
RADAR BANYUWANGI - Capaian swasembada beras merupakan prestasi penting yang harus dijaga. Namun, El Niño sangat kuat yang sedang berlangsung dapat menjadi ujian serius bagi keberlanjutannya. Apabila tidak diantisipasi sejak dini, kekeringan pada 2026 berpotensi mengurangi luas tanam dan menggeser musim panen, sehingga dampak terberatnya justru dirasakan pada 2027.
Pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika pada akhir Agustus 2026 menunjukkan anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 telah mencapai sekitar plus 2,83 derajat Celsius. Indeks ENSO rata-rata tiga bulanan Juni–Agustus berada pada kisaran plus 2,2. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa El Niño telah memasuki kategori sangat kuat.
Organisasi Meteorologi Dunia memperkirakan peluang El Niño bertahan hingga Februari 2027 mendekati 100 persen. Sementara itu, pusat prediksi iklim NOAA memperkirakan peluang lebih dari 90 persen bahwa El Niño sangat kuat berlangsung sepanjang akhir 2026 hingga awal 2027. Ancaman tersebut bukan lagi kemungkinan yang masih jauh. Prosesnya sudah berlangsung sekarang.
Bahaya yang Datang Belakangan
Kesalahan terbesar dalam menghadapi El Niño adalah menunggu sampai sawah mengering, tanaman puso, produksi turun, atau harga beras melonjak. Ketika tanda-tanda tersebut muncul, ruang untuk melakukan koreksi biasanya sudah sangat terbatas.
Dampak El Niño terhadap pangan mempunyai jeda waktu. Kekeringan pada akhir 2026 menurunkan debit sungai, volume waduk, ketersediaan air tanah, dan kelembapan lahan. Petani kemudian menunda persemaian atau tetap menanam tanpa kepastian air. Akibatnya, musim tanam pertama mundur, luas tanam berkurang, dan pertumbuhan tanaman terganggu. Konsekuensinya baru terlihat dalam bentuk penurunan panen pada triwulan pertama dan kedua 2027.
Melemahnya El Niño pada awal 2027 karena itu tidak otomatis memulihkan produksi. Hujan mungkin telah kembali di sebagian daerah, tetapi kalender tanam telanjur bergeser, waduk belum sepenuhnya pulih, dan sebagian petani telah kehilangan modal. Ancaman paling mendasar bukan sekadar gagal panen, melainkan gagal tanam. Apabila petani tidak dapat menanam karena tidak ada kepastian air, produksi pada periode berikutnya hilang sejak awal.
Buruh tani kehilangan kesempatan kerja, pendapatan perdesaan menurun, dan kemampuan petani membiayai musim tanam berikutnya semakin lemah. Satu musim kering dapat berubah menjadi lingkaran produksi rendah, harga tinggi, modal petani melemah, dan musim tanam berikutnya kembali terganggu.
Swasembada yang Harus Dijaga
Pemerintah mengumumkan tercapainya swasembada pangan pada Januari 2026. Produksi beras 2025 mencapai sekitar 34,69 juta ton, meningkat cukup tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Untuk 2026, produksi beras diproyeksikan sekitar 34,77 juta ton, sedangkan kebutuhan nasional diperkirakan 31,10 juta ton.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!





