Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

IPK Mentereng, tapi Buang Sampah Sembarangan

T
Oleh: Indi Zulfia, Prodi Tadris Bahasa Indonesia Universitas KH Mukhtar Syafaat Blokagung
Oleh: Indi Zulfia, Prodi Tadris Bahasa Indonesia Universitas KH Mukhtar Syafaat Blokagung

Advertisement

RADARBANYUWANGI.ID - Pernahkah Anda menyaksikan seseorang berpenampilan rapi, bahkan mengenakan almamater kampus ternama, namun dengan santainya membuang botol plastik kosong ke pinggir jalan? Fenomena ironis ini jamak ditemui diruang publik maupun area universitas. Sungguh menjengkelkan sekaligus miris ketika melihat seseorang yang memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) mendekati sempurna, yaitu 3,9 atau 4,0, tetapi dalam hal menjaga kebersihan lingkungan mendasar justru mendapat nilai "E besar". 

Kita sering kali terlalu silau oleh deretan angka di kartu hasil studi, hingga memaklumi perilaku keliru yang sebenarnya mencerminkan kualitas moral asli seseorang. Di sinilah kita kerap lupa bahwa kecerdasan intelektual menjadi tidak berarti tanpa kepekaan etika sehari-hari.

Akar masalah dari fenomena ini bukan sekadar rasa malas untuk melangkah ke tempat sampah, melainkan adanya ketimpangan besar antara teori di dalam kelas dengan realitas kehidupan. Sistem pendidikan kita tampaknya sukses mencetak individu yang pintar secara akademis, tetapi gagal total dalam membangun kepedulian sosial dan lingkungan. Penyakit utamanya adalah sikap abai dan rasa superioritas yang terselubung.

Advertisement

Banyak kalangan berpendidikan tinggi secara tidak sadar menganggap urusan kebersihan sebagai tugas eksklusif petugas kebersihan, bukan tanggung jawab pribadi. Ada ego tersembunyi yang merasa bahwa setelah menguasai teori-teori rumit, hal-hal sepele seperti mengantongi bungkus permen menjadi urusan yang terlalu remeh. Kita terlalu sibuk mengejar nilai demi karier, sampai lupa bahwa ujian kemanusiaan yang sesungguhnya tidak memerlukan lembar jawaban, melainkan tindakan nyata menjaga lingkungan sekitar.

Kebiasaan buruk ini tidak muncul secara mendadak saat seseorang menginjak bangku perkuliahan, melainkan hasil dari pola "salah asuhan" yang terbentuk sejak lama melalui tiga tahapan terstruktur. 

Tahap pertama masa sekolah. Sejak usia dini, anak-anak didoktrin bahwa indikator kehebatan adalah nilai matematika yang sempurna atau peringkat pertama di kelas. Fokus penuh diberikan pada kemampuan kognitif. Jika ada anak pintar yang berperilaku jorok, lingkungan sekitar cenderung membiarkannya asalkan nilai ujiannya tetap aman.

Advertisement

Tahap kedua (ego akademis di kuliah). Saat menjadi mahasiswa, perburuan angka semakin menggila demi portofolio karier. Etika dasar kian terpinggirkan karena tidak memiliki bobot SKS. Kampus seolah berubah menjadi pabrik pemburu nilai, tempat mahasiswa mendiskusikan teori perubahan sosial di atas meja yang bawahnya dipenuhi botol plastik dan puntung rokok berserakan.

Tahap third (mati rasa sosial). Akibat bertahun-tahun dididik demi formalitas nilai di atas kertas, otak melakukan pemisahan. Kecerdasan hanya diaktifkan saat ujian atau bekerja, sementara moral mendadak nonaktif dalam kehidupan sehari-hari. Lahirlah manusia berotak encer, namun bermental tumpul terhadap lingkungan.

Respons psikologis masyarakat yang cenderung abai memperparah situasi ini. Kita sering memilih melangkahi sampah di koridor karena mengandalkan pemikiran bahwa akan ada petugas yang membersihkannya. Sikap superior ini menunjukkan bahwa pendidikan tinggi justru kerap membuat orang merasa terlalu elite hanya untuk memungut sampah. 

Mirisnya, realitas ini didukung oleh data perilaku lingkungan mutakhir pada pertengahan tahun 2026. Laporan indeks kepedulian lingkungan dari lembaga riset sosial menunjukkan bahwa tingkat pendidikan tidak berbanding lurus dengan kesadaran di ruang publik. Dalam survei masyarakat urban 2026, ditemukan fakta bahwa sekitar 35% pelaku pembuang sampah plastik sembarangan di fasilitas umum justru merupakan generasi muda berpendidikan tinggi. Bahkan, volume sampah di beberapa kampus besar di Indonesia mengalami kenaikan hingga 15-20% setelah aktivitas kuliah tatap muka kembali normal sepenuhnya. Data menohok ini menegaskan bahwa kurikulum internasional sekalipun belum menjamin kelulusan manusia yang paham esensi dasar sebuah akhlak.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BanyuwangiIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

UEA Dukung Pengelolaan Sampah Banyuwangi, TPS3R Kertosari Ditarget Rampung 10 Bulan

UEA Dukung Pengelolaan Sampah Banyuwangi, TPS3R Kertosari Ditarget Rampung 10 Bulan

Pemkab Banyuwangi membangun TPS3R Kertosari berkapasitas 50 ton per hari dengan dukungan UEA. Ditargetkan rampung dalam 10 bulan.

Banyuwangi Mulai Bangun TPS3R Kertosari, Kapasitas Olah Sampah Capai 50 Ton per Hari

Banyuwangi Mulai Bangun TPS3R Kertosari, Kapasitas Olah Sampah Capai 50 Ton per Hari

Bupati Ipuk memulai pembangunan TPS3R Kertosari berkapasitas 50 ton per hari untuk memperkuat pengelolaan sampah di Banyuwangi.

Banyuwangi Bangun TPS3R Kertosari, Perkuat Sistem Pengelolaan Sampah Terintegrasi

Banyuwangi Bangun TPS3R Kertosari, Perkuat Sistem Pengelolaan Sampah Terintegrasi

Pemkab Banyuwangi membangun TPS3R Kertosari berkapasitas 50 ton per hari untuk memperkuat pengelolaan sampah dan memperluas layanan.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer