KEWAJIBAN pemerintah Indonesia melaksanakan pendidikan sembilan tahun, masih tidak berpengaruh untuk kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran sekolah tidak pernah mengajarkan ilmu penting di kehidupan nyata, yaitu life skills.
Padahal, life skills sangat diperlukan untuk hidup, berkarir, bersosial, dan bagian penting di masyarakat. Salah satu life skills yang harus semua orang miliki adalah literasi keuangan.
Literasi keuangan adalah pengetahuan dan keterampilan masyarakat terkait finance, agar mampu memanajemen dan memanfaatkan keuangan secara maksimal.
Ironisnya, kita masih belum aware terhadap skill yang harus dimiliki untuk kehidupan sehari-hari.
Problem ini dapat terjadi di kalangan anak muda. Karena kebanyakan Gen Z berkeinginan cepat kaya, dengan hal yang instan.
Mulai dari terjerumus investasi bodong, judi online, dan trading, yang semua hanya penipuan semata.
Sebab kita terkecoh dengan influencer yang mempromosikan penipuan ini. Dengan pamer aset dari hasil main slot dan investasi ngaco lainnya.
Faktanya 28 persen remaja Indonesia terlibat judi online. Dengan kerugian keseluruhan total Rp 200 Triliun di Indonesia. Ini bisa terjadi, karena literasi keuangan yang masih sangat rendah di masyarakat, khususnya para Gen Z.
Kejahatan online sering terjadi di Indonesia, karena masyarakat belum memiliki edukasi yang baik terhadap cara mengatur uang.
Bahkan dapat dikatakan, Gen Z susah beli rumah dan menjadi useless class di tengah peradaban ini. Di sisi lain, pengeluaran Gen Z juga dikatakan aneh seperti gift idol, gaya hidup mewah pamer di medsos.
Cuma karena ingin dihargai, healing untuk menghilangkan stress yang justru semua tidak dapat digunakan untuk jangka panjang. Nah, bagaimana cara kita bisa punya skill behavior yang baik untuk mengatur uang?
Pertama, aset tracker. Melakukan cek list balancing personal sesuai dengan income dan pengeluaran. Bagaimana aset yang kita miliki, berapa total utang kita, dan bagaimana cara melunasinya. Harus kita perhitungkan dengan baik, bagaimana dan untuk apa uang kita keluar.
Kedua, manage spending. Memanajemen pengeluaran dengan memprioritaskan hal yang urgen sangatlah penting.
Seperti dana darurat, minimal tiga sampai enam bulan dari total gaji kita untuk keperluan mendesak. Agar kita tidak terjerat pinjol. juga perlu asuransi. Jika terjadi musibah kepada diri atau orang tua kita.
Asuransi dapat membantu meringankan beban tersebut. Persiapan pensiun juga penting. Ketika umur masih muda, kita dapat bekerja keras dan mengambil pekerjaan berisiko tinggi.
Namun ada saatnya, dalam posisi kita sudah tidak mampu bekerja lagi, dan persiapan pensiun harus kita miliki. Agar kita bisa menikmati hidup di masa tua.
Ketiga, investing. Nominal uang tidak pernah berubah, tetapi daya belinya yang setiap tahun turun (inflasi). Untuk mencegah inflasi, bukan hanya dengan cara kita menabung.
Kita juga harus berinvestasi di aset digital (saham, reksadana, kripto) dan aset diri sendiri (skill). Apabila kita masih dalam tahap middle income, investasi digital bukan ide yang bagus. Karena hasil yang kita peroleh sangat minim. Investasi leher ke atas (investasi di otak) harus kita perbanyak, dengan mengasah pengetahuan dan skill.
Caranya ikut kelas online, ikut webinar, dan membeli buku dapat meningkatkan pengetahuan yang kita miliki.
Sehingga pendapatan kita bisa naik dan terus naik, karena skill yang kita miliki. Because your skill reflect your money.
Setelah uang yang dimiliki sudah cukup banyak, kita dapat memutar uang dengan berinvestasi di asset digital.
Bisa dari low risk seperti Reksadana dan obligasi, atau high risk seperti kripto dan saham. Kedua hal ini yang akan memberikan return income yang tinggi.
Literasi keuangan harus diajarkan sejak dini di sekolah maupun di luar sekolah. Agar kita tidak terjerat dari masalah dikejar pinjol, rusaknya hubungan keluarga, bahkan bunuh diri.
Dengan mempunyai skill ini, kita dapat bermanfaat kepada orang lain. Juga dapat membantu sesama, meningkatkan kualitas hidup, serta membahagiakan keluarga dan orang sekitar.
Uang memang bukanlah segalanya, tapi segalanya membutuhkan uang. Sesuai dengan kutipan ulama’ dari Sayyidina Umar bin Khattab “inkana laka malun falakaa syarafun.”
Jika kamu memiliki harta (uang), maka kamu akan memiliki kemuliaan. Karena kefakiran menjerumuskan kita pada kekufuruan. (*)
*) Mahasiswa TI Fakultas Sains & Teknologi Universitas Ibrahimy, Situbondo.
Editor : Ali Sodiqin