RADARBANYUWANGI.ID – Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menghadirkan inovasi pelayanan publik bagi pemudik Lebaran 2026. Melalui program Masjid Ramah Pemudik, sebanyak 48 masjid disiapkan sebagai titik istirahat nyaman di sepanjang jalur mudik.
Program ini resmi diluncurkan di Masjid Al Huda, Selasa (17/3), dan langsung menjadi perhatian sebagai salah satu upaya konkret meningkatkan kenyamanan perjalanan para pemudik.
48 Masjid Siaga di Jalur Strategis
Program ini tidak sekadar simbolis. Sebanyak 48 masjid tersebar di jalur utama Banyuwangi, mulai dari wilayah utara, tengah, hingga selatan yang menjadi lintasan padat pemudik.
Masjid-masjid tersebut dipilih berdasarkan lokasi strategis serta kesiapan fasilitas yang memadai. Di dalamnya, pemudik dapat menikmati berbagai layanan, seperti:
- Tempat istirahat yang nyaman
- Air minum gratis
- Toilet bersih
- Area ibadah yang representatif
- Layanan kesehatan
- Pijat gratis di beberapa titik
Seluruh fasilitas ini disiapkan untuk memberikan kenyamanan maksimal bagi pemudik yang menempuh perjalanan panjang.
Masjid Kembali ke Fungsi Sosial
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menegaskan bahwa program ini merupakan upaya mengembalikan fungsi masjid sebagai pusat aktivitas umat.
“Masjid bukan hanya tempat ibadah ritual, tetapi juga memiliki fungsi sosial yang besar. Masjid harus hadir sebagai ruang pelayanan masyarakat yang lebih luas,” ujarnya.
Menurutnya, konsep ini sejalan dengan tradisi Islam yang menjadikan masjid sebagai pusat berbagai aktivitas sosial, mulai dari diskusi hingga pelayanan masyarakat.
Operasional 24 Jam Selama Musim Mudik
Selama arus mudik Lebaran, seluruh masjid ramah pemudik akan beroperasi selama 24 jam.
Hal ini memungkinkan pemudik untuk beristirahat kapan saja, tanpa khawatir kesulitan mencari tempat singgah yang aman dan nyaman.
Beberapa masjid yang menjadi titik layanan antara lain:
- Masjid Nurul Huda
- Masjid Baiturrohman
- Masjid Baiturrohim
- Masjid Nurul Karim
Sebanyak 13 masjid di antaranya berada di jalur utama dari Wongsorejo hingga Kalibaru yang menjadi rute padat kendaraan.
Kolaborasi Pemerintah dan Masyarakat
Kepala Kantor Kementerian Agama Banyuwangi, Chaeroni Hidayat, menyebut program ini sebagai hasil kolaborasi antara pemerintah daerah dan masyarakat.
“Masjid-masjid ini merupakan wajah pelayanan umat. Banyuwangi termasuk yang paling responsif dalam menghadirkan program ini,” ungkapnya.
Dukungan juga datang dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) yang membantu penyediaan berbagai kebutuhan program sebagai bentuk kepedulian sosial.
Terbanyak di Jawa Timur
Dengan total 48 titik, Banyuwangi menjadi daerah dengan jumlah masjid ramah pemudik terbanyak di Jawa Timur.
Capaian ini menunjukkan keseriusan pemerintah daerah dalam menyambut pemudik sekaligus memberikan pengalaman perjalanan yang lebih manusiawi.
Solusi Nyata di Tengah Perjalanan Panjang
Program ini hadir sebagai solusi atas kebutuhan mendasar pemudik yang kerap kelelahan di perjalanan. Tidak semua pemudik memiliki akses ke rest area berbayar atau fasilitas yang memadai.
Melalui masjid ramah pemudik, masyarakat kini memiliki alternatif tempat singgah yang tidak hanya gratis, tetapi juga memberikan ketenangan spiritual.
Dengan konsep ini, Banyuwangi tidak hanya menjadi daerah lintasan, tetapi juga destinasi singgah yang ramah dan penuh pelayanan bagi para “pejuang mudik” Lebaran 2026. (ray/aif)
Editor : Ali Sodiqin