Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Literasi sebagai Titik Awal Critical Thinking

Ali Sodiqin
Penulis: Ali Sodiqin❯
OLEH: Fariz Hilman Perdana, Direktur Badan Pelaksana Harian (BPH) Perpenas Banyuwangi
OLEH: Fariz Hilman Perdana, Direktur Badan Pelaksana Harian (BPH) Perpenas Banyuwangi

Advertisement

RADARBANYUWANGI.ID - Di tengah arus informasi yang semakin deras, kemampuan berpikir kritis menjadi kebutuhan yang tidak lagi bersifat tambahan, melainkan fundamental. Mahasiswa, pendidik, pemimpin organisasi, hingga masyarakat umum dihadapkan pada berbagai informasi yang tidak selalu terverifikasi, opini yang bercampur fakta, serta keputusan yang harus diambil dengan cepat.

Dalam situasi seperti ini, critical thinking bukan hanya keterampilan akademik, tetapi juga kompetensi hidup. Hal ini sangat relevan dalam konteks daerah seperti Banyuwangi, sebuah kota yang terus berkembang dalam sektor pendidikan, pariwisata, ekonomi kreatif, dan pelayanan publik. Perubahan yang cepat menuntut masyarakatnya tidak hanya adaptif, tetapi juga mampu berpikir jernih, analitis, dan reflektif.

Namun, kemampuan berpikir kritis tidak muncul secara tiba-tiba. Ia tumbuh dari proses panjang yang dimulai dari literasi, khususnya kebiasaan membaca buku secara konsisten. Membaca bukan sekadar aktivitas menerima informasi, melainkan proses internalisasi pengetahuan yang kemudian berkembang menjadi refleksi, analisis, dan akhirnya kemampuan mengambil keputusan yang lebih matang.

Advertisement

Penguatan Budaya Literasi

Di Banyuwangi, penguatan budaya literasi menjadi penting bukan hanya untuk dunia pendidikan formal, tetapi juga untuk membentuk masyarakat yang mampu membaca perubahan zaman secara lebih cerdas. Kebiasaan membaca buku memberikan fondasi bagi seseorang untuk membangun kerangka berpikir yang sistematis. Ketika seseorang membaca, ia tidak hanya menyerap isi teks, tetapi juga membandingkannya dengan pengalaman pribadi, mengevaluasi argumentasi penulis, serta membangun interpretasi baru.

Proses ini secara alami melatih kemampuan analitis. Berbeda dengan konsumsi informasi instan melalui media sosial yang sering kali fragmentatif, membaca buku mendorong pembaca mengikuti alur logika yang lebih panjang dan terstruktur. Di sinilah critical thinking mulai terbentuk: melalui proses memahami, mempertanyakan, menghubungkan, dan menyimpulkan. Dengan kata lain, membaca adalah pintu masuk bagi proses kognitif tingkat tinggi yang menjadi inti dari berpikir kritis.

Advertisement

Jika dikaitkan dengan teori manajemen pengetahuan, khususnya model SECI yang dikembangkan oleh Nonaka dan Takeuchi, kebiasaan membaca dapat dipahami sebagai bagian penting dari siklus pembentukan pengetahuan. Model SECI menjelaskan bahwa pengetahuan berkembang melalui empat proses: socialization, externalization, combination, dan internalization.

Keempat proses ini membentuk spiral pengetahuan yang terus berkembang, baik pada level individu maupun organisasi. Dalam konteks literasi dan critical thinking, membaca buku memainkan peran penting terutama pada tahap internalization dan combination, tetapi juga menjadi pemicu bagi tahap lainnya.

Socialization

Tahap pertama dalam model SECI adalah socialization, yaitu proses berbagi pengetahuan tacit melalui interaksi langsung. Pada tahap ini, seseorang memperoleh wawasan dari diskusi, pengalaman, atau pengamatan terhadap orang lain. Kebiasaan membaca buku dapat memperkaya proses ini karena individu yang memiliki literasi tinggi cenderung membawa perspektif yang lebih luas ke dalam diskusi.

Advertisement
Editor : Ali Sodiqin
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BanyuwangiIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Mengapa Kita Menangis Saat Membaca? Ini Ikatan Emosi di Otak

Mengapa Kita Menangis Saat Membaca? Ini Ikatan Emosi di Otak

Mengapa membaca novel bisa menguras emosi? Simak penjelasan neurosains mengenai kerja saraf cermin dan transportasi mental saat membaca fiksi.

Kapan Terakhir Kita Membaca Buku?

Kapan Terakhir Kita Membaca Buku?

Setiap orang mempunyai preferensi masing-masing. Tidak mesti semua orang mempunyai hobi membaca buku. Tapi, seyogianya menjadi pribadi yang pembelajar.

Menata Masa Depan Pendidikan Matematika dari Daerah

Menata Masa Depan Pendidikan Matematika dari Daerah

Hasil Program Penilaian Siswa Internasional atau yang lebih dikenal dengan Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2025 telah dirilis dalam sebuah laporan yang bertajuk PISA 2025 Results (Volume I)

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer