Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kenapa Banyuwangi Dijuluki Kota Santet?

Ali Sodiqin • Selasa, 20 Mei 2025 | 20:35 WIB
Foto ilustrasi. (Thumbnail kanal youtube TRANS7 OFFICIAL)
Foto ilustrasi. (Thumbnail kanal youtube TRANS7 OFFICIAL)

RADARBANYUWANGI.ID - Nama Banyuwangi pernah identik dengan citra kelam sebagai “Kota Santet,” sebuah julukan yang muncul akibat tragedi pembantaian dukun santet pada tahun 1998.

Ratusan orang yang dituduh sebagai pelaku ilmu hitam dibunuh secara brutal dalam peristiwa yang kemudian dikenang sebagai salah satu pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat di Indonesia.

Kala itu, ketegangan sosial, isu mistik, dan ketidakstabilan politik pasca-reformasi menciptakan iklim yang memungkinkan kekerasan tersebut terjadi.

Tanpa proses hukum yang adil, banyak warga menjadi korban fitnah dan amukan massa, hanya karena dicurigai sebagai dukun santet.

Julukan yang Melekat, Upaya yang Tak Pernah Surut

Pasca tragedi tersebut, Banyuwangi dibayangi oleh stigma negatif. Wilayah di ujung timur Pulau Jawa itu kerap diasosiasikan dengan hal-hal mistis, ilmu hitam, dan ketakutan.

Julukan "Kota Santet" pun melekat kuat dalam ingatan publik, bahkan hingga kini.

Namun seiring berjalannya waktu, Banyuwangi menunjukkan tekad kuat untuk bangkit dan mengubah citranya.

Pemerintah daerah bersama masyarakat terus berbenah, menjadikan sektor pariwisata dan teknologi informasi sebagai ujung tombak transformasi.

Banyuwangi kini dikenal dengan pesona alamnya—dari Kawah Ijen yang mendunia dengan api biru, Pantai Pulau Merah yang memikat wisatawan, hingga perhelatan budaya seperti Festival Gandrung Sewu dan Jazz Gunung.

Di sisi lain, kemajuan teknologi menjadikan Banyuwangi sebagai salah satu kota digital percontohan, bahkan mendapat julukan baru sebagai “Smart City” di Indonesia.

Menatap Masa Depan, Tidak Lupa Sejarah

Meski kini menjelma sebagai destinasi wisata unggulan dan kota berteknologi maju, Banyuwangi tidak menafikan masa lalunya.

Tragedi 1998 tetap menjadi bagian penting dalam sejarah kolektif yang perlu dikenang—bukan untuk membuka luka lama, tapi sebagai pengingat bahwa kekerasan berbasis stigma dan kecurigaan tidak boleh terulang.

Transformasi Banyuwangi menjadi contoh nyata bahwa daerah dengan sejarah kelam sekalipun dapat bangkit dan berkontribusi positif bagi bangsa, selama ada niat, kerja keras, dan kemauan untuk berubah.

Kini, masyarakat diharapkan dapat melihat Banyuwangi dari perspektif baru—bukan sebagai “Kota Santet,” tetapi sebagai kota harapan, budaya, dan inovasi. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#pembantaian dukun #kota santet #banyuwangi