Menjemput Puisi
Tumbuhan benalu telah pupus
Saat kau bergegas
Menjemput puisi dalam lembaran kertas
Dengan pena yang sudah ranggas
Dikikis oleh unggas-unggas
Di kala malam bertandang
Dan aku tak tau jalan pulang
Kuharap kau menjadi penerang
Pada lorong menuju tuhan
Lubtara 2020
----------------------------
Dongeng Tanah Ibu
Aku ingin bercerita tentang lekuk tanah ibu
Yang katanya, tanahnya terbuat dari darah
dan airnya terbuat dari air mata
Aku tau di lekuk tanah ibu,
baik di pedesaan atau di perkotaan
hukum rimba masih bergairah
Si pintar membodohi si bodoh,
Yang kuat melemahkan yang lemah
Begitulah lekuk tanah ibu
yang dijajah kera-kera perusak sejarah.
lubtara 2020
----------------------------
Sebait Hujan Perjalanan
Derai hujan tiba-tiba datang
Menerobos sunyi menghadirkan sepucuk rindu
Rindu itu,
Melayang-layang bersama layangan
Lalu hinggap di dermaga air mata
Di dalamnya sebait gelisah
Berenang menuju ujung angan
Dan bertemu dengan pelangi
Yang tersirat di balik awan
SMA Annuqayah 2020
----------------------------
Berpulang pada Kesaksian
Sesekali aku akan berbicara pada tanah
Supaya tetap setia mencatat persinggahan
Untuk sekadar dijadikan dokumentasi
Jika bertandang ke rumah tuhan yang suci
Perjalanan ini penuh duri
Jika kita tak berhati-hati maka kita akan mati
Karena nyatanya kita hanya binatang
Yang berharap sebuah kedamaian dari tawakal doa
Maka ketika kita telah pulang
Jangan lupa apa yang pernah angin ajarkan
Prihal air dan api di persimpangan jalan
Menuju kesejahteraan atau siksaan yang menanti
Persiapkanlah sebab kita akan pulang
Bersama oleh-oleh persaksian
Yang kita tenteng pada tangan
Lalu meletakkannya dalam pangkuan timbangan
Lubtara 2020
----------------------------
Kemenyan
Dahagaku yang kerontang gersang
Sedangkan hujan tak lagi menyemai siang
Tubuhku gemetar mengejang
ketika kulihat bumi bermusim kemarau
Telah sempurna meriang tubuh ilalang
Menyaksikan angin kenangan
Berpeluk mesra bersama hening
Saat kegelapan malam semakin merang-rang
Di balik batu rindu
Sajak jangkrik menderu
Menerobos sunyi pencipta tembang-tembang sembilu
Lalu membenamnya dalam klopak kemang kalbu
Seketika temaram lampu meredup
Dan segerombolan batu-batu mengecup
Pada harum kemenyan di kesunyian
Lubtara 2020
----------------------------
Perlahan-lahan Kau Menjauh
Wa,
Senja yang telah kumaknai
Ia bercerita tentang bunga
Apakah kau telah memetiknya dalam kalbu
Supaya harumnya menjadi rindu
Sesudah kau memetiknya
Mimpi kini menjadi harapan dalam rasa
Semoga kita tidak lupa:
Ketika kita sudah merayakan kepergian
Barangkali kau telah menelanjangi hati baru
Membuatmu telah sempurna membiru
Dalam sembilu yang selalu mencumbu
Pada muramnya malam layu
Lubtara 2020
----------------------------
Rindu yang Kau Temui
Setelah senja,
Kau akan bertemu rindu
”Apakah rindu ada?” katamu,
Waktu akan mempertemukanmu
Dengan rindu biru kelabu
Di dalam rindu kau akan mendengar
Irama gerimis malam
Setelahnya, kau akan kembali pada pagi
Yang menyeret pelangi dari wajahmu
Lubtara 2020
----------------------------
Aku dan Empat Permata
Aku dan empat permata
Tumbuh mulia bersama angin
Berlayar menembus sepi
Tanpa kesedihan yang menari
Aku dan empat permata
Terjun bebas di gunung kaca
Memecah segala resah
Demi kebebasan pelangi pada gelisah
Aku dan empat permata
Terkadang disapa hujan
Yang menyelimuti langit langit rumahku
Lalu tenggelam pada waktu senja,
Namun terbit lagi pada waktu pagi
Pondok kata 2020
----------------------------
Pertemuan
Sesudah ke guguran rindu
Cawan-cawan arak pecah
Pecahannya menjadi madu
Menghangatkan sukma dalam beku
Utuslah irama lembutmu
Pada jam kalbu
Seperti lagu-lagu syahdu
Pemecah kesunyian semu
Beribu kata sudah kubumbui
Dengan senyummu pelangi
Di tiap rotasi senja yang dimakan beku
Lubtara 2020
----------------------------
Api di Tubuhmu
Bila bulan redup,
Semoga kau mengambil sebagian cahaya
Dari matahari yang terpancar di hati
Lalu menerangi samudra kelabu
Pada angin,
jangan lupa kau bisikkan
Tentang waktu yang terhadang
Pada kecamuk perang bayang
Kau tau!
Di tubuhku perlu ranting
Yang tumbuh dari tubuhmu
Agar api membara dalam candu
Lubtara 2020
----------------------------
*) Santri Ponpes Annuqayah Lubangsa Utara. Sedang menempuh pendidikan di SMA Annuqayah. Sekarang aktif menulis di kompleks Reguler dan Komunitas Laskar Pena Lubtara. Pustakawan Ponpes Annuqayah Lubangsa Utara.
Editor : Ali Sodiqin