alexametrics
25.6 C
Banyuwangi
Tuesday, July 5, 2022

Bisnis Properti Tidak Lagi Mejanjikan

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Pemerintah pusat telah mengucurkan berbagai stimulus untuk sektor properti yang juga terdampak pandemi Covid-19. Namun, penjualan bisnis properti dan perumahan di Banyuwangi masih jauh dari harapan, bahkan mengalami penurunan hingga 60 persen.

Fajar Susanto, Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (APERSI) wilayah Banyuwangi menyampaikan bahwa, selama pandemi terjadi penurunan penjualan bisnis properti. “Karena adanya pandemi daya beli masyarakat menjadi berkurang, sehingga mengakibatkan pangsa pasar yang kami sajikan juga ikut berkurang,”  ujar pria berusia 54 tahun tersebut.

Penjualan rumah di Banyuwangi dari Januari hingga Agustus 2021 diperkirakan mengalami penurunan sekitar 60 persen. Sebelum adanya pandemi, penjualan rumah bisa mencapai 20 unit per bulan. Namun, dalam kondisi saat ini penjualan rumah hanya 3 unit per bulan.

Selain karena pandemi proses realisasi pembangunan perumahan juga  terhambat dengan regulasi baru dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), sehingga semakin banyak tahapan yang harus dilalui. “Apabila analisis kredit sudah lolos dari pihak bank, masih belum bisa untuk realisasi. Karena sekarang harus terintegrasi dengan  aplikasi SiKasep dan SiKumbang, jadi prosesnya semakin lama,” katanya.

Sejauh ini permintaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bersubsidi jauh lebih banyak dibanding dengan KPR nonsubsidi, karena KPR bersubsidi merupakan kebutuhan bagi masyarakat berpenghasilan rendah. “Meskipun saat ini penjualan perumahan sedang dalam kondisi menurun, namun kami tetap optimis bahwa prospek di bidang bisnis properti akan berkembang pesat karena menjadi suatu kebutuhan masyarakat,” ungkapnya.

Untuk membantu geliat bisnis properti pemerintah pusat juga telah memberikan insentif berupa Pajak Pertambahan Nilai (PPN) ditanggung pemerintah (DTP), akan tetapi menurut fajar insentif tersebut tidak berpengaruh secara signifikan. “Insentif PPN DTP kurang memancing daya beli masyarakat. Semua tergantung pada  daya beli masyarakat, seperti apa kondisi ekonomi mereka saat ini,” tuturnya.

Guna mendongkrak penjualan rumah APERSI memberikan program diskon uang muka 50 persen bahkan tanpa uang muka atau 0 persen. “Apapun diskon yang kami berikan kepada masyarakat terasa percuma, karena dalam kondisi saat ini mereka belum berpikir untuk membeli rumah,” tambah Fajar.

Fajar berharap bahwa pemerintah menambahkan cadangan dana untuk pengajuan KPR bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Pujo Basuki selaku Branch Manager Bank Tabungan Negara (BTN) Banyuwangi menyampaikan bahwa permintaan KPR tahun 2021 realisasinya cenderung sama seperti tahun lalu. “Tantangan yang ada antara lain, berhubungan dengan kondisi pandemi Covid 19. Income yg terbatas dari Masyarakat berdampak pada penjualan dari mitra pengembang,” katanya.

Untuk mendongkrak penjualan rumah subsidi, Bank BTN selaku pihak yang melakukan proses pembiayaan selalu bersinergi dengan para stake holdernya sehingga mampu menyelesaikan tantangan yang dihadapi, baik itu dengan Pemerintah (Kementerian PUPR) maupun dengan mitra pengembang serta mendekatkan calon konsumen dengan mitra pengembang. “Contohnya seperti pelaksanaan pameran properti secara online yang memudahkan bagi calon konsumen untuk melihat lokasi dan produk para mitra kami, tanpa harus keluar dari rumah,” pungkasnya.

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Pemerintah pusat telah mengucurkan berbagai stimulus untuk sektor properti yang juga terdampak pandemi Covid-19. Namun, penjualan bisnis properti dan perumahan di Banyuwangi masih jauh dari harapan, bahkan mengalami penurunan hingga 60 persen.

Fajar Susanto, Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (APERSI) wilayah Banyuwangi menyampaikan bahwa, selama pandemi terjadi penurunan penjualan bisnis properti. “Karena adanya pandemi daya beli masyarakat menjadi berkurang, sehingga mengakibatkan pangsa pasar yang kami sajikan juga ikut berkurang,”  ujar pria berusia 54 tahun tersebut.

Penjualan rumah di Banyuwangi dari Januari hingga Agustus 2021 diperkirakan mengalami penurunan sekitar 60 persen. Sebelum adanya pandemi, penjualan rumah bisa mencapai 20 unit per bulan. Namun, dalam kondisi saat ini penjualan rumah hanya 3 unit per bulan.

Selain karena pandemi proses realisasi pembangunan perumahan juga  terhambat dengan regulasi baru dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), sehingga semakin banyak tahapan yang harus dilalui. “Apabila analisis kredit sudah lolos dari pihak bank, masih belum bisa untuk realisasi. Karena sekarang harus terintegrasi dengan  aplikasi SiKasep dan SiKumbang, jadi prosesnya semakin lama,” katanya.

Sejauh ini permintaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bersubsidi jauh lebih banyak dibanding dengan KPR nonsubsidi, karena KPR bersubsidi merupakan kebutuhan bagi masyarakat berpenghasilan rendah. “Meskipun saat ini penjualan perumahan sedang dalam kondisi menurun, namun kami tetap optimis bahwa prospek di bidang bisnis properti akan berkembang pesat karena menjadi suatu kebutuhan masyarakat,” ungkapnya.

Untuk membantu geliat bisnis properti pemerintah pusat juga telah memberikan insentif berupa Pajak Pertambahan Nilai (PPN) ditanggung pemerintah (DTP), akan tetapi menurut fajar insentif tersebut tidak berpengaruh secara signifikan. “Insentif PPN DTP kurang memancing daya beli masyarakat. Semua tergantung pada  daya beli masyarakat, seperti apa kondisi ekonomi mereka saat ini,” tuturnya.

Guna mendongkrak penjualan rumah APERSI memberikan program diskon uang muka 50 persen bahkan tanpa uang muka atau 0 persen. “Apapun diskon yang kami berikan kepada masyarakat terasa percuma, karena dalam kondisi saat ini mereka belum berpikir untuk membeli rumah,” tambah Fajar.

Fajar berharap bahwa pemerintah menambahkan cadangan dana untuk pengajuan KPR bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Pujo Basuki selaku Branch Manager Bank Tabungan Negara (BTN) Banyuwangi menyampaikan bahwa permintaan KPR tahun 2021 realisasinya cenderung sama seperti tahun lalu. “Tantangan yang ada antara lain, berhubungan dengan kondisi pandemi Covid 19. Income yg terbatas dari Masyarakat berdampak pada penjualan dari mitra pengembang,” katanya.

Untuk mendongkrak penjualan rumah subsidi, Bank BTN selaku pihak yang melakukan proses pembiayaan selalu bersinergi dengan para stake holdernya sehingga mampu menyelesaikan tantangan yang dihadapi, baik itu dengan Pemerintah (Kementerian PUPR) maupun dengan mitra pengembang serta mendekatkan calon konsumen dengan mitra pengembang. “Contohnya seperti pelaksanaan pameran properti secara online yang memudahkan bagi calon konsumen untuk melihat lokasi dan produk para mitra kami, tanpa harus keluar dari rumah,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/