
RADAR BANYUWANGI - Tak bisa dipungkiri bahwa ada sesuatu yang selalu menarik ketika kita berbicara tentang pesantren dan tradisi yang mengelilinginya. Bukan sekadar ritual tahunan yang dikemas dalam doa bersama, haul sejatinya merupakan potret kecil dari perjalanan panjang sebuah institusi pendidikan Islam yang telah menancapkan akarnya jauh sebelum republik ini berdiri.
Pesantren Sukorejo Situbondo, sebagai salah satu pilar penting pendidikan pesantren di tanah Jawa, kembali menggelar haul yang mempertemukan kiai, santri, alumni, dan masyarakat dalam satu tarikan napas kebersamaan. Tentu, di balik khidmatnya bacaan tahlil dan doa, tersimpan narasi besar tentang bagaimana kitab kuning (warisan intelektual Islam klasik) terus berdialog dengan zaman yang bergerak cepat.
Merawat Ingatan, Menghidupkan Tradisi
Haul bukanlah perayaan kematian. Ia adalah perayaan kehidupan: kehidupan gagasan, nilai, dan keteladanan yang diwariskan oleh seorang ulama kepada generasi setelahnya. Ketika ribuan orang berkumpul di Sukorejo, yang mereka hadiri sesungguhnya bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan sebuah mekanisme budaya untuk merawat ingatan kolektif.
Dalam tradisi pesantren, mengingat bukan berarti terpaku pada masa lalu. Mengingat adalah cara untuk memastikan bahwa api pengetahuan yang pernah dinyalakan para pendahulu tidak padam ditelan arus modernisasi.
Kiai dalam konteks ini memainkan peran yang jauh melampaui figura spiritual. Ia adalah penjaga mata air keilmuan, pengelola lembaga pendidikan, sekaligus perekat sosial yang menyatukan berbagai lapisan masyarakat. Figur kiai di Sukorejo, seperti kiai-kiai lain di Nusantara, berdiri di persimpangan antara tradisi dan perubahan.
Tak berhenti di sini, mereka dituntut untuk setia pada khazanah klasik sekaligus cakap membaca tantangan kontemporer. Itu sebabnya, haul menjadi momen di mana kedua tugas itu dipertemukan secara simbolik: bacaan-bacaan kitab kuning berdampingan dengan diskusi tentang masa depan pendidikan Islam.
Kitab Kuning sebagai Jantung Peradaban
Berbicara tentang pesantren hampir selalu berarti berbicara tentang kitab kuning. Teks-teks klasik berbahasa Arab yang dikaji dengan metode sorogan dan bandongan itu bukan sekadar bahan ajar. Ia adalah fondasi epistemologis yang membentuk cara berpikir, cara berargumen, dan cara bersikap para santri.
Tak heran jika di balik lembaran-lembaran yang sering kali sudah menguning itu, tersimpan metodologi berpikir yang sistematis: bagaimana memahami teks, bagaimana menimbang pendapat, bagaimana menghubungkan norma dengan realitas.
Yang sering luput dari perhatian publik adalah bahwa kitab kuning telah lama menjadi jembatan antara dunia Islam Nusantara dengan pusat-pusat keilmuan dunia. Para kiai yang mengajar di Sukorejo bukan hanya mewarisi teks, tetapi juga jaringan sanad yang menghubungkan mereka dengan tradisi keilmuan yang membentang dari Haramain hingga Kairo.
Dalam haul, rantai keilmuan ini seolah dirayakan kembali: sebuah pengingat bahwa pesantren bukanlah entitas lokal yang terisolasi, melainkan bagian dari ekosistem intelektual global yang telah berusia berabad-abad.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




