Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Keseimbangan Gizi Jadi Kunci Bugar Selama Ramadan

T

Oleh : Dea Amanda Caressa, MKes, Dosen Gizi Universitas Dr. Soekardjo
Oleh : Dea Amanda Caressa, MKes, Dosen Gizi Universitas Dr. Soekardjo


Advertisement

RADARBANYUWANGI.ID - Setiap memasuki bulan Ramadan, banyak orang lebih fokus mempersiapkan kebutuhan ibadah seperti salat tarawih, tadarus, dan berbagai aktivitas keagamaan lainnya. Namun, kesiapan fisik sering kali kurang mendapat perhatian.

Padahal, puasa bukan hanya aktivitas spiritual, tetapi juga proses biologis yang melibatkan perubahan metabolisme tubuh.

Selama lebih dari dua belas jam tubuh tidak menerima asupan makanan dan minuman, sehingga diperlukan pola makan yang tepat agar puasa dapat dijalani dengan nyaman, tetap bertenaga, dan produktif sepanjang hari.

Advertisement

Photo
Photo

Tanpa pengaturan gizi yang baik, puasa dapat menyebabkan tubuh mudah lelah, konsentrasi menurun, bahkan meningkatkan risiko gangguan kesehatan.

Sebagian masyarakat masih memahami puasa sekadar sebagai menahan lapar dan haus, sehingga perhatian terhadap kualitas makanan sering terabaikan.

Advertisement

Banyak orang memilih makanan yang hanya mengenyangkan tanpa mempertimbangkan keseimbangan zat gizi. Ramadan pun sering identik dengan meningkatnya konsumsi makanan tinggi gula dan lemak seperti gorengan, kolak, minuman manis, serta hidangan bersantan.

Meskipun terasa nikmat setelah seharian berpuasa, konsumsi berlebihan dapat meningkatkan asupan kalori dan berdampak pada kenaikan berat badan.

Fenomena kenaikan berat badan selama Ramadan cukup sering terjadi. Energi yang masuk saat berbuka kerap melebihi kebutuhan harian, sementara aktivitas fisik cenderung menurun. Kalori yang tidak terbakar akan disimpan dalam bentuk lemak.

Padahal, jika dijalani dengan pola makan yang terencana dan seimbang, puasa justru dapat memberikan manfaat kesehatan.

Jeda makan yang lebih panjang membantu tubuh mengontrol asupan energi serta memberi kesempatan bagi sistem pencernaan untuk beristirahat dan bekerja lebih efisien.

Kunci utama puasa yang sehat terletak pada sahur. Sahur berfungsi sebagai sumber energi yang menentukan kondisi tubuh sepanjang hari.

Melewatkan sahur membuat tubuh lebih cepat lemas, mudah mengantuk, dan sulit berkonsentrasi.

Dalam jangka panjang, kebiasaan ini juga dapat mengganggu keseimbangan metabolisme. Oleh karena itu, sahur sebaiknya tidak diabaikan meskipun dilakukan secara sederhana.

Menu sahur ideal mengandung karbohidrat kompleks, protein, sayur, dan buah dalam jumlah cukup.

Karbohidrat kompleks seperti nasi, kentang, jagung, atau roti gandum memberikan energi yang dilepaskan secara bertahap sehingga tubuh tidak cepat merasa lapar.

Protein dari telur, ikan, ayam, tahu, atau tempe membantu mempertahankan rasa kenyang lebih lama sekaligus menjaga daya tahan tubuh. Sementara itu, sayur dan buah kaya akan vitamin, mineral, dan serat yang penting untuk menjaga keseimbangan fungsi tubuh.

Serat membantu memperlambat proses pengosongan lambung sehingga rasa lapar muncul lebih lambat dan pencernaan tetap terjaga.

Selain makanan, kebutuhan cairan juga harus menjadi perhatian utama. Tubuh tetap kehilangan cairan melalui keringat dan proses pernapasan meskipun tidak melakukan aktivitas berat.

Dehidrasi ringan dapat menyebabkan pusing, lemah, bibir kering, serta menurunnya konsentrasi. Oleh karena itu, kebutuhan sekitar delapan gelas air per hari tetap harus dipenuhi dengan pembagian waktu yang tepat antara berbuka hingga sahur.

Pola minum yang teratur membantu menjaga keseimbangan cairan dan mendukung fungsi organ tubuh secara optimal. Saat berbuka, tubuh membutuhkan sumber energi yang cepat diserap setelah seharian berpuasa.

Mengonsumsi makanan atau minuman manis dalam jumlah wajar dapat membantu mengembalikan energi awal. Namun, konsumsi berlebihan perlu dihindari karena dapat meningkatkan kadar gula darah secara drastis dan menambah asupan kalori.

Berbuka sebaiknya dilakukan secara bertahap, dimulai dengan air putih dan buah segar, kemudian dilanjutkan dengan makanan utama bergizi seimbang yang terdiri dari karbohidrat, protein, sayur, dan buah.

Puasa tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental. Asupan gizi yang cukup membantu menjaga kestabilan emosi dan meningkatkan fokus.

Sebaliknya, pola makan yang tidak seimbang dapat membuat seseorang mudah marah dan cepat lelah. Ramadan seharusnya menjadi momentum memperbaiki kebiasaan makan menjadi lebih sehat dan teratur.

Dengan pola makan seimbang, puasa tidak hanya meningkatkan kualitas ibadah, tetapi juga membangun kesehatan yang lebih baik dan berkelanjutan. (*)

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BanyuwangiIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Apa Agama William Saliba? Bek Arsenal Ini Dahulukan Salat Jumat daripada Wawancara

Apa Agama William Saliba? Bek Arsenal Ini Dahulukan Salat Jumat daripada Wawancara

Apa agama William Saliba? Bek Arsenal itu diketahui beragama Islam dan baru-baru ini menunda wawancara demi menunaikan Salat Jumat.

Elneny Gunting Pita, Arsenal Kini Punya Ruang Salat untuk Pemain di Emirates

Elneny Gunting Pita, Arsenal Kini Punya Ruang Salat untuk Pemain di Emirates

Arsenal meresmikan ruang salat di Stadion Emirates menjelang Ramadan 2024 lalu. Mohamed Elneny memimpin peresmian fasilitas ibadah bagi pemain.

Kisah William Saliba Dahulukan Salat Jumat Sebelum Wawancara Televisi

Kisah William Saliba Dahulukan Salat Jumat Sebelum Wawancara Televisi

William Saliba menuai pujian setelah menunda wawancara dengan beIN Sports demi menunaikan Salat Jumat. Bek Arsenal juga dikenal disiplin beribadah saat Ramadan.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer