Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Tips Menghadapi Fenomena Bediding

Ali Sodiqin • Senin, 29 Juli 2024 - 15:42 WIB
Oleh: AGUS DANI TRISWANTO*
Oleh: AGUS DANI TRISWANTO*

SIANG hari cuaca panas, terik matahari bersinar seperti biasanya: menyengat kulit. Namun, berbeda saat malam hari, terlebih menjelang pagi, suhu terasa dingin, bisa membuat tidur semakin pulas. Selimut tebal yang digunakan menyelimuti tubuh seolah tidak mempan melawan suhu dingin yang tidak biasa.

Ya, akhir-akhir ini cuaca di siang hari terasa panas menyengat, namun saat malam hari khususnya tengah malam hingga pagi hari suhu terasa lebih dingin dibandingkan normalnya. Fenomena seperti itu dikenal sebagai bediding.

Istilah bediding diambil dari Bahasa Jawa. Kata itu digunakan untuk mendenifisikan perbedaan suhu mencolok yang umum terjadi di awal hingga puncak musim kemarau. Terlebih juga, fenomena bediding ini berlaku di Pulau Jawa.

Fenomena bediding yang terjadi saat ini merupakan fenomena yang biasa terjadi di bulan-bulan tertentu saja. Fenomena ini biasanya muncul sekitar tiga hingga empat bulan. Mulai dari bulan Juni hingga bulan Agustus.

Pakar iklim dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Emilya Nurjani mengatakan, fenomena bediding menandai masuknya musim kemarau. Fenomena semacam ini sebagai fenomena alam iklim yang biasa terjadi pada saat musim kemarau. Terutama untuk wilayah yang mempunyai pola hujan monsunal yaitu wilayah yang puncak hujannya sekitar bulan Desember hingga Februari, dan mengalami musim kemarau sekitar bulan Agustus sampai September.

Emilya juga menjelaskan, fenomena bediding ini terjadi di musim kemarau, pada saat kondisi langit cerah tanpa awan atau tanpa sedikit awan. Akibatnya, radiasi matahari yang diterima bumi besar. Sehingga suhu di siang hari meningkat. Kondisi langit cerah ini juga menyebabkan pelepasan radiasi bumi pada malam hari juga menjadi lebih besar dan banyak. Karena tidak ada awan yang menghalangi. Kondisi seperti itu menyebabkan suhu berkurang karena pelepasan panas atau hilangnya panas akibat pelepasan radiasi bumi. Sehingga pada malam hingga pagi hari, suhu menjadi lebih dingin.

Terjadinya perbedaan suhu akibat dari fenomena bediding seperti saat ini juga dapat mengganggu kesehatan. Pergantian suhu yang di mana pada siang hari terasa panas dan di malam hari terasa dingin. Ini dapat menyebabkan turunnya imunitas pada tubuh. Maka tidak salah, bila beberapa hari ini banyak orang terkena flu, gangguan pernapasan, hingga muntaber.

Fenomena bediding tidak bisa kita hindari, siklus ini merupakan siklus musiman yang tiap tahun melanda. Hanya diri kita yang harus bisa menghadapi fenomena bediding.

Ada beberapa tips yang bisa dilakukan untuk menghadapi fenomena bediding yang saat ini melanda. Misalnya, menjaga asupan pola makan yang baik dan benar, jangan sembrono dalam mengonsumsi makanan dan minuman. Mengonsumsi buah-buahan yang banyak mengandung air, mengonsumsi vitamin, dan memperbanyak mengonsumsi air putih. Hal tersebut bertujuan untuk menjaga cairan dalam tubuh.

 Saat beraktivitas di luar rumah di siang hari, gunakan pelindung tubuh seperti jaket. Saat malam hari, gunakan pakaian yang dapat menjaga suhu tubuh tetap hangat. Karena saat malam hari hingga pagi hari, suhu dingin yang tidak seperti biasanya akan melanda.

Mereka yang biasa begadang di malam hari, sebaiknya dihentikan. Karena tidur yang cukup sangat penting untuk menjaga kesehatan tubuh di saat fenomena bediding melanda. Terakhir, menjaga kebersihan dan kenyamanan lingkungan sekitar dapat membantu mengurangi risiko penyakit yang mungkin timbul akibat perubahan suhu ekstrem, seperti fenomena bediding saat ini. Salam Sehat! (*)

*) Pegiat di Forum Belajar Membaca, Menulis, dan Berhitung (FBM2B) Banyuwangi.

Editor : Ali Sodiqin
#cuaca #suhu #panas #bediding #dingin #musim