HURUF C tampaknya menjadi simbol keramat bagi unsur non-logam yang menyimpan empat elektron untuk prosesing ikatan kavalen dalam ilmu kimia. Keberadaannya sudah terendus sejak zaman purba dan punya silsilah langsung dengan komunitas batubara.
Kaum cerdik pandai menamai statusnya sebagai “karbon”. Mereka memprediksi dari dalam kerak bumi hanya terdapat 0,19 persen yang membelah diri pada bentuk murni dan terikat di tangan orang baik dan berniat baik “karbon” bisa diubah menjadi perhiasan yang mahal dan material pesawat terbang, kapal, laptop, hingga gagang pancing.
Sebaliknya di tangan orang yang berniat jahat dan suka berbuat jahat “karbon” bisa diubah menjadi racun CO2 yang membuat metabolisme tubuh bereaksi dengan darah sehingga menurunkan kesadaran dan serangan jantung. Mulai bentuk yang sederhana berupa polusi hingga fosgen berumus COCI2 yang terkenal sejak perang dunia pertama sebagai senjata yang mematikan.
Gerakan liar “karbondioksida" konon menjadi sebab terjadinya anomali cuaca yang saat ini bukan lagi isu, tapi kenyataan yang harus diterima dengan kecerdasan bertindak, musim penghujan yang biasa berlangsung mulai November hingga Mei tampaknya hampir menjadi “arsip sejarah” masa lalu.
Pakar lingkungan menginformasikan bahwa, idealnya sinar matahari menyentuh bumi dalam bentuk energi dua puluh lima persen, kemudian dipantulkan oleh awan sebagai hukum sirkulasi. Namun, oleh karena tingginya populasi “karbondioksida" wa ala alihi wa sohbih, tentu “korban” CFC menjadi sangat mengkhawatirkan hingga muncul ikhtiar untuk mengendalikannya lewat “kesepakatan montreal”.
Dari sini sejenak kita bisa berimajinasi, bahwa pembakaran satu liter premium yang mengandung isooktana dan heptane bisa memproduksi 2 kilogram “karbondioksida" bagaimana jika dikalikan sekian juta liter dari mobilitas mesin transportasi dan pembangkit listrik tiap harinya tentu muncul sekian ribu kilogram “karbondioksida" yang amat mengkhawatirkan.
Program sedekah oksigen dengan menanam pohon yang digaungkan Pemkab Banyuwangi menemukan bentuknya sebagai “kurban” untuk menghindari jatuhnya banyak “korban” akibat “karbondioksida".
Bahkan para ilmuwan AS telah berhasil merekayasa organisme di laboratorium yang dapat mengubah “karbondioksida" menjadi energi yang bisa mengatasi polusi sekaligus sumber energi yang melimpah.
Craig Venter, dalam konferensi Technology Entertainment and Design di Montery menyebut proyeknya sebagai bahan bakar generasi keempat dengan menyisipkan kromosom buatan dari hasil repkikasi sel ke dalam tubuh mikroorganisme, hingga membuatnya lebih rakus menyerap “karbondioksida".
“Andaikata semua bakteri menghasilkan gas buang sebesar yang kami inginkan, bumi sudah menjadi planet metan,'' ujar Venter. Ikhtiar mulia beliau bersama kawan-kawan yang demikian bisa dikategorikan sebagai esensi “kurban” waktu, ilmu, dan uang untuk keselamatan bumi beserta seluruh penghuninya.
Dalam teorema QS:3:92 ditegaskan bahwa “Tidaklah kalian peroleh kebajikan yang sempurna hingga kalian sanggup mendermakan properti yang paling kalian hargai...”. Laku bijak yang demikian adalah cermin sunnah Ibrahimiyyah yang ikhlas mempersembahkan properti yang paling berharga Ismail AS untuk menjadi “kurban” demi melaksanakan perintah Allah.....(*)