MENURUT Wikipedia, toponimi berasal dari bahasa Yunani, topos (tempat) dan onoma (nama). Secara lebih gamblang, toponimi merupakan bidang keilmuan linguistik yang membahas tentang asal-usul penamaan tempat, nama wilayah, nama lokasi alam di permukaan bumi, seperti nama gunung, nama sungai, nama danau, dan sebagainya.
Toponimi yang membahas penamaan tempat buatan manusia seperti nama gedung, nama jalan, nama kota, dan sebagainya.
Nah, untuk nama Banyuwangi berasal dari bahasa Jawa, yakni kata banyu dan wangi. Banyu artinya air. Wangi artinya harum. Artinya tempat di mana airnya sangat harum.
Karena itu, ada legenda terkait toponimi Banyuwangi, dengan lakon Putri Sritanjung, yang memegang teguh kesetiaan pada suami.
Kemudian dalam legenda itu diceritakan, bukti kejujurannya akan memancarkan aroma yang harum pada air sungai (sumur) tersebut.
Sementara itu, masih terkait toponimi di Bumi Blambangan. Kalau kita cermati, ternyata banyak daerah yang punya nama awalan ‘kali’.
Dalam Bahasa Jawa, kali artinya sungai. Sebut saja ada nama Kalipuro, Kalibaru, Kali Setail, Kalimati, Kalibendo, Kalimoro, Kalimati, Kaligung, Kaligondo, Kalirejo, dan masih banyak nama tempat berawalan kali lainnya.
Ini memang tidak lepas dari kekayaan Bumi Blambangan yang memiliki banyak daerah aliran sungai.
Ada puluhan sungai besar dengan sumber daya air yang sangat bagus di Banyuwangi. Coba kita pilah satu per satu, untuk sungai yang besar saja.
Kita cek saja di Wikipedia, ada beberapa sungai besar di Banyuwangi sebagai berikut:
Mulai dari kawasan utara yakni Sungai Bajulmati dengan panjang 20 Kilometer (20 Km). Kemudian ada Sungai Selogiri (6,1 Km), Sungai Ketapang (10,26 Km), Sungai Sukowidi (15,8 Km), Sungai Bendo (15,8 Km), hingga di pusat kota yakni aliran Sungai Sobo (13,8 Km). Selanjutnya ada Sungai Pakis (7 Km), Sungai Tambong (24,3 Km), Sungai Binau (21,2 Km), Sungai Bomo (7,4 Km), Sungai Setail (73,3 Km), sampai Sungai Porolinggo (30,7 Km) di kawasan Kecamatan Genteng. Masih ada lagi Sungai Kalibarumanis (18 Km), Sungai Wagud (14,6 Km), Sungai Karangtambak (25 Km), Sungai Bango (18 Km), Sungai Baru alias Kalibaru dengan panjang 80,7 Km.
Kalau semua daerah aliran sungai itu dijumlahkan, maka panjang aliran sungai besar di Bumi Blambangan mencapai 400 Km. Ini belum termasuk sungai-sungai kecil.
Dengan aliran sungai sepanjang itu, dapat dibayangkan betapa banyak sumber mata air di wilayah Banyuwangi. Betapa kita kaya akan sumber daya air.
Apalagi di zaman dahulu, daerah yang kaya adalah daerah yang tidak kekurangan bahan pangan. Di mana, rakyat bisa menanam tanaman pangan sepanjang tahun.
Inilah gambaran ringkas, betapa banyu (air) yang kita miliki sangat melimpah. Sumber daya banyu yang kita miliki akan membawa pada kita pada kesejahteraan.
Di mana kehidupan masyarakat menjadi ‘harum mewangi’. Itulah perspektif lain, bahwa nama Banyuwangi tak hanya bisa dilihat dari sudut pandang cerita rakyat, legenda Putri Sritanjung.
Tetapi nama Banyuwangi itu karena betapa daerah ini memiliki kekayaan sumber daya air yang luar biasa.
Untuk mengetes kondisi air kita, coba tiru apa yang selalu saya lakukan ketika ada tamu atau teman dari ibukota Jakarta atau ibukota Provinsi Jatim.
Biasanya, saya selalu sempatkan untuk bertanya, apakah sudah merasakan mandi di Banyuwangi? Selanjutnya, bagaimana kondisi air mandi di Banyuwangi?
Hampir seratus persen teman atau tamu dari Jakarta atau Surabaya itu menjawab, air mandi di Banyuwangi itu bersih, bagus, dan rasanya segar.
Ini berlaku untuk air mandi yang bersumber dari PUDAM, maupun air yang berasal dari sumur. Kalau tidak percaya, silakan coba tanyakan pada mereka.
*) GM Radar Banyuwangi
Editor : Ali Sodiqin