Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Bukan hanya Menyembelih Hewan, tetapi Menyembelih Ego

T
Oleh: Miskawi, Dosen Universitas PGRI Banyuwangi dan Ketua Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Banyuwangi
Oleh: Miskawi, Dosen Universitas PGRI Banyuwangi dan Ketua Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Banyuwangi

Advertisement

RADARBANYUWANGI.ID - Idul Adha kembali hadir di tengah kehidupan masyarakat dengan gema takbir, aroma kebersamaan, dan tradisi penyembelihan hewan kurban yang setiap tahun menjadi bagian penting dari kehidupan umat Islam. Namun, di balik ritual tersebut, terdapat pertanyaan yang layak direnungkan bersama: apakah kurban hari ini masih dimaknai sebagai jalan pembentukan keikhlasan dan pengendalian diri, atau justru perlahan berubah menjadi rutinitas seremonial yang kehilangan makna spiritualnya?

Di era media sosial saat ini, manusia hidup dalam ruang yang dipenuhi kebutuhan untuk terlihat sempurna. Kehidupan digital membentuk budaya baru yang sering kali mendorong seseorang untuk menampilkan pencitraan diri secara berlebihan. Kebaikan mudah dipertontonkan, bantuan sosial mudah direkam, dan ibadah terkadang tidak lagi sepenuhnya menjadi hubungan personal antara manusia dengan Tuhan, melainkan juga menjadi konsumsi publik. Dalam situasi seperti ini, Idul Adha seharusnya hadir bukan hanya sebagai ritual penyembelihan hewan, tetapi sebagai momentum untuk menyembelih ego manusia yang semakin tumbuh di tengah budaya individualisme dan pencitraan sosial.

Makna terdalam kurban sesungguhnya bukan terletak pada darah dan daging hewan yang disembelih, melainkan pada ketulusan hati manusia dalam belajar taat, ikhlas, dan rela berkorban. Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail bukan sekadar cerita tentang pengorbanan fisik, tetapi pelajaran besar tentang kemampuan manusia menundukkan ego, kepentingan pribadi, dan rasa memiliki yang berlebihan. Dalam konteks kehidupan modern, ego itulah yang justru sering menjadi sumber berbagai persoalan sosial: kesombongan, ketidakpedulian, kerakusan, hingga keinginan untuk selalu menjadi pusat perhatian.

Advertisement

Hari ini kita hidup di tengah masyarakat yang perlahan mengalami krisis empati. Banyak orang sibuk membangun citra diri, tetapi lupa membangun kepedulian sosial. Tidak sedikit yang berlomba menunjukkan keberhasilan hidup di media sosial, tetapi enggan melihat kesulitan orang-orang di sekitarnya. Dalam kondisi seperti ini, kurban sesungguhnya mengajarkan nilai yang sangat mendasar: manusia tidak bisa hidup hanya untuk dirinya sendiri. Ada hak orang lain yang harus diperhatikan, ada solidaritas yang harus dirawat, dan ada keikhlasan yang harus dibangun dalam kehidupan sosial.

Makna “menyembelih ego” menjadi sangat relevan bagi generasi hari ini, terutama generasi muda yang hidup dalam budaya serba cepat dan instan. Media sosial sering kali membentuk standar semu tentang kesuksesan dan kebahagiaan. Manusia akhirnya mudah terjebak pada kebutuhan pengakuan sosial, ingin dipuji, ingin terlihat lebih hebat, dan sulit menerima kekurangan diri. Padahal, Iduladha justru mengajarkan bahwa manusia yang besar bukanlah manusia yang selalu ingin dipandang tinggi, tetapi manusia yang mampu mengendalikan dirinya sendiri.

Qurban mengajarkan bahwa keikhlasan tidak selalu harus diumumkan. Kepedulian tidak harus dipertontonkan. Pengorbanan tidak selalu membutuhkan tepuk tangan manusia. Dalam tradisi Islam, kurban adalah simbol ketundukan spiritual sekaligus pendidikan moral agar manusia mampu mengurangi keserakahan dan memperkuat rasa kemanusiaan. Karena itu, Idul Adha seharusnya menjadi momentum memperbaiki hubungan sosial yang semakin renggang akibat gaya hidup individualistik dan kompetitif.

Advertisement

Refleksi ini menjadi sangat penting bagi masyarakat Banyuwangi yang selama ini dikenal memiliki tradisi sosial dan budaya gotong royong yang kuat. Nilai-nilai kebersamaan dalam masyarakat Using, tradisi saling membantu antarwarga, serta budaya guyub yang tumbuh di desa-desa Banyuwangi merupakan kekayaan sosial yang perlu terus dirawat.

Di tengah perubahan zaman dan derasnya arus budaya digital, masyarakat Banyuwangi menghadapi tantangan yang sama dengan daerah lain: menguatnya individualisme, lunturnya interaksi sosial, dan munculnya pola hidup yang lebih mementingkan pencitraan daripada ketulusan.  Karena itu, Idul Adha dapat menjadi ruang refleksi bersama bagi masyarakat Banyuwangi untuk kembali menghidupkan nilai-nilai sosial yang selama ini menjadi identitas budaya masyarakatnya. Kurban bukan hanya tentang membagikan daging kepada masyarakat, tetapi juga tentang membagikan kepedulian, memperkuat solidaritas sosial, dan membangun kesadaran bahwa kehidupan tidak bisa dijalani hanya dengan memikirkan kepentingan pribadi. Semangat qurban seharusnya melahirkan kepekaan terhadap tetangga yang kesulitan, kepedulian terhadap masyarakat kecil, serta kesediaan untuk membantu tanpa harus menunggu imbalan atau pengakuan.

Lebih dari itu, qurban juga mengajarkan bahwa manusia perlu belajar menundukkan ego dalam kehidupan sehari-hari. Ego yang merasa paling benar, ego yang ingin selalu dipuji, ego yang sulit menerima perbedaan, hingga ego yang membuat manusia lupa bersyukur atas apa yang dimiliki. Jika hewan kurban setiap tahun dapat disembelih, maka sesungguhnya ego manusia juga harus terus dilatih untuk dikendalikan. Sebab sering kali bukan kemiskinan yang merusak kehidupan sosial, melainkan kesombongan dan hilangnya rasa peduli antarsesama.

Pada akhirnya, Idul Adha bukan hanya peristiwa keagamaan tahunan, tetapi juga momentum pendidikan batin bagi manusia modern. Kurban mengingatkan bahwa kehidupan yang bermakna bukan diukur dari seberapa banyak yang dimiliki, tetapi seberapa besar kepedulian yang mampu diberikan kepada orang lain. Dalam dunia yang semakin dipenuhi pencitraan dan persaingan sosial, pesan paling penting dari Idul Adha justru sederhana: manusia harus belajar menjadi rendah hati. Maka, di tengah gema takbir Idul Adha tahun ini, barangkali yang paling perlu disembelih bukan hanya hewan qurban, tetapi juga ego dalam diri manusia. Sebab ketika ego mampu dikendalikan, maka keikhlasan, empati, dan kemanusiaan akan menemukan kembali tempatnya dalam kehidupan masyarakat. (*)

Advertisement
Editor : Ali Sodiqin
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BanyuwangiIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Sering Jadi Polemik Saat Idul Adha, Ini Hukum Membagikan Daging Kurban kepada Non-Muslim

Sering Jadi Polemik Saat Idul Adha, Ini Hukum Membagikan Daging Kurban kepada Non-Muslim

Bolehkah daging kurban diberikan kepada non-Muslim? Simak penjelasan ulama, dalil Arab, dan hukum lengkapnya.

Siapa yang Berhak Menerima Daging Kurban? Ini 5 Golongan Utama Menurut Syariat Islam agar Tidak Salah Bagikan

Siapa yang Berhak Menerima Daging Kurban? Ini 5 Golongan Utama Menurut Syariat Islam agar Tidak Salah Bagikan

Siapa yang berhak menerima daging kurban? Simak 5 golongan penerima daging kurban menurut syariat Islam dan aturannya.

Cara Menyimpan Daging Kurban Agar Awet hingga 3 Bulan, Tanpa Vacuum Sealer dan Tetap Segar

Cara Menyimpan Daging Kurban Agar Awet hingga 3 Bulan, Tanpa Vacuum Sealer dan Tetap Segar

Simak cara menyimpan daging kurban agar awet hingga 3 bulan tanpa vacuum sealer. Tetap segar, tidak bau, dan bebas freezer burn.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer