
RADAR BANYUWANGI - Aksi kejahatan jalanan atau begal di sejumlah wilayah Indonesia belakangan ini makin meresahkan. Tindak kejadian begal mengalami lonjakan signifikan sehingga tidaklah berlebihan bila saat ini kita sudah memasuki masa darurat begal. Ulah begal makin meresahkan masyarakat, bukan saja karena wilayah operasinya yang makin luas, tetapi juga tindakan para begal yang makin lama makin sadis.
Tidak sekali-dua kali ulah begal yang melakukan aksi bacok atau tendang dulu tanpa mempedulikan nasib korban. Para begal sendiri juga makin lama makin belia. Anak-anak usia belasan tahun pun kini menjadi pelaku begal yang tergolong sadis. Biasanya setelah minum-minuman keras, mereka baru menjalankan aksinya. Pengaruh minuman beralkohol yang membuat pelaku setengah mabuk hingga tidak lagi berpikir panjang dalam menjalankan aksinya.
Di Bandung, misalnya dalam beberapa minggu terakhir dilaporkan telah terjadi sedikitnya 15 kasus begal. Merespons hal ini, Polda Jawa Barat mengumumkan telah mengungkap 24 kasus kejahatan jalanan sepanjang bulan ini. Satreskrim Polrestabes Bandung juga berhasil meringkus 19 pelaku kejahatan malam bersenjata tajam. Sementara itu di di Bekasi, dilaporkan polisi telah berhasil menangkap 3 begal sadis bersenjata celurit yang tidak segan melukai korbannya. Sedangkan di Depok, terungkap modus unik berupa komplotan begal yang menjebak korban melalui aplikasi kencan sesama jenis sebelum mengikat dan merampas harta benda mereka.
Di DKI Jakarta, tindak kejahatan begal paling meresahkan. Polda Metro jaya dilaporkan telah mengerahkan Tim Pemburu Begal 24 jam setelah mencatat lebih dari 1.200 laporan kejahatan jalanan dan menangkap 173 tersangka. Tidak hanya di metropolitan, di Pekanbaru Riau, seorang perempuan dilaporkan juga menjadi korban pembegalan di Jalan Teropong hingga menderita luka kepala akibat dihempaskan ke parit saat sepeda motor dan ponselnya dirampas.
Proaktif
Begal belakangan ini memang menjadi momok yang menakutkan masyarakat Indonesia. Dari lorong-lorong gelap di perkotaan hingga jalan penghubung antar-kabupaten yang sepi, ancaman menjadi korban begal mengintai siapa saja. Seperti iklan Coca Cola: siapa saja, kapan saja dan di mana saja warga masyarakat berada, meka sepertinya selalu rawan menjadi korban begal.
Berbeda dengan tindak pencurian biasa, begal melibatkan unsur kekerasan atau ancaman kekerasan secara terang-terangan di ruang publik. Pelaku tidak lagi sekadar merampas harta benda, tetapi seringkali tak segan melukai bahkan menghilangkan nyawa korban yang melawan. Fenomena ini merusak rasa aman warga dan menciptakan teror psikologis yang mendalam bagi para pengguna jalan raya, terutama mereka yang beraktivitas pada jam-jam rawan malam hingga dini hari. Bagi perempuan, terutama ancaman begal benar-benar menakutkan.
Secara sosiologis dan kriminologis, akar permasalahan kejahatan ini sangat kompleks. Tekanan ekonomi, tingginya angka pengangguran, lemahnya pengawasan lingkungan, hingga lunturnya nilai-nilai solidaritas sosial kerap menjadi pemicu utama makin maraknya begal. Ironisnya, tidak sedikit pelaku aksi pembegalan yang tertangkap masih berusia sangat muda, bahkan berstatus sebagai pelajar. Hal ini mengindikasikan adanya disfungsi dalam sistem pendukung sosial, baik di lingkungan keluarga, institusi pendidikan, maupun ruang interaksi digital mereka. Ketika anak-anak muda kehilangan arah dan gagal mendapatkan ruang hidup yang layak secara ekonomi maupun psikologis, jalan pintas kekerasan kerap menjadi pelarian yang destruktifSelama ini, modus operansi yang dikembangkan begal dalam menjalankan aksinya telah berkembang makin canggih. Selain melakukan aksi rampas kendaraan bermotor roda dua di tempat-tempat sepi, kerja begal seringkali sulit diprediksi. Tidak hanya mencegat kendaraan di jalan-jalan yang sepi, kini modus operandi yang dikembangkan begal ada indikasi makin beranekaragam.
Pelaku begal dilaporkan kini bertindak proaktif. Mereka tidak hanya menunggu korban di tempat-tempat yang sepi untuk dibegal, tetapi tak jarang mereka juga memanfaatkan umpan di aplikasi kencan. Melalui aplikasi daring, mereka berpura-pura berkenalan dan kemudian mengajak copi darat di tempat-tempat tertentu untuk kemudian ditipu dan dirampas sepeda motornya.
Selain itu, tak jarang begal juga berpura-pura menjadi polisi gadungan. Mereka menyamar sebagai aparat untuk menghentikan pengendara di rute yang minim penerangan. Bagi korban yang lenggah dan mau berhenti, pelaku dengan mudah kemudian memperdaya korban dan membawa lari sepeda motornya.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!



