ADA yang menarik di pesta demokrasi tahun 2024 ini. Pemilihan kepala daerah dilakukan secara serentak, istilah singkatnya Pilkada Serentak.
Tak dipungkiri, keterlibatan masyarakat dalam memilih serta menentukan kepala daerahnya, merupakan indikator keberhasilan pemilu kepala daerah.
Generasi muda yang mencapai batas usia 17 tahun ke atas, terdaftar sebagai pemilih, memiliki peran penting dalam menyokong keberhasilan Pemilu di tahun 2024.
Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pemilu 2024 sebesar 204.807.222 orang.
Generasi milenial sebanyak 66.822.389 orang atau 33,60 persen. Sedangkan pemilih generasi Z sebanyak 46.800.161 orang atau 22,85 persen.
Jika diakumulasi, total pemilih kelompok generasi milenial dan generasi Z berjumlah lebih dari 113 juta orang.
Kedua generasi ini mendominasi pemilih Pemilu 2024, yakni sebanyak 56,45 persen.
Karena banyaknya pemilih dari generasi muda, sehingga banyak dari kontestan Pemilu, khususnya pilkada nanti yang memperebutkan suara dari generasi muda, bahkan tidak menutup kemungkinan calon yang bertarung juga dari generasi muda.
Keterlibatan generasi muda dalam pemilu juga diharapkan untuk meminimalkan hal-hal negatif.
Seperti hoaks dan juga propaganda di media sosial, yang berdampak buruk bagi pesta demokrasi 2024.
Ini karena generasi sering digembar-gemborkan sebagai generasi melek teknologi, kritis dalam berpikir, dan inovatif.
Generasi muda mudah berbaur dengan semua kalangan, tidak memberi sekat kepada dirinya, berani berbicara dan berani berbuat.
Sehingga, generasi muda dianggap sebagai pemilih yang jujur, adil, dan pemilih yang bersih.
Keterlibatan kaum muda dalam proses politik adalah penting untuk mendorong partisipasi kaum muda dalam hiruk pikuk politik dan membantu membentuk arah politik dan kebijakan yang lebih inklusif dan representatif.
Kaum muda membawa perspektif segar, energi, dan pemikiran kreatif yang dapat memberikan kontribusi positif bagi partai dan masyarakat.
Karena itu, penting untuk memeriksa rekam jejak calon pemimpin, termasuk kredibilitas, integritas, dan kejujuran dalam menjalankan tanggung jawab sebelumnya.
Selalu memastikan calon pemimpin memiliki pemahaman yang baik tentang isu-isu yang dihadapi oleh kaum muda.
Seperti pendidikan, lapangan kerja, kesehatan mental, dan kesempatan partisipasi politik.
Sehingga suara generasi muda sangat penting dalam pemilihan kepala daerah. Karena mereka adalah kelompok yang paling banyak terpengaruh oleh kebijakan pemerintah.
Selain itu, generasi muda juga memiliki pandangan yang berbeda tentang isu-isu penting yang berkembang.
Terlebih latar belakang visi–misi untuk masa depan pembangunan daerah.
Pemimpin yang memiliki jiwa keteladanan, serta memberikan citra baru dan tulus kepada rakyatnya.
Oleh karena itu, sangat penting bagi generasi muda untuk menggunakan hak suara mereka dan memastikan bahwa suara mereka didengar dalam pemilu.
Pemilukada akan dilaksanakan November 2024. Sudah mulai bermunculan jagoan yang menawarkan program kepada masyarakat.
Baik yang sudah mantab untuk maju maupun yang malu-malu kucing.
Hal ini pula terjadi di Banyuwangi. Tahun 2024 adalah tahun terakhir duet Bupati Ipuk Fiestiandani– Wakil Bupati Sugirah.
Jika melihat peta di lapangan, Ipuk Fiestiandani bisa maju kembali untuk kedua kali.
Baik berpasangan kembali dengan Sugirah, maupun berjalan sendiri-sendiri.
Selain Ipuk, juga bermunculan tokoh-tokoh hebat yang bersiap maju dalam Pilkada Banyuwangi 2024.
Beberapa nama yang santer dikabarkan meramaikan kontestasi lima tahunan itu di antaranya Sumail Abdullah Politisi Gerindra, Ruliyono ketua DPD Golkar Banyuwangi, Michael Edy Hariyanto Ketua DPC Partai Demokrat, Gus Munib politisi PKB, dan Made Cahyana Negara Ketua DPC PDIP Banyuwangi, termasuk juga mantan Bupati Ratna Ani Lestari, dan KH Ali Makki Zaini (Gus Maki).
Selain kalangan politisi, muncul juga nama tokoh birokrasi seperti Sekda Mujiono, Kadis PU Pengairan Guntur Priambodo.
Bahkan, ada juga yang sudah deklarasi beberapa waktu lalu, Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Arsip, Ali Ruchi.
Sedangkan nama dari kelompok pengusaha ada pengusaha pertanian Sunarko, dan mantan ketua HIPMI Banyuwangi, Dede Abdul Ghani.
Belum lagi dimungkinkan kuda hitam lainnya. Mengingat warga Banyuwangi banyak yang memiliki kemampuan di luar daerah untuk membangun daerahnya menjadi semakin baik.
Dengan banyaknya calon yang masuk bursa, siapa pun bisa melihat rekam jejak dan track record para calon pemimpin daerah khususnya generasi muda selaku mayoritas pemilih.
Hal ini tentu menjadi bahan pertimbangan untuk dapat memilih calon pemimpin daerah yang dapat mewakili dan memajukan kepentingan rakyat, dengan baik dan efektif.
Semoga Pilkada Banyuwangi 2024 mampu menghasilkan pemimpin yang amanah dan merakyat. (*)
*) ASN LAN RI, berasal dari Banyuwangi.
Editor : Ali Sodiqin