Gebrakan Kota Madiun boleh dibilang sangat revolusioner. Pedestrian dan puluhan taman kota yang cantik, membuat Kota Madiun sukses hijrah: dari kota kumuh menuju kota bersih nan indah.
Bukan hanya melihat. Saya sudah menikmatinya langsung. Pekan lalu. Selama dua hari (18–19 Oktober 2022). Ketika rapat evaluasi triwulan 3 dan penyusunan proyeksi perusahaan 2023. Bersama 19 perusahaan grup Jawa Pos Radar se-Jawa, DIJ, dan Bali.
Seperti biasa, ketika berada di kota lain, saya selalu menyempatkan keluar hotel di pagi buta. Jalan kaki mengeliling kota. Selain dapat sehatnya, juga melihat langsung sejauh mana pembangunan kotanya.
Pagi itu, setelah istirahat sejenak bakda salat Subuh, saya ajak GM, pemred, dan manajer iklan Jawa Pos Radar Banyuwangi menyusuri Kota Madiun. Kira-kira 10 km. Merasakan lajur pedestrian dan taman kota.
Trotoarnya masih kinyis-kinyis. Baru selesai dipugar. Bahkan, di beberapa spot masih belum tuntas. Pastinya, trotoarnya bikin iri. Berlantai keramik warna hitam. Pemasangannya presisi. Tidak ada yang pecah. ”Bila ada yang pecah atau retak satu saja, Pak Wali langsung minta diganti,” kata teman Radar Madiun.
Bukan hanya warnanya yang hitam, jalur pedestrian Kota Madiun terasa nyaman karena ukurannya. Lebar dan terasa lega. Nyaman untuk berjalan. Rupanya, lebar pedestrian yang baru itu ditambah beberapa sentimeter. Pelebarannya tidak memakan lahan milik warga. Buktinya, tidak ada pagar warga yang dipugar. Jalannya yang dikalahkan. Diambil beberapa sentimeter. Tambahan trotoar itu dikunci dengan balok bertrap. Sehingga batas jalan dan trotoarnya tidak lempeng—seperti di daerah lain.
Trotoal baru itu dilengkapi dengan sejumlah lampu jalan yang sekaligus berfungsi sebagai lampu taman. Dengan model khusus. Sesuai kearifan lokal kota setempat. Bahkan, di beberapa spot, pedestrian itu dilengkapi dengan kursi taman dari kayu. Lengkap dengan mejanya. Ada tutup di atas meja. Untuk melindungi orang yang bersantai di bawahnya terlindung dari panas dan hujan.
Saya jadi teringat sebuah taman di Turki. Saat pagi, orang-orang tua duduk-duduk di kursi taman pinggir jalan (di pinggir pedestrian). Ngobrol bersama temannya. Sambil menikmati suasana pagi kota. Tapi, kursi taman di Kota Madiun itu bisa jadi malah jadi favorit muda-mudi. Untuk kongko. Juga ngonten, barangkali. Hahaha....
Bukan hanya orang normal yang bisa menikmati pedestrian di Kota Madiun. Saudara kita dari kalangan difabel juga mendapat perlakukan yang sama. Disiapkan jalur khusus di pedestrian itu. Persis di tengah pedestrian. Dengan warna menyolok: kuning dan permukaan bermotif.
Pembenahan taman besar-besaran juga mewarnai revolusi Kota Madiun. Semua sudut kotanya kini menjadi taman. Sangat memanjakan mata. ”Semua sudut kota harus menarik. Semua kelurahan harus membuat taman di halamannya. Total ada 55 taman kota,” kata Wali Kota Madiun Maidi.
Sepanjang jalan yang saya lalui pagi itu, tampak pohon-pohon besar di banyak tempat. Ukurannya jumbo. pohon pule dan sogo sangat mendominasi. Sebagian sudah tumbuh. Sebagian yang lain tampak masih belum lama ditanam. Vegetasi itu melengkapi tanaman taman yang sudah ada. Tidak hanya memperindah, tapi juga membuat kota makin rindang.
Tentu saja, harga pohon-pohon itu lumayan mahal. Beberapa pule didatangkan langsung dari Nusa Tenggara Timur. Konon, harganya Rp 125 juta. Tapi, pemkot tidak mengeluarkan sepeser pun. Karena, pohon-pohon pule dan sogo itu merupakan CSR dari sejumlah perusahaan yang ada di kota setempat. Bukan hanya pohon taman, beberapa perusahaan juga akan membangun gerbang yang melintang di sejumlah ruas jalan.
Revolusi wajah Kota Madiun dimulai tiga tahun lalu. Tepatnya, sesaat setelah Maidi dilantik sebagai Wali Kota. Saat itu, wajah kota begitu murah. Tidak menarik. Wilayah tengah kotanya semrawut. Sungai di depan balai kota bau. Sering banjir. Banyak bangunan terbengkalai. Beberapa di antaranya rusak. Beberapa tempat sangat kumuh. Salah satunya berada di sekitar perempatan Sleko. Kini, Sleko sudah disulap menjadi kawasan kuliner yang bersih dan rapi.
Maidi mengajak semua pihak bergandeng tangan. Terutama DPRD sebagai mitra strategis. Menyamakan tekad: Aku Bangga Punya Madiun. Untuk mengatasi banjir, dibangunlah resapan air. Setiap 10 meter. Lalu menata kabel jalur atas yang mengganggu keindahan kota. Dia deadline harus selesai satu tahun. Saya beruntung bisa melihat langsung konstruksi jalur kabel bawah jalan yang masih dalam progres itu. Saat jalan-jalan pagi.
Lalu membuat jalur lambat dengan batas pulau jalan. Di pulau jalan itu diletakkan pot besar berisi bunga dan tanaman naungan. Penambahan tanaman bunga dan lampu penerangan itu dimaksudkan agar siang-malam kota tetap hidup.
Setelah sukses menata kawasan Jalan Pahlawan yang melintas di depan Balai Kota Madiun, kini pemkot setempat giliran menata kawasan lahan parkir Sumber Umis. Yang juga berada di jalan utama Kota Madiun. Sebagai miniatur dunia. Beberapa miniatur bangunan ikonik dunia didirikan di sana. Dikonsep sebagai taman bermain sekaligus destinasi.
Bangunan ikonik itu antara lain miniatur Menara Eiffel, miniatur Big Ben (menara jam di Inggris), musala berbentuk Kakbah, dan miniatur Menara Zamzam di Makkah. Saat melintas di lokasi itu, saya merasakan gabungan suasana di sekitar Masjidilharam dan Masjid Nabawi di Madina. Terutama keberadaan tiang lampu dan tenda putihnya.
Selain Banyuwangi, saya kira penataan dan pengembangan Kota Madiun bisa dijadikan benchmark. Daerah lain yang ingin menata kotanya bisa belajar ke Kota Madiun. Tak terkecuali Banyuwangi. Banyuwangi memang sudah lebih dulu tertata. Tapi, tak ada salahnya juga studi pintar ke Kota Madiun untuk menyempurnakannya.
Nama wali kota Madiun memang pendek. Hanya satu kata: Maidi. Tapi, tidak dengan deretan ide-ide kreatifnya yang begitu panjang. Sepanjang perjalanan karirnya. Berawal dari guru, lalu menjadi kepala sekolah, naik lagi sekda, dan wali kota sejak 2019–2024.
Kota Madiun memang butuh orang seperti Maidi. Yang selalu ”gatal” untuk memoles dan memajukan kotanya. Kota Madiun bukan kota besar. Luasnya hanya 33, 23 km2. Hanya punya tiga kecamatan dan 27 kelurahan. Tidak punya potensi alam sebagai tujuan destinasi wisata. Boleh dibilang, semua wilayahnya adalah kota. Maka, tidak ada jalan, selain memermak wajah kotanya. Dengan taman kota dan bangunan-bangunan ikon dunia.
Itu ide cerdas.
Sebab, sejak tol trans-Jawa beroperasi, tidak mudah memaksa orang mampir ke Madiun. Dari arah timur (Banyuwangi, Jember, Surabaya, dll) yang hendak menuju ke Solo, Jogjakarta, bahkan Jakarta, memilih bablas lewat tol. Tidak seperti sebelum ada tol. Tanpa dipaksa pun, dulu semua orang yang hendak pergi ke barat, pasti melewati (dan mampir) di Madiun. Karena Madiun posisinya berada di tengah, antara jalur lalin dari timur yang hendak ke barat.
Wa ba’du. Melihat hasil nyata pembangunan yang dilakukannya, saya jadi teringat sama Pak Abdullah Azwar Anas. Maidi dan Anas punya kesamaan. Sama-sama suka bekerja untuk daerah yang dipimpinnya. Sama-sama kaya ide dan gebrakan dalam memajukan daerahnya.
Berkat hasil kerja nyatanya yang dinikmati langsung oleh rakyatnya, Pak Anas akhirnya terpilih kembali sebagai bupati periode berikutnya (2015–2020). Sangat mungkin, Pak Maidi juga akan mengikuti jejak Pak Anas. Rakyat Kota Madiun yang merasakan langsung kotanya berkembang pesat, akan memilihnya kembali pada Pilkada 2024 mendatang.(*)
*) Pekolom Banyuwangi Editor : Ali Sodiqin