alexametrics
23.5 C
Banyuwangi
Sunday, June 26, 2022

Puisi-Puisi Daladi Ahmad

Risalah Secangkir Kopi

 

di kafe dan warung-warung pinggir kali

orang-orang membincang tentang nikmat kental manis kopi

yang dituang dan diseduh pada cangkir porselin

tapi tak ada yang bicara tentang

pohon-pohon yang mematangkan buahnya

merawat hitam paitnya dalam terik matahari

pun tak ada yang bercakap tentang sebatang tebu

yang merawat manisnya di panggangan waktu

hingga keduanya sama-sama tergilas di penggilingan

sedang dari keduanya tak ada yang mengunjuk diri,

”kental hitam itu adalah aku”

atau

”akulah manis nikmat pada kopi itu”

 

ketika penyair pergi usai memamah-kunyah inspirasi

kopi dan gula tak pernah merajuk

namanya tertulis di antara baris bait puisi

bahkan ia rela menjadi sekedar penyela waktu

bagi pejalan gelap dan kelelahan

yang buta arah ke mana hendak dituju

 

secangkir kopi yang menjelma seorang ibu

bagi tumpahan segala sengketa pikiran dan hati

tak membaptis diri

sebagai inang pengasuh penyair dan para pejalan

yang hilang peta menuju pulang

 

Magelang, 2021

 

————————————–

Pada Akhirnya

 

jangan sering-sering kau ajak aku pergi

karena aku hanya ingin jadi penikmat kopi

di warung-warung pinggir kali

mencuri dengar orang-orang menyusun teka-teki

pada kertas ramalan togel dan kartu remi

tentang mimpi mereka pada angka dan kartu mati

selebihnya biarlah aku menjadi pejalan senyap

di antara lalu-lalang itu

menyelinap pada riuhnya yang memekakkan nurani

 

jangan banyak-banyak kau beri aku cerita

tentang pukau pentas sandiwara

di panggung megah dengan kilau-kilau cahaya

karena aku telah memerankannya semua

dan akulah pelakon utama

atas segala kepura-puraan dan kepalsuan

sekarang aku ingin menjadi penonton bertopeng

dengan baju tidur dan kain sarung

sendirian mengambil tempat di keremangan paling sepi

 

jangan kau tawar-tawari lagi aku pesiar

ke mall dan pasar-pasar

yang memaksakan pilihan-pilihan yang bukan pilihanku

cukuplah sudah pesiarku pada gemulai diam rumput-rumput pagi

menjumputi mahkota embun yang mengelopak pada pucuknya

atau pada sungai-sungai kecil

menjaring alir dan riciknya pada batu-batu dan kerikil

atau pada gerimis malam yang menjamasi dedaunan

ditingkapi kekidung angkup dan belalang

dan diam-diam kusesapkan ke senyap hati

 

Magelang, 2021

————————————–

 

Malam Bukan Milik Siapa-siapa

 

ini malam

bukan milik siapa-siapa lagi

selagi hati tak mengenali bisiknya sendiri

ketika semua lelap dalam riuh sengkarut hidup

yang mengganas di palung-palung pikiran

maka tumpas sudah makna permenungan

tentang kelopak embun yang menyimpan rahasia langit

 

ini malam

bukan milik siapa-siapa lagi

setelah semua meninggalkannya pergi

rumput dan alang-alang bertasbih sendiri

hembus tiup angin berdzikir sendiri

pohon-pohon bertakbir tahmid sendiri

bukit-bukit berampun-ampun sendiri

gunung-gunung merukuk sujud sendiri

dan manusia menghambakan diri

atas berhala-berhala yang dipahatnya sendiri

dimuliakan di ketinggian menara napsu

 

ini malam

bukan milik siapa-siapa lagi

setelah tak ada lagi yang merasai detak nadi

sebagai alir sungai semesta bumi

tak ada lagi yang menghikmati batu-batu nisan

sebagai kepastian perjanjian akhir setiap perjalanan

dan tak ada lagi yang merawat sunyi

dengan mantra kidung paling senyap

 

Magelang, 2021

————————————–

 

Hujan di Sepertiga Malam

 

langit meruwat waktu

yang ditebali debu

aku meminjam ritusnya

menjamasi kerak kalbu

 

hujan menawariku tarian

aku memesan ampunan

atas berkarung usia yang

kuhabiskan di meja pesta

 

Magelang, 2021

 

 

Bukan Penyair

 

tak kutemukan nasabku

pada garis silsilah penyair

: aku tak terlahir

 

aku penjaga rumput liar

di luar pagar

agar tak jadi belukar

: tak kucerabut akar

 

bukan syair bukan puisi

hanya pewarta sunyi

dari kekisi hati

: biarlah menepi

 

Magelang, 2021

 

————————————–

 

Sketsa di Tepian Waktu

 

aku tidak tahu

angkup dan belalang yang bersahutan

di sela gerimis itu

tengah menyanyi ataukah mengaji

tapi kurasai hanyutku

di kedamaian yang

seteduh ini

 

aku tidak mengerti

diam angin dan dedaunan

di antara kepak kelelawar itu

tengah berdzikir ataukah bersujud

tapi kurasai larutku

dalam khusyuknya yang

membawaku pada-Nya

hingga sedekat ini

 

aku tak memahami

tarjamah pekik burung hantu yang

seperti mematuki dinding waktu

serupa ketukan rindu yang

minta dibukakan pintu

agar selekasnya bertemu

pengasuh jiwa piatu

 

Magelang, 2021

————————————–

 

Sajak untuk Isteri

 

mungkin benar waktu telah menua dan lapuk

tapi kita akan selalu menyemai gerimis pagi

pada kuncup dan kelopak kembang sepatu

dan melukisnya di daun pintu

 

tak apa di kamar tak ada kasur busa

karena aku tak ingin jejak tua itu melayu

maka kita musti selalu menyemai kembali

biji-biji bunga matahari sebelum datang pagi

 

aku lebih suka mengajakmu mengenang kembali

ketika dulu kita bersulang periuk kosong

tawar-menawar dengan dompet tak berisi

agar lebih mengerti makna setiap butir nasi

yang telah Tuhan sedekahkan setiap hari

 

jangan lupakan pahitnya brotowali

kita musti berulang-ulang meminumnya kembali

agar hati selalu bijak berhikmah

pada pisang goreng dan singkong rebus

di antara pizza dan sandwich yang tak pernah terbeli

 

Magelang, 2021

 

————————————–

DALADI AHMAD lahir di Sleman, Yogyakarta. Puisinya dimuat di beberapa surat kabar dan antologi. Juga menulis geguritan (puisi Jawa), dimuat di surat kabar dan majalah berbahasa Jawa. Sering memusikalisasi puisi di acara sastra/budaya. Musikalisasinya berjudul Sakauku memperoleh penghargaan juara III dari E-Sastra Malaysia. Bergiat di Sanggar Sastra Monthit, Magelang. Tinggal di Magelang.

 

Risalah Secangkir Kopi

 

di kafe dan warung-warung pinggir kali

orang-orang membincang tentang nikmat kental manis kopi

yang dituang dan diseduh pada cangkir porselin

tapi tak ada yang bicara tentang

pohon-pohon yang mematangkan buahnya

merawat hitam paitnya dalam terik matahari

pun tak ada yang bercakap tentang sebatang tebu

yang merawat manisnya di panggangan waktu

hingga keduanya sama-sama tergilas di penggilingan

sedang dari keduanya tak ada yang mengunjuk diri,

”kental hitam itu adalah aku”

atau

”akulah manis nikmat pada kopi itu”

 

ketika penyair pergi usai memamah-kunyah inspirasi

kopi dan gula tak pernah merajuk

namanya tertulis di antara baris bait puisi

bahkan ia rela menjadi sekedar penyela waktu

bagi pejalan gelap dan kelelahan

yang buta arah ke mana hendak dituju

 

secangkir kopi yang menjelma seorang ibu

bagi tumpahan segala sengketa pikiran dan hati

tak membaptis diri

sebagai inang pengasuh penyair dan para pejalan

yang hilang peta menuju pulang

 

Magelang, 2021

 

————————————–

Pada Akhirnya

 

jangan sering-sering kau ajak aku pergi

karena aku hanya ingin jadi penikmat kopi

di warung-warung pinggir kali

mencuri dengar orang-orang menyusun teka-teki

pada kertas ramalan togel dan kartu remi

tentang mimpi mereka pada angka dan kartu mati

selebihnya biarlah aku menjadi pejalan senyap

di antara lalu-lalang itu

menyelinap pada riuhnya yang memekakkan nurani

 

jangan banyak-banyak kau beri aku cerita

tentang pukau pentas sandiwara

di panggung megah dengan kilau-kilau cahaya

karena aku telah memerankannya semua

dan akulah pelakon utama

atas segala kepura-puraan dan kepalsuan

sekarang aku ingin menjadi penonton bertopeng

dengan baju tidur dan kain sarung

sendirian mengambil tempat di keremangan paling sepi

 

jangan kau tawar-tawari lagi aku pesiar

ke mall dan pasar-pasar

yang memaksakan pilihan-pilihan yang bukan pilihanku

cukuplah sudah pesiarku pada gemulai diam rumput-rumput pagi

menjumputi mahkota embun yang mengelopak pada pucuknya

atau pada sungai-sungai kecil

menjaring alir dan riciknya pada batu-batu dan kerikil

atau pada gerimis malam yang menjamasi dedaunan

ditingkapi kekidung angkup dan belalang

dan diam-diam kusesapkan ke senyap hati

 

Magelang, 2021

————————————–

 

Malam Bukan Milik Siapa-siapa

 

ini malam

bukan milik siapa-siapa lagi

selagi hati tak mengenali bisiknya sendiri

ketika semua lelap dalam riuh sengkarut hidup

yang mengganas di palung-palung pikiran

maka tumpas sudah makna permenungan

tentang kelopak embun yang menyimpan rahasia langit

 

ini malam

bukan milik siapa-siapa lagi

setelah semua meninggalkannya pergi

rumput dan alang-alang bertasbih sendiri

hembus tiup angin berdzikir sendiri

pohon-pohon bertakbir tahmid sendiri

bukit-bukit berampun-ampun sendiri

gunung-gunung merukuk sujud sendiri

dan manusia menghambakan diri

atas berhala-berhala yang dipahatnya sendiri

dimuliakan di ketinggian menara napsu

 

ini malam

bukan milik siapa-siapa lagi

setelah tak ada lagi yang merasai detak nadi

sebagai alir sungai semesta bumi

tak ada lagi yang menghikmati batu-batu nisan

sebagai kepastian perjanjian akhir setiap perjalanan

dan tak ada lagi yang merawat sunyi

dengan mantra kidung paling senyap

 

Magelang, 2021

————————————–

 

Hujan di Sepertiga Malam

 

langit meruwat waktu

yang ditebali debu

aku meminjam ritusnya

menjamasi kerak kalbu

 

hujan menawariku tarian

aku memesan ampunan

atas berkarung usia yang

kuhabiskan di meja pesta

 

Magelang, 2021

 

 

Bukan Penyair

 

tak kutemukan nasabku

pada garis silsilah penyair

: aku tak terlahir

 

aku penjaga rumput liar

di luar pagar

agar tak jadi belukar

: tak kucerabut akar

 

bukan syair bukan puisi

hanya pewarta sunyi

dari kekisi hati

: biarlah menepi

 

Magelang, 2021

 

————————————–

 

Sketsa di Tepian Waktu

 

aku tidak tahu

angkup dan belalang yang bersahutan

di sela gerimis itu

tengah menyanyi ataukah mengaji

tapi kurasai hanyutku

di kedamaian yang

seteduh ini

 

aku tidak mengerti

diam angin dan dedaunan

di antara kepak kelelawar itu

tengah berdzikir ataukah bersujud

tapi kurasai larutku

dalam khusyuknya yang

membawaku pada-Nya

hingga sedekat ini

 

aku tak memahami

tarjamah pekik burung hantu yang

seperti mematuki dinding waktu

serupa ketukan rindu yang

minta dibukakan pintu

agar selekasnya bertemu

pengasuh jiwa piatu

 

Magelang, 2021

————————————–

 

Sajak untuk Isteri

 

mungkin benar waktu telah menua dan lapuk

tapi kita akan selalu menyemai gerimis pagi

pada kuncup dan kelopak kembang sepatu

dan melukisnya di daun pintu

 

tak apa di kamar tak ada kasur busa

karena aku tak ingin jejak tua itu melayu

maka kita musti selalu menyemai kembali

biji-biji bunga matahari sebelum datang pagi

 

aku lebih suka mengajakmu mengenang kembali

ketika dulu kita bersulang periuk kosong

tawar-menawar dengan dompet tak berisi

agar lebih mengerti makna setiap butir nasi

yang telah Tuhan sedekahkan setiap hari

 

jangan lupakan pahitnya brotowali

kita musti berulang-ulang meminumnya kembali

agar hati selalu bijak berhikmah

pada pisang goreng dan singkong rebus

di antara pizza dan sandwich yang tak pernah terbeli

 

Magelang, 2021

 

————————————–

DALADI AHMAD lahir di Sleman, Yogyakarta. Puisinya dimuat di beberapa surat kabar dan antologi. Juga menulis geguritan (puisi Jawa), dimuat di surat kabar dan majalah berbahasa Jawa. Sering memusikalisasi puisi di acara sastra/budaya. Musikalisasinya berjudul Sakauku memperoleh penghargaan juara III dari E-Sastra Malaysia. Bergiat di Sanggar Sastra Monthit, Magelang. Tinggal di Magelang.

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/