RADAR BANYUWANGI – Kelangkaan gas elpiji tabung 3 kilogram (kg) memicu kekhawatiran di masyarakat. Sebab, bahan bakar tabung ”melon” tersebut ditengarai bakal memicu inflasi di Banyuwangi.
Epiji bersubsidi sebenarnya merupakan salah satu barang yang harganya ditetapkan pemerintah (administered prices). Namun, apabila kelangkaan yang terjadi sejak dua pekan terakhir terus berlanjut, maka tidak tertutup kemungkinan bakal dimanfaatkan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab untuk menaikkan harga melebihi harga eceran tertinggi (HET).
Kepala Bagian (Kabag) Perekonomian Pemkab Banyuwangi Heni Sugiharti mengatakan, kelangkaan terjadi karena banyak yang menggunakan gas melon tersebut. Termasuk, pihak yang tidak seharusnya menggunakan elpiji bersubsidi. ”Namun kenyataannya, saat ini banyak masyarakat dari kalangan atas, juga rumah makan atau restoran yang masih menggunakannya. Fenomena ini masih kami tinjau dan segera kami tindak lanjuti,” ujarnya.
Heni menuturkan, Pertamina telah mendistribusikan gas melon tersebut secara merata. Bahkan, saat ini telah melebihi kuota hampir 4 persen. Diperkirakan hingga akhir tahun kelebihan pendistribusian elpiji bersubsidi tersebut mencapai 18 persen dari kuota. ”Menurut saya, jika disebut langka juga tidak. Saat ini perlahan mulai kondusif. Konfirmasi yang saya dapat hingga bulan Mei stok elpiji yang dibagikan justru telah melebihi target yaitu sebanyak 23.135 metrik ton (MT) atau setara sekitar 7,7 juta tabung gas,” jelasnya.
Di sisi lain, kelangkaan tabung gas elpiji 3 kg tersebut dikhawatirkan memicu inflasi. Terlebih, dalam waktu dekat masyarakat akan merayakan Idul Adha. ”Antisipasinya, dinas terkait akan mengadakan tinjau lapangan dan layanan operasi pasar murah. Saya juga mengimbau masyarakat agar membeli gas elpiji tersebut di pangkalan resmi dari Pertamina agar tidak terkena dampak penjual yang menaikkan harga semaunya,” kata Heni.
Kelangkaan gas elpiji bersubsidi di beberapa wilayah menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi pemerintah. Hingga Rabu (14/6), Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan (Diskop-UMP) Banyuwangi bersama Pertamina masih berusaha mencari penyebab langkanya gas tabung melon tersebut.
Kepala Diskop-UMP Nanin Oktaviantie mengatakan, untuk mengatasi kelangkaan elpiji, pihaknya sudah menemui sales branch manager Pertamina Wilayah Banyuwangi. Namun, dari penjelasan Pertamina, tidak ada pengurangan kuota maupun jatah distribusi untuk agen-agen di Banyuwangi. ”Kuota yang diberikan masih sama dengan tahun 2022 lalu,” ucapnya. (tar/sgt/c1)
Editor : Ali Sodiqin