alexametrics
28.2 C
Banyuwangi
Wednesday, June 29, 2022

Kuliah Tak Sekadar Memburu Gelar dan Ijazah

SETIAP orang mempunyai kewajiban dan hak untuk belajar, mulai dari kanak-kanak hingga orang dewasa. Belajar merupakan rutinitas tanpa batas, menuntut ilmu demi mendapat wawasan luas, membaca buku sebagai sumber ilmu, dan juga guru sebagai sosok yang digugu dan ditiru.

Tanpa disadari, manusia pada hakikatnya sudah belajar sejak ia dilahirkan di muka bumi ini. Memang, belajarnya tidak menggunakan buku atau pun guru, namun seorang bayi belajar tentang kehidupan pertamanya, tentang mengenal dunia.

Sampai ia tumbuh remaja dan dewasa masih akan tetap belajar. Belajar mulai jenjang TK, SD, SMP, SMA, hingga Perguruan Tinggi. Pemerintah pun kian gencar mencanangkan program wajib belajar selama 12 tahun. Ya, itu hanya kewajiban pemerintah, sedangkan kita sebagai seorang manusia wajib hukumnya untuk terus belajar hingga akhir hayat.

Yang jadi pertanyaan adalah, untuk apa sih seseorang diwajibkan belajar? Untuk menggapai cita-cita? Untuk masa depan yang tertata? Dan berbagai motivasi dan tujuan lain yang tak sama. Banyak anak-anak yang niat belajar hanya karena suruhan orang tua, banyak para remaja yang tujuan belajar hanya untuk cari pacar, banyak mahasiswa yang belajar dengan harapan mendapat gelar.

Apakah motivasi dan tujuan itu salah? Tergantung bagaimana Anda menyikapinya sendiri. Sebagai seorang yang menulis opini ini, tentu saya mempunyai argumen tersendiri. Dan kenapa juga saya memberikan sebuah opini seperti ini karena saya mengamati dan melihat sebuah fenomena yang kurang mengenakkan.

Bagaimana tidak, status saya sebagai mahasiswa tentu diharuskan berpikir kritis dalam menyikapi berbagai hal, tak terkecuali dalam hal perkuliahan/pembelajaran. Mungkin para pahlawan kita akan menangis jika menyaksikan generasi penerusnya seperti ini, generasi yang disebut generasi milenial atau pun jika Anda tega bisa mengatakan sebagai generasi micin.

Kenapa demikian? Banyak hal yang membuat saya prihatin dan miris akan generasi penerus ini. Bayangkan, saat perkuliahan yang berlangsung beberapa waktu lalu, banyak teman-teman saya yang tidak tahu tentang sejarah bangsa Indonesia sendiri. Banyak yang acuh tak acuh dalam diskusi maupun kepekaan dalam menerima informasi. Kuliah hanya duduk, mendengarkan dosen menerangkan (entah paham atau tidak), mengisi absen, lalu pulang.

Setidaknya begitu siklus kuliah mahasiswa zaman now. Sangat stuck dan stagnan. Ada beberapa julukan yang melekat dalam dunia mahasiswa.

Pertama, Mahasiswa Kupu-Kupu. Akronim dari mahasiswa kuliah-pulang, kuliah-pulang. Mahasiswa tipe ini yang selalu dinanti adalah waktu jam perkuliahan habis, sehingga dengan segera pulang ke rumah atau pun kos-kosan.

Kedua, ada tipe Mahasiswa Kura-Kura. Singkatan dari mahasiswa kuliah-rapat, kuliah-rapat. Berbeda dengan mahasiswa kupu-kupu, mahasiswa tipe ini bisa disebut anti pulang-pulang club. Selesai kuliah, selalu ada agenda rapat yang akan dibahas, entah membahas tentang suatu acara, akademik, unit kegiatan mahasiswa, dan berbagai hal lainnya.

Ketiga, Mahasiswa Kuda-Kuda. Julukan ini diberikan kepada mahasiswa yang kerjaan lain selain kuliah adalah dagang/jualan. Baik itu jualan makanan, pakaian, souvenir, buku, dan macam-macam produk lainnya.

Keempat, Mahasiswa Kuman-Kuman. Kuman di sini artinya bukan sebuah bakteri, tetapi kependekan dari kuliah-main, kuliah main. Tentu, kerjaan lain selain kuliah ya main-main ke sana ke mari, entah itu nongkrong, traveling, atau pun shopping.

Kelima, ada Mahasiswa Kucing. Kepanjangannya kuliah cari yang bening. Maksudnya, mahasiswa tipe ini memanfaatkan momentum kuliah untuk mencari jodoh, karena yang dia pikirkan adalah selama kuliah stok manusia berlimpah, tinggal pilih yang sesuai dengan hati, kalau sudah cocok ya pasti lanjut ke jenjang pelaminan. Hehe.

Nah, kiranya itulah beberapa julukan yang identik dengan mahasiswa. Perlu digarisbawahi adalah semua julukan tersebut tidak bermaksud mendiskreditkan seseorang. Mahasiswa yang dijuluki mahasiswa kupu-kupu tak selamanya dipandang kuper dan lugu. Siapa tahu mahasiswa tipe ini adalah mahasiswa yang tidak mau menggunakan waktunya dengan hal-hal yang sia-sia, mereka lebih memilih pulang daripada harus keluyuran nggak jelas dengan teman-temannya.

Begitupun dengan mahasiswa tipe kura-kura, tak selalu mahasiswa tipe ini dipersepsikan sebagai mahasiswa sok sibuk, mahasiswa yang aktivis, maupun mahasiswa yang idealis. Dengan aktivitasnya yang selalu rapat itulah kepribadian mereka terbentuk, pola pikir mereka berubah, dan juga teman pun ikut bertambah. Sering dijumpai mahasiswa tipe ini sering tegur sapa dengan mahasiswa lain yang berasal dari kepentingan yang sama.

Selanjutnya, mahasiswa kuda-kuda, nggak mesti mahasiswa yang sering dagang dianggap sebagai mahasiswa yang kurang mampu, dianggap mahasiswa yang cerewet, tukang basa-basi, dan lain-lain. Ketahuilah, beberapa tahun ke depan mereka bukan tidak mungkin menjadi seorang entrepreneur yang sukses. Yang latihan dan belajarnya diawali dari bangku perkuliahan itu sendiri.

Mahasiswa kuman-kuman juga demikian, jangan pernah menilai mahasiswa seperti ini adalah mahasiswa yang kerjaannya nggak jelas, ngabisin waktu dengan hal yang tidak ada manfaatnya, dan selalu menghabiskan uang. Percayalah, dengan perilakunya yang seperti itu mereka akan tumbuh menjadi mahasiswa yang supel, mahasiswa yang punya banyak jaringan, punya banyak wawasan, dan pasti memiliki jiwa sosial yang tinggi.

Yang terakhir, mahasiswa kucing juga jangan terlalu di judge negatif. Jangan menganggap mereka kerjaannya pacaran terus, galau dan patah hati di sosmed. Siapa tahu juga, dengan adanya kekasih, mereka bisa jauh lebih semangat, jauh lebih termotivasi untuk kuliah. Tapi selama itu masih berkaitan dengan hal-hal yang positif tidak masalah, yang dikhawatirkan ketika sudah terjerumus dalam hal yang negatif.

Terlepas dari baik dan buruknya setiap tipe-tipe mahasiswa, sudah seyogianya kita harus ingat tujuan awal kita kuliah. Jangan terlena dengan berbagai macam godaan dan rayuan yang menyebabkan kita salah dalam koridor yang telah ditetapkan.

Fokus kuliah yang utama. Aktivitas rapat, dagang, main-main, maupun pacaran sebaiknya dinomor-duakan. Karena kuliah bukan hanya sekadar mendapat gelar dan ijazah, tetapi kuliah merupakan sarana kita untuk menggapai masa depan yang lebih cerah.(*)

*) Mahasiswa asal Desa Olehsari, Kecamatan Glagah, Banyuwangi

SETIAP orang mempunyai kewajiban dan hak untuk belajar, mulai dari kanak-kanak hingga orang dewasa. Belajar merupakan rutinitas tanpa batas, menuntut ilmu demi mendapat wawasan luas, membaca buku sebagai sumber ilmu, dan juga guru sebagai sosok yang digugu dan ditiru.

Tanpa disadari, manusia pada hakikatnya sudah belajar sejak ia dilahirkan di muka bumi ini. Memang, belajarnya tidak menggunakan buku atau pun guru, namun seorang bayi belajar tentang kehidupan pertamanya, tentang mengenal dunia.

Sampai ia tumbuh remaja dan dewasa masih akan tetap belajar. Belajar mulai jenjang TK, SD, SMP, SMA, hingga Perguruan Tinggi. Pemerintah pun kian gencar mencanangkan program wajib belajar selama 12 tahun. Ya, itu hanya kewajiban pemerintah, sedangkan kita sebagai seorang manusia wajib hukumnya untuk terus belajar hingga akhir hayat.

Yang jadi pertanyaan adalah, untuk apa sih seseorang diwajibkan belajar? Untuk menggapai cita-cita? Untuk masa depan yang tertata? Dan berbagai motivasi dan tujuan lain yang tak sama. Banyak anak-anak yang niat belajar hanya karena suruhan orang tua, banyak para remaja yang tujuan belajar hanya untuk cari pacar, banyak mahasiswa yang belajar dengan harapan mendapat gelar.

Apakah motivasi dan tujuan itu salah? Tergantung bagaimana Anda menyikapinya sendiri. Sebagai seorang yang menulis opini ini, tentu saya mempunyai argumen tersendiri. Dan kenapa juga saya memberikan sebuah opini seperti ini karena saya mengamati dan melihat sebuah fenomena yang kurang mengenakkan.

Bagaimana tidak, status saya sebagai mahasiswa tentu diharuskan berpikir kritis dalam menyikapi berbagai hal, tak terkecuali dalam hal perkuliahan/pembelajaran. Mungkin para pahlawan kita akan menangis jika menyaksikan generasi penerusnya seperti ini, generasi yang disebut generasi milenial atau pun jika Anda tega bisa mengatakan sebagai generasi micin.

Kenapa demikian? Banyak hal yang membuat saya prihatin dan miris akan generasi penerus ini. Bayangkan, saat perkuliahan yang berlangsung beberapa waktu lalu, banyak teman-teman saya yang tidak tahu tentang sejarah bangsa Indonesia sendiri. Banyak yang acuh tak acuh dalam diskusi maupun kepekaan dalam menerima informasi. Kuliah hanya duduk, mendengarkan dosen menerangkan (entah paham atau tidak), mengisi absen, lalu pulang.

Setidaknya begitu siklus kuliah mahasiswa zaman now. Sangat stuck dan stagnan. Ada beberapa julukan yang melekat dalam dunia mahasiswa.

Pertama, Mahasiswa Kupu-Kupu. Akronim dari mahasiswa kuliah-pulang, kuliah-pulang. Mahasiswa tipe ini yang selalu dinanti adalah waktu jam perkuliahan habis, sehingga dengan segera pulang ke rumah atau pun kos-kosan.

Kedua, ada tipe Mahasiswa Kura-Kura. Singkatan dari mahasiswa kuliah-rapat, kuliah-rapat. Berbeda dengan mahasiswa kupu-kupu, mahasiswa tipe ini bisa disebut anti pulang-pulang club. Selesai kuliah, selalu ada agenda rapat yang akan dibahas, entah membahas tentang suatu acara, akademik, unit kegiatan mahasiswa, dan berbagai hal lainnya.

Ketiga, Mahasiswa Kuda-Kuda. Julukan ini diberikan kepada mahasiswa yang kerjaan lain selain kuliah adalah dagang/jualan. Baik itu jualan makanan, pakaian, souvenir, buku, dan macam-macam produk lainnya.

Keempat, Mahasiswa Kuman-Kuman. Kuman di sini artinya bukan sebuah bakteri, tetapi kependekan dari kuliah-main, kuliah main. Tentu, kerjaan lain selain kuliah ya main-main ke sana ke mari, entah itu nongkrong, traveling, atau pun shopping.

Kelima, ada Mahasiswa Kucing. Kepanjangannya kuliah cari yang bening. Maksudnya, mahasiswa tipe ini memanfaatkan momentum kuliah untuk mencari jodoh, karena yang dia pikirkan adalah selama kuliah stok manusia berlimpah, tinggal pilih yang sesuai dengan hati, kalau sudah cocok ya pasti lanjut ke jenjang pelaminan. Hehe.

Nah, kiranya itulah beberapa julukan yang identik dengan mahasiswa. Perlu digarisbawahi adalah semua julukan tersebut tidak bermaksud mendiskreditkan seseorang. Mahasiswa yang dijuluki mahasiswa kupu-kupu tak selamanya dipandang kuper dan lugu. Siapa tahu mahasiswa tipe ini adalah mahasiswa yang tidak mau menggunakan waktunya dengan hal-hal yang sia-sia, mereka lebih memilih pulang daripada harus keluyuran nggak jelas dengan teman-temannya.

Begitupun dengan mahasiswa tipe kura-kura, tak selalu mahasiswa tipe ini dipersepsikan sebagai mahasiswa sok sibuk, mahasiswa yang aktivis, maupun mahasiswa yang idealis. Dengan aktivitasnya yang selalu rapat itulah kepribadian mereka terbentuk, pola pikir mereka berubah, dan juga teman pun ikut bertambah. Sering dijumpai mahasiswa tipe ini sering tegur sapa dengan mahasiswa lain yang berasal dari kepentingan yang sama.

Selanjutnya, mahasiswa kuda-kuda, nggak mesti mahasiswa yang sering dagang dianggap sebagai mahasiswa yang kurang mampu, dianggap mahasiswa yang cerewet, tukang basa-basi, dan lain-lain. Ketahuilah, beberapa tahun ke depan mereka bukan tidak mungkin menjadi seorang entrepreneur yang sukses. Yang latihan dan belajarnya diawali dari bangku perkuliahan itu sendiri.

Mahasiswa kuman-kuman juga demikian, jangan pernah menilai mahasiswa seperti ini adalah mahasiswa yang kerjaannya nggak jelas, ngabisin waktu dengan hal yang tidak ada manfaatnya, dan selalu menghabiskan uang. Percayalah, dengan perilakunya yang seperti itu mereka akan tumbuh menjadi mahasiswa yang supel, mahasiswa yang punya banyak jaringan, punya banyak wawasan, dan pasti memiliki jiwa sosial yang tinggi.

Yang terakhir, mahasiswa kucing juga jangan terlalu di judge negatif. Jangan menganggap mereka kerjaannya pacaran terus, galau dan patah hati di sosmed. Siapa tahu juga, dengan adanya kekasih, mereka bisa jauh lebih semangat, jauh lebih termotivasi untuk kuliah. Tapi selama itu masih berkaitan dengan hal-hal yang positif tidak masalah, yang dikhawatirkan ketika sudah terjerumus dalam hal yang negatif.

Terlepas dari baik dan buruknya setiap tipe-tipe mahasiswa, sudah seyogianya kita harus ingat tujuan awal kita kuliah. Jangan terlena dengan berbagai macam godaan dan rayuan yang menyebabkan kita salah dalam koridor yang telah ditetapkan.

Fokus kuliah yang utama. Aktivitas rapat, dagang, main-main, maupun pacaran sebaiknya dinomor-duakan. Karena kuliah bukan hanya sekadar mendapat gelar dan ijazah, tetapi kuliah merupakan sarana kita untuk menggapai masa depan yang lebih cerah.(*)

*) Mahasiswa asal Desa Olehsari, Kecamatan Glagah, Banyuwangi

Artikel Terkait

Most Read

Pohon Tumbang Diterjang Angin

Verifikasi Piagam Meragukan Butuh Waktu

Artikel Terbaru

/