Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kesuwun Banyuwangi

Gareta Yoga Eka Wardani • Jumat, 28 Juni 2024 | 13:00 WIB

PURNATUGAS: Rektor Untag Banyuwangi Periode 2020–2024 Drs Andang Subaharianto MHum menyerahkan memori akhir jabatan kepada Ketua Perpenas Sugihartoyo SH MH. 
PURNATUGAS: Rektor Untag Banyuwangi Periode 2020–2024 Drs Andang Subaharianto MHum menyerahkan memori akhir jabatan kepada Ketua Perpenas Sugihartoyo SH MH. 
Sepekan lalu, tepatnya 19 Juni 2024, saya mengakhiri jabatan di Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi sebagai rektor. Tentu saja banyak kenangan saat menjalankan amanah tersebut sejak 2016. Saya banyak belajar tentang kehidupan dari perspektif rujak soto dan pecel rawon Banyuwangi.

Saya beruntung. Di saat memulai tugas jabatan pada 2016 , Banyuwangi sedang menggeliat. Saya turut menjadi saksi atas geliat mereka. Saya membacanya. Saya menemukan perspektif rujak soto dan pecel rawon di sana.

Rujak soto dan pecel rawon adalah makanan khas Banyuwangi. Saya sebut khas, karena hanya di Banyuwangi jenis makanan itu dapat ditemukan dengan mudah dan disukai masyarakatnya. Sekaligus ikonik buat Banyuwangi. Menggenapi gandrung, pecel pitik, sego cawuk.

Unsur-unsurnya tak asing bagi masyarakat Indonesia. Rujak dan soto sudah sangat dikenal. Pecel dan rawon pun demikian. Tapi, yang khas, unsur-unsur makanan (rujak dan soto maupun pecel dan rawon) dicampur dan dinikmati secara bersama. Rasanya berubah dari unsur pembentuknya. Rujak soto dan pecel rawon menghadirkan cita rasa baru yang khas.

Saya melihat, ada harmoni di antara unsur-unsurnya. Tentu saja tak mudah mencari titik harmoni unsur-unsur itu. Mirip dengan sepak bola. Kesebelasan yang hebat bukan kumpulan individu hebat, melainkan kerjasama tim yang hebat. Ada kecocokan dan kepercayaan untuk menghasilkan hal baru yang hebat.

Begitulah pelajaran penting dan bernilai buat saya dari perspektif rujak soto dan pecel rawon Banyuwangi. Dan, ternyata itulah karakter Banyuwangi yang saya temukan. Banyuwangi sangat eksploratif dan ekspresif terhadap upaya menemukan harmoni dalam berkreasi, sekaligus peneguhan identitas. Sifat eksploratif dan ekspresif itu sangat terasa di berbagai bidang kehidupan.

Di seni, misalnya, ada Mbok Temu. Maestro gandrung dari Kemiren itu pernah melantunkan “Pethetan” secara kolaboratif dengan Syaharani, pelantun jazz terkenal, di panggung Banyuwangi Beach Jazz Festival (2013). Meski bisa dibilang tak lagi muda, suara Mbok Temu masih melengking panjang. Kelincahan kaki dan tangannya bersama dengan lengkingan suaranya masih menakjubkan. Di depan sekitar 2.000 penonton, Syaharani bertutur, "Lagu ini sebenarnya lagu sedih, tapi kami mengaransemen bersama pemusik etnik lokal dengan irama yang agak nge-dance" (Kompas.com, 24/11/2013).

Apresiasi juga diberikan oleh Profesor Philip Yampolsky, etnomusikolog dari Illinois University (AS) yang juga cicit dari antropolog besar awal abad ke-19, Franz Boas. Saat menjadi narasumber acara Gesah Bareng bertema “Menghidupi Tradisi, Memperkuat Jati Diri” di Untag Banyuwangi, 11 Oktober 2017, etnomusikolog yang pernah merekam Mbok Temu saat muda itu menilai bahwa Mbok Temu nyaris tak berubah.

Saya menduga, sejarah Banyuwangi  membentuk karakter yang eksploratif dan ekspresif seperti itu. Masa lalu Banyuwangi menorehkan jejak heroisme pada satu sisi, sekaligus kepedihan yang mendalam pada sisi lain.

Banyuwangi terbentuk dari reruntuhan perang Puputan Bayu (1771 – 1773) antara Kerajaan Blambangan dan penguasa Belanda (VOC). Ahli sejarah melihat Puputan Bayu merupakan peperangan paling menegangkan, paling kejam, dan paling banyak memakan korban dari semua peperangan yang pernah dilakukan VOC.

Seniman Andang Chotif Yusuf yang akrab disapa Mbah Andang melukiskan prespektif masa lalu Banyuwangi dengan sangat menarik dalam syair “Umbul-Umbul Belambangan”.

Belambangan he seneng susahe wistah aja takon

Wis pirang-pirang jaman turun temurun yong wes kelakon

Akeh prahara taping langit ira magih biru yara

Magih gedhe magih lampeg umbak umbak segara ira 

Ada semangat eksploratif dan ekspresif yang sangat kuat untuk menemukan harmoni, sekaligus peneguhan identitas. Masyarakat Banyuwangi bukan hanya menghadirkan dan menafsir ulang tokoh masa lalu sebagai cara memantapkan identitas. Mereka juga memproduksi wacana tanding untuk membalik narasi ketokohan Menak Jinggo, yang digambarkan negatif oleh masyarakat Jawa-Mataraman.

Dalam catatan saya, Banyuwangi juga berjuang menunjukkan identitas melalui kebahasaan. Mereka berjuang agar bahasa Using diakui sebagai bahasa daerah di Jawa Timur (selain bahasa Jawa dan Madura), lalu diajarkan sebagai muatan lokal di sekolah.

Karakter eksploratif dan ekspresif itu menjadi modal sosial-kultural yang kuat di Banyuwangi. Rupanya karakter tersebut dibaca dengan cerdas oleh Abdullah Azwar Anas sebagai bupati Banyuwangi selama dua periode sejak 2010. Anas yang kini Menteri PAN-RB dengan piawai memadukan potensi kultur dan natur Banyuwangi. Diikhtiarkan titik temu yang harmonis antara modal sosial-kultural dan alam yang eksotik.

Jadilah Festival Banyuwangi (B-Fest) dengan puluhan jenis festival yang meracik sumberdaya lokal, nasional, bahkan internasional. B-Fest akhirnya menjadi lokomotif pembangunan Banyuwangi (industri wisata) hingga dewasa ini.  

Banyuwangi berhasil disulap dari “kota santet” yang berkonotasi negatif menjadi “kota wisata”. Menggenapi Jogjakarta, Denpasar, Mataram, Batu/Malang, dan kota-kota lain yang sudah dikenal lebih dulu. Lalu, muncullah slogan “Majestic Banyuwangi”.

Perubahan positif tersebut menjadikan Banyuwangi sebagai referensi daerah lain. Banyak kepala daerah belajar ke Banyuwangi. Presiden, pejabat tinggi, para pesohor di tanah air juga sering berkunjung ke Banyuwangi.

Banyuwangi lalu juga panen penghargaan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Di antara penghargaan yang diperoleh itu saya paling terkesan “Aga Khan Award for Architecture”.

Penghargaan itu diberikan kepada  Bandara Internasional Banyuwangi, yang arsitektur dan ornamennya terinspirasi unsur budaya Using Banyuwangi. Dirancang dengan konsep “green building”. Atap didesain dengan memadukan antara arsitektur lokal dan modern. Tetap sejuk meski tanpa pendingin ruang.

Aga Khan Award for Architecture untuk Bandara Internasional Banyuwangi sekaligus menandai bahwa lokalitas dapat menjadi sumber inspirasi yang kaya warna, unik, dan berkelas. Hal itu menandai pula, hidup di zaman global bukan berarti meninggalkan yang lokal. Justru yang lokal akan memperkaya dan menguatkan jatidiri di tengah kebudayaan global. Nyatanya, yang lokal bisa berkelas dunia juga.

Namun, Banyuwangi, sebagaimana dunia pada umumnya, harus meradang akibat Covid-19. Industri wisata babak belur. Tapi, meski meradang akibat Covid-19, tak membuat karakter berubah. Banyuwangi yang eksploratif dan ekspresif tetap menjadi identitas dan modal sosial-kultural yang kuat.

Kini, Banyuwangi, seperti juga sebagian daerah lain di Indonesia, memasuki persiapan pemilu kepala daerah. Pemimpin boleh berganti-ganti, tapi  perspektif rujak soto dan pecel rawon tak akan pergi. Banyuwangi akan tetap eksploratif dan ekspresif. Tinggal bagaimana pemimpin mengelolanya agar produktif dan bermanfaat. Demi Banyuwangi seperti yang ditulis Mbah Andang:

 

Ngadega jejeg … ngadega jejeg
Umbul-umbul Belambangan
Ngadega jejeg adil lan makmur

 

Saya pun pamit, kesuwun Banyuwangi.

 

 

 

 

Editor : Niklaas Andries
#bandara banyuwangi #Rujak Soto #Pecel Rawon #kemiren #jazz #banyuwangi #gandrung #Maestro #untag banyuwangi