Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Siapa Ardianto Wijaya, Lare Oseng Banyuwangi yang Didapuk Jadi Moderator Debat Calon Presiden

Gareta Yoga Eka Wardani • Rabu, 13 Desember 2023 | 18:04 WIB
IKUT BANGGA: Suparman dan Abadi Melati Peni menunjukkan penghargaan yang diraih Ardianto Wijaya di rumahnya Kelurahan Tamanbaru, Banyuwangi, Selasa (12/12). Ardianto Wijaya (kanan)
IKUT BANGGA: Suparman dan Abadi Melati Peni menunjukkan penghargaan yang diraih Ardianto Wijaya di rumahnya Kelurahan Tamanbaru, Banyuwangi, Selasa (12/12). Ardianto Wijaya (kanan)

RadarBanyuwangi.id – Sukses debat calon presiden (capres) tadi malam tidak lepas dari peran putra asli Banyuwangi. Ardianto Wijaya didapuk sebagai moderator jalannya debat.

Pria yang kini bekerja di Stasiun TVRI Jakarta tersebut tercatat sebagai lare Oseng sejati.

Sungguh membanggakan, salah satu putra daerah Bumi Blambangan berhasil lolos seleksi menjadi moderator memimpin debat capres Anis Baswedan, Prabowo Subianto, dan Ganjar Pranowo tadi malam.

Dia adalah Ardianto Wijaya anak dari pasangan suami istri Suparman dan Abadi Melati Peni.

Keberhasilan pria kelahiran 25 Agustus 1993 itu bukan tanpa alasan. Berbagai seleksi dilewati oleh Jaya—panggilan akrabnya— hingga berhasil melenggang sebagai moderator pada debat capres.

Jawa Pos Radar Banyuwangi, Selasa (12/12) menemui Abadi Melati Peni, orang tua Jaya yang tinggal di Jalan Terusan Borobudur Nomor 189, RT 02 RW 04, Kelurahan Tamanbaru, Banyuwangi.

Wajah semringah terpancar dari wanita berusia 56 tahun tersebut. Peni terlihat ceria  dengan balutan kerudung berwarna merah.

Peni tak menyangka anak sulungnya yang alumnus SMAN 1 Glagah tersebut berhasil menjadi moderator dan memimpin debat capres-cawapres.

”Alhamdulillah, saya merasa bangga dan bersyukur mendengar Jaya bisa menjadi moderator,” ujarnya.

Peni pun terdiam sejenak, lalu mengingat masa-masa Jaya masih berjuang sejak di bangku sekolah dasar.

Sejak kecil, bakat Jaya sebagai pemandu acara telah terlihat saat menimba ilmu di SD Muhammadiyah 1 Banyuwangi.

Melihat bakat dan kemampuan Jaya berbicara, sejumlah radio swasta merekrut Jaya sebagai presenter cilik.

Dukungan Peni kepada anaknya sungguh luar biasa. Demi meningkatkan kompetensi sang anak, Peni memfasilitasi Jaya belajar sebagai presenter di salah satu radio swasta di Banyuwangi.

Tidak hanya berbakat di dunia jurnalistik. Jaya juga menunjukkan kemampuannya di berbagai bidang. Mulai dari fashion, public speaking, dan kemampuan lainnya.

Bakat Jaya semakin terlihat begitu berstatus sebagai mahasiswa D-3 Komunikasi di Universitas Padjadjaran (Unpad).

Dalam sebuah event, Jaya berhasil menyabet juara 1 lomba presenter tingkat nasional.

Berawal dari momen membahagiakan tersebut, Jaya menerima berbagai tawaran dari stasiun televisi nasional maupun swasta di Indonesia.

Namun, Peni dan suaminya, Suparman, belum mengizinkan Jaya untuk bekerja sambil kuliah.

Sebagai orang tua, keduanya menginginkan Jaya fokus dalam pendidikan terlebih dulu.

”Mau direkrut sebagai presenter TransTV, SCTV, dan Indosiar, tapi harus pindah ke Jakarta. Tapi, kami belum mengizinkan karena masih kuliah,” kata Peni.

Tak seberapa lama, Jaya berhasil meyakinkan kedua orang tuanya akan kemampuan yang dia miliki.

Jaya pun berjanji kepada kedua orang tuanya. Meski sibuk sebagai presenter, dia berjanji hal itu tidak akan memengaruhi nilai kuliahnya.

”Akhirnya Jaya direkrut TVRI Bandung dan menjadi yang termuda saat usianya 18 tahun. Pagi kuliah, malam menjadi pembaca berita di TVRI Bandung sampai lulus kuliah. Selanjutnya, dipanggil TVRI Nasional ikut tes sebelum lulus. Akhirnya diambil TVRI pusat yang berada di Jakarta,” papar wanita yang mengajar mata pelajaran PKN di SMPN 2 Banyuwangi itu.  

Suparman tidak mau kalah menceritakan pencapaian yang telah dijalani putra sulungnya tersebut.

Dia berjalan menuju salah satu lemari yang berisi puluhan piala dan sertifikat.  

Piala-piala tersebut menjadi saksi bisu prestasi dan perjuangan yang dilakukan Jaya.

Berkat kecakapan Jaya sebagai presenter, ragam penghargaan telah diraih. Mulai penghargaan dari instansi pemerintah, media lokal, hingga nasional.

”Dia aktif mengikuti berbagai perlombaan. Sejak direkrut di TVRI Nasional, Jaya sering dipanggil ke kampusnya (Unpad) untuk menjadi juri perlombaan pembawa acara,” ungkap Suparman yang sehari-harinya sebagai ASN pada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jatim yang kantornya berada di Wongsorejo.  

Suparman mengaku sempat ditelepon Jaya sebelum seleksi moderator debat capres-cawapres. 

Jaya minta didoakan agar lolos seleksi. Begitu dinyatakan lolos, Jaya kembali menghubungi kedua orang tuanya.

”Mama, Papa, sujud syukur ya. Aku berhasil lolos seleksi jadi moderator,” kata Suparman menirukan suara Jaya saat menelpon.

Peni dan Suparman terakhir berkomunikasi dengan Jaya pada Minggu (10/12).

Sejak Senin (11/12) Jaya sudah menjalani karantina. Dia  tidak diperbolehkan bermain smartphone hingga pelaksanaan debat.

”Sudah dikarantina mulai kemarin (Senin) dan tidak boleh ada komunikasi dengan pihak luar untuk menjaga netralitas,” kata Suparman. (rei/aif/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#ganjar #muhaimin #debat #Lare Oseng #capres #tvri #seleksi #gibran #pemilu #anies #moderator #prabowo #banyuwangi #Mahfud