Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Merayakan atau Ditangisi

T

Oleh: Febri Saputra SH, Ketua Alumni PKPA Angkatan 1 Peradi SAI - Banyuwangi Raya
Oleh: Febri Saputra SH, Ketua Alumni PKPA Angkatan 1 Peradi SAI - Banyuwangi Raya


Advertisement

RADARBANYUWANGI.ID - Tahun 2026 ini sudah memasuki bulan ketiga atau bulan Maret. Sejak awal bulan, Tuhan dengan caranya telah banyak memberikan rezeki maupun peringatan berupa bencana dan juga memperlihatkan kematian di mana-mana. Banyak kematian yang tidak wajar terjadi. Pengamatan penulis di bulan Maret tahun 2026,  ada momentum yang sangat sakral yaitu Hari Raya Nyepi bagi umat Hindu dan Idul Fitri bagi umat Islam.

Hari Raya Nyepi yang dapat dimaknai sebagai momentum bagi umat Hindu dalam membersihkan diri lahir dan batin sekaligus menandai Tahun Baru Saka 1948. Di mana  umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian. Sedangkan hari raya Idul Fitri bagi umat Islam tanda berakhirnya puasa Ramadan.  Secara bahasa memiliki arti fitrah (kesucian) yang dapat juga sebagai lambang kemenangan melawan hawa nafsu setelah berpuasa sebulan penuh.

Pada momentum Idul Fitri selalu disempurnakan dengan anjang sanak keluarga (silaturahmi), rekan teman dan  saling memaafkan serta mempererat hubungan keluarga/silaturahmi, di sini juga banyak perantau mudik berkumpul dengan orang tua serta saudara di kampung halaman.

Advertisement

Photo
Photo

Mari Kita Berperang

Situasi Nyepi dan Idul Fitri tahun ini terlihat tidak seperti tahun-tahun kemarin. Hal ini dikarenakan kejadian perang di Timur Tengah, kompleksitas terjadi mulai dari kepentingan geopolitik negara adidaya,  perseteruan ideologi/sektarian (Sunni-Syiah/Yahudi ), konflik teritorial dan perebutan sumber daya alam (minyak) memicu konflik berlarut dan perang akhirnya terjadi. Kejadian ini dampaknya sangat luas.

Advertisement

Mari kita berperang melawan hawa nafsu pada diri sendiri, menekan keegoisan pada diri kita, khususnya yang menjadi penekanan yaitu saat di jalanan berkendara atau dalam perjalanan. Kenapa penulis mengajak pembaca berperang melawan hawa nafsu pada diri sendiri dan menekan keegoisan saat berkendara? Penulis memperhatiakan kejadian secara nasional dan khususnya di wilayah Banyuwangi, hampir setiap hari terjadi kecelakaan baik pagi, siang, malam dan dini hari.

Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya kecelakaan. Mulai faktor manusia (human error). Di mana penyebab utamanya adalah kelalaian/kurang konsentrasi (menggunakan ponsel saat berkendara, makan/minum, atau teralih perhatiannya saat mengemudi). Selain itu kelelahan/mengantuk, melanggar kecepatan, berkendara di bawah pengaruh alkohol atau obat-obatan, serta tidak patuh rambu.

Dari faktor kendaraan juga bisa memicu terjadinya kecelakaan. Seperti rem tidak berfungsi dengan baik, kondisi ban tipis/gundul yang menyebabkan selip.  Komponen lain yang tidak berfungsi atau sistem kemudi rusak, Kelebihan muatan serta faktor lain seperti jalan berlubang, licin atau tidak rata, minim rambu, hujan deras, kurangnya jarak pandang atau penerangan kurang terang.

Perlu Merayakan atau Ditangisi

Untuk diingat ada hal yang harus ditanggung dari kejadian kecelakaan lalu lintas. Tidak hanya cedera fisik seumur hidup, bahkan bisa meninggal  dunia. Silakan disikapi apakah di hari raya tahun ini perlu dirayakan aau ditangisi karena menjadi korban lalu lintas? Jawaban ada pada pembaca.

Penulis ingin mengajak pada semua kalangan dalam hal berkendara. Utamakan keselamatan karena di rumah keluarga menunggu. Semoga jalanan yang rusak/lubang cepat teratasi, penerangan yang gelap cepat ditambah lampu. Yang  tidak kalah penting adalah orang tua tidak menormalisasi anak-anak di bawah umur untuk berkendara/memakai kendaraan. Penyesalan itu datangnya di belakang serta hindari kelelahan saat berkendara. Lebih baik beristirahat dulu. Setelah itu bisa melanjutkan  perjalanan dan carilah lokasi istirahat yang aman nyaman. (*)

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BanyuwangiIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Menuju Terowongan Banyuwangi–Bali

Menuju Terowongan Banyuwangi–Bali

Kisah tentang Goa Lungun Cemoro yang konon memiliki jalan rahasia menembus Bali telah lama mengalir dari mulut ke mulut.

Peserta dari Banyuwangi Ikut Meriahkan Lovina Festival 2026, Pemkab Buleleng Bali Optimistis Festival Dongkrak Kunjungan dan Ekonomi Lokal

Peserta dari Banyuwangi Ikut Meriahkan Lovina Festival 2026, Pemkab Buleleng Bali Optimistis Festival Dongkrak Kunjungan dan Ekonomi Lokal

Pemkab Buleleng menargetkan 25 ribu kunjungan wisatawan pada Lovina Festival 2026 yang berlangsung 24-28 Juli. Festival lima hari ini diyakini meningkatkan okupansi hotel, menggerakkan UMKM, dan memperkuat pariwisata.

Kereta Api ke Stasiun Ketapang Banyuwangi Semakin Diminati, Lebih dari 402 Ribu Penumpang Dilayani dalam Enam Bulan

Kereta Api ke Stasiun Ketapang Banyuwangi Semakin Diminati, Lebih dari 402 Ribu Penumpang Dilayani dalam Enam Bulan

Stasiun Ketapang Banyuwangi melayani 402.462 pergerakan penumpang selama Semester I 2026, naik 7,06 persen. Kenaikan memperkuat peran kereta api sebagai akses utama menuju Pelabuhan Ketapang dan penyeberangan ke Bali.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer