
RADARBANYUWANGI.ID - Pelantikan PCNU Banyuwangi yang dilaksanakan pada Sabtu (4/4/2026) di Pondok Pesantren Minhajut Thulab, Parasgempal, Desa Sumberberas, Kecamatan Muncar, Banyuwangi, bukan hanya sekedar tradisi yang biasa dilakukan di sebuah organisasi.
Tapi memiliki nilai lebih dengan tercatat dalam sejarah sebagai pengurus pertama yang menjaga NU di fase abad ke-2. Untuk diketahui, pada 31 Januari 2026, NU genap berumur 100 tahun atau seabad.
Tanggung jawab dan tugas yang diemban para pengabdi NU di fase abad ke-2 ini, tentu berbeda dengan masa-masa saat jam’iyah yang didirikan oleh para ulama pada 31 Januari 1926 itu diproklamirkan.
Pada fase abad ke-1, NU berjuang menjaga dan mempertahankan tradisi dan faham ahlussunah waljamaah di tengah puritas Islam yang sangat kuat. Perjuangan ini tidak hanya di Jawa (Indonesia), tapi juga di pusatnya Islam, Makkah. S
aat itu Raja Arab Saudi, Ibnu Sauud membongkar makam para sahabat dan konon juga akan membongkar makam Nabi Muhammad. Raja Sauud, juga kurang berkenan dengan empat madzhab, yakni madzab Syafii, Maliki, Hambali, dan Hanafi. (Choirul Anam:1999).
Perjuangan para kiai NU dengan mengirim surat dan menemui Raja Sauud akhirnya berhasil, tradisi yasinan dan tahlilan yang menjadi peninggalan dakwah Walisongo dengan menggabungkan Islam dan tradisi lokal, juga masih terjaga hingga saat ini.
NU di fase abad ke-1, aktif melakukan perlawanan dan penyemangat dalam setiap gerakan melawan penjajah. Hingga akhirnya, muncul Resolusi Jihad yang disampaikan Rais Akbar PBNU KH Hasyim Asyari pada 22 Oktober 1945, dan kini ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional (HSN).
Pendirian lembaga pendidikan seperti pondok pesantren dan madrasah banyak dilakukan, termasuk perekonomian umat. NU semakin meroket pada fase abad pertama ini, saat muncul tokoh Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dengan pemikiran demokrasi dan pluralismenya.
Menurut Ketua Umum PBNU periode 1984-1999 ini, Islam harus menjadi kekuatan yang membebaskan dan melindungi hak-hak minoritas, dan mengontekstualisasikan ajaran Islam dengan budaya lokal tanpa kehilangan esensi ajaran (Abdurrahman Wahid: 2006).
Dari pemikiran-pemikirannya itu, NU akhirnya dikenal sebagai pelopor Islam moderat yang toleran dan inklusif (Islam Wasathiyah), hingga akhirnya terbangunnya kohesi sosial.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




