membaca Al-Quran, serta belum optimal melaksanakan ibadah-ibadah lain, dan juga target - target yang kita pasang belum semuanya terlaksana. Ramadan memang bulan yang penuh sesuatu. Rasanya seakan tidak rela jika Ramadan akan berakhir.
Ramadan selalu punya hal yang pasti selalu dirindukan. Mulai dari kegiatan dini hari saat sahur, petang hari saat buka puasa, dan malam hari saat shalat Tarawih dan Tadarus Al Qur’an. Rutinitas yang terjadi selama Ramadan terkadang menjadi kisah menarik tersendiri yang hanya dan selalu terjadi saat Ramadan tiba. Karena adanya ciri khas dari Ramadan tersebut tidak sedikit orang sangat menanti kedatangan Ramadan, serta enggan untuk melepaskan serta membiarkan Ramadan berlalu. Juga kita tidak akan pernah tahu apakah kita masih dapat berjumpa lagi dengan bulan Ramadan tahun depan (semoga ).
Ada pertemuan juga ada perpisahan, setelah satu bulan lamanya kita beribadah di bulan suci Ramadan, sesaat lagi kita akan dipertemukan dengan hari raya Idhul Fitri, hari raya Idul Fitri adalah hari untuk sampai pada kemenangan. Hari dimana segala macam urusan yang berkaitan dengan puasa sudah selesai. Puasa Ramadan sudah meninggalkan kita, tentu kita bersedih. Berharap tahun depan bisa berjumpa lagi dengan suasana yang berbeda, penuh semangat dan lebih berkualitas. Dan ini seharusnya menjadi evaluasi pertama dan yang utama dalam menjalani puasa tahun ini. Sehingga proses dalam meraih keberkahan dan nilai baik puasa akan bisa dicapai semaksimal mungkin.
Dalam menyambut hari raya Idhul Fitri yang tinggal beberapa hari lagi, umat Islam tentu sangat gembira dan senang sekali, menyambut hari kemenangan, yang sebelumnya sudah menjalani ibadah puasa satu bulan penuh dengan perjuangan bukan dengan penderitaan, penuh dengan keikhlasan bukan dengan keserakahan, penuh dengan perdamaian bukan dengan perseteruan, penuh dengan persatuan bukan dengan pertikaian. Sikap optimis harus terus menjadi landasan fundamental dalam menjalani rutinitas apapun. Puasa satu bulan mengajarkan kita untuk tidak bersikap pesimis, skeptis, malas-malasan dan ugal-ugalan. Umat Islam harus memiliki orientasi berkemajuan yang mampu melahirkan produk - produk unggulan dalam membentengi diri dari gerogotan paham - paham radikalisme dan kapitalisme.
Menjaga kesucian Ramadan tidak hanya pada waktu bulan itu saja, Ramadan seharusnya menjadi sarana perbaikan sistem hidup di bulan-bulan lainnya. Umat Islam diharapkan akan menempati barisan garda terdepan dalam menopang segala macam keresahan yang terus mengalir saat ini, seperti adanya fitnah, informasi hoak, dan ujaran kebencian. Fenomena ini sangat riskan, lebih-lebih di era kemajuan teknologi seperti saat ini.
Ujaran kebencian, fitnah, hoak, terus mengalir tanpa mengenal waktu. Walaupun sudah banyak himbauan mengenai masalah tersebut, tapi tidak semuanya bisa berhasil. Ini memang sesuatu yang perlu di jihad-ti dengan sungguh-sungguh. Semoga setelah Ramadan ini kita semua bisa introspeksi diri bahwasannya segala macam perbuatan fitnah, kebencian, dan informasi hoak itu sangat dibenci Allah.
Sekali lagi, selamat Jalan Ramadan, bulan yang istimewa bagi semua umat muslim dunia. Dan harus diyakini bulan Ramadan merupakan ajang bagi kita semua untuk mencari cinta Allah. Cinta yang tak pernah membuat kecewa manusia walau kita sering mengecewakan-Nya. Selamat tinggal Ramadan izinkan saya, kami, dan seluruh pembaca semuanya untuk berjumpa lagi denganmu di tahun depan.
Selamat Hari Raya Idhul Fitri 1447 H, Minal Aizin Walfaizin , Mohon Maaf lahir Batin. (*)
Editor : Ali Sodiqin