Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kenalan Yuk, Suku Oseng Asli Banyuwangi

Ali Sodiqin • Jumat, 13 Oktober 2023 | 20:30 WIB
Oleh: NUR FITRIA FATMAWATI*
Oleh: NUR FITRIA FATMAWATI*

PENDUDUK asli Banyuwangi, suku Oseng. Masyarakatnya hidup pada pemerintahan kerajaan Blambangan.

Suku Oseng juga memiliki adat istiadat budaya, bahasa yang berbeda dari masyarakat Jawa dan Madura. Seperti apa keunikan asli Banyuwangi? yuk baca sampai selesai.

Suku Oseng atau juga ada yang menulisnya ‘Osing’ adalah penduduk asli Banyuwangi atau juga disebut sebagai Laros (akronim daripada Lare Oseng) atau Wong Blambangan.

Mayoritas penduduk tersebar di beberapa kecamatan bagian tengah dan utara Banyuwangi.

Salah satu suku asli Banyuwangi sampai sekarang. Terutama di Kecamatan Banyuwangi, Kecamatan Singojuruh, Kecamatan Rogojampi, Kecamatan Sempu, Kecamatan Glagah, Kecamatan Giri, Kecamatan Kalipuro, dan Kecamatan Songgon.

Suku Oseng atau lebih dikenal dengan Wong Oseng memiliki bahasa khas yakni Bahasa Oseng yang merupakan turunan langsung dari bahasa Jawa kuno, tapi bukan bahasa Jawa karena dialegnya yang berbeda.

Orang Oseng menggunakan Bahasa Oseng yang masih kini ‘’masih diakui‘ termasuk sub dialek Bahasa Jawa (bagian timur) yang masih berkerabat dengan Bahasa Jawa Arekan dan Bahasa Tengger.

Ttetapi banyak kosakata dari bahasa Jawa Kuno yang masih digunakan, selain itu pengaruh Bahasa Bali juga sedikit signifikan.

Keunikan mempertahankan bahasa asli yang mereka miliki yakni Bahasa Oseng yang merupakan pengaruh dari Bahasa Bali dan turunan langsung dari Jawa kuno.

Bahasa asli Suku Oseng ini juga memiliki ciri khas tersendiri dengan lantunan dialek dari Bahasa Jawa hingga dapat menggambarkan jati diri Banyuwangi.

Tradisi yang masih bertahan sampai dengan sekarang hingga memperkaya akan tradisi yang dimiliki Banyuwangi. Tradisi itu disebut puputan yang dimana perang sampai titik darah penghabisan untuk mempertahankan diri dari serangan musuh.

Tradisi ini sempat menyulut peperangan besar hingga menimbulkan korban jiwa yang disebut Puputan Bayu pada 1771 Masehi.

Baca Juga: KPU Situbondo Beri Warning Parpol yang Boleh Pasang APK di Fasilitas Umum

Suku Oseng memang sama seperti Suku Bali maupun Suku Tengger yang memiliki kesenian berbau mistis.

Kesenian itu diantaranya, Patrol, Seblang, Gandrung Banyuwangi, Kuntulan, Kendang Kempul, Janger, Jaranan, Jaran Kincak, Angklung Caruk, Jedong, Tari Barong dan Angklung.

Saat ini, Suku Oseng memiliki sejumlah profesi, meskipun mayoritas Suku Oseng berprofesi sebagai petani. Namun profesi lainnya pun sudah dilakukan seperti menjadi pedagang, guru, nelayan, buruh dan pegawai disejumlah tempat baik swasta maupun instansi pemerintahan.

Dahulu sebelum adanya jalur perdagangan, Suku Oseng ini memiliki kepercayaan Hindu dan Buddha sebagaimana mayoritas kepercayaan pada masa Kerajaan Majapahit.

Namun pada saat Belanda masuk ke Indonesia melalui VOC, Suku Oseng ini banyak yang menganut kepercayaan Islam, karena adanya penyebaran agama Islam di jalur perdagangan utara.

Sejumlah Suku Oseng juga tinggal di desa-desa pertanian subur di bagian tengah dan timur Banyuwangi yang secara administratif meliputi wilayah yang berada di Kecamatan Rogojampi, Kecamatan Blimbingsari, Kecamatan Kabat, Kecamatan Licin, Kecamatan Sempu, Kecamatan Singojuruh, Kecamatan Songgon, Kecamatan Cluring, Kecamatan Srono, Kecamatan Banyuwangi, mereka telah bercampur dengan penduduk non-Oseng, yang terdiri dari migran asal Madura, Jawa Timur bagian barat dan Jawa Tengah, termasuk Yogyakarta.

Orang Oseng menyebut mereka dengan sebutan "Wong Oseng" dengan "Tanah Blambangan".

Sejarah berdirinya kabupaten Banyuwangi tak bisa lepas dari kerajaan Blambangan, karena Blambangan cikal bakal dari Banyuwangi itu sendiri.

Bahkan Blambangan merupakan kerajaan yang paling lama bertahan terhadap serangan kerajaan Mataram dan VOC.

Bukan hanya keindahan alam yang terbentang luas di bumi Blambangan ini, kekayaan budaya juga menjadi ciri khas populer yang dikembangkan oleh masyarakatnya.

Salah satu keunikan Banyuwangi adalah penduduknya yang multi culture yang terbentuk dari tiga elemen masyarakat yaitu Jawa, Madura dan Oseng.

Yang sekarang penduduknya telah tersebar di seluruh Nusantara dan tetap melestarikan adat istiadat suku Oseng. (*)

*) Mahasiswa Prodi Bimbingan dan Konseling, IAI Darussalam, Blokagung, Banyuwangi.

Editor : Ali Sodiqin
#laros #jawa #budaya #majapahit #islam #banyuwangi #suku oseng #bahasa