alexametrics
25.3 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Mimpi Tanpa Batas

ONEIROLOGI, studi ilmiah tentang “mimpi”  mengartikan bahwa, “mimpi” sebagai deretan citra, suara, atau emosi yang dialami pikiran saat tidur. Dalam tradisi Yahudi direspons dengan upacara  “hatavat halom” supaya mimpi menjadi baik. Berbeda dengan Sigmund Freud yang menyodorkan persepsi ekstrem, bahwa mimpi sekadar jalan bebas hambatan menuju alam bawah sadar.

Menjembatani kontroversi pengertian mimpi yang demikian, tradisi Islam menghadirkan konsep bahwa mimpi bisa berasal dari Tuhan, setan atau halusinasi diri. Karenanya tiap Muslim dipandu untuk meludah ke kiri (tanpa keluar air) tiga kali dan mengucapkan ta’awudz, jika mendapati mimpi yang buruk.

Respons yang demikian menjadikan setan tidak berani mengganggu. Berikutnya diwanti-wanti untuk tidak memberitahukan “mimpi” tersebut kepada orang lain. Sebaliknya jika bermimpi baik maka bergembiralah serta jangan beritahukan kepada siapa pun kecuali kepada orang yang sangat dekat.

Dalam keseharian kata “mimpi” sering juga dipakai untuk menggambarkan angan-angan yang tinggi dan sulit dicapai, seperti kisah pungguk, pemuda jelata yang tiba-tiba berpapasan pandang dengan putri Bulan nan cantik. Keduanya jatuh hati dan berkesempatan untuk memadu kasih, namun tiba-tiba burung Garuda yang menjaganya mematuk hingga ia terjatuh lalu disusul tendangan burung rajawali.

Terakhir burung gandasuli yang sangar mengempaskannya ke dalam jurang. Dari kisah ini muncul pepatah yang menggambarkan “mimpi” yang tak sampai dengan ungkapan “bagai pungguk merindukan bulan”.

Predikat “bau tanah” sering menempel pada mereka kaum lanjut usia yang kesehariannya terbiasa akrab dengan “apatisme”, membiarkan anggapan yang demikian berlabuh tentu akan melahirkan “akidah” bahwa “mimpi” sebuah kemewahan, buat apa terlalu “ngoyo” jika semua hampir “berakhir”.

Fakta yang demikian nyatanya tidak berlaku bagi Harland Sanders yang sedari kecil akrab dengan ragam kesulitan. Di usia enam tahun ia harus menjadi yatim dan memaksanya untuk berperan sebagai “koki” bagi kedua adiknya sekaligus menjadi buruh tani dengan upah dua dolar per bulan. Sebab, sang ibu harus bekerja di luar rumah.

Bermaksud mengubah nasib, ia berjibaku di kota menjadi juru parkir, kuli bangunan, sampai akhirnya berlabuh menjadi tentara dan bertugas di Kuba. Tak berhenti untuk “bermimpi”,  Harland mengajukan pensiun dini dan banting setir buka stand yang bagian depan untuk servis mobil sedang bagian belakang untuk warung sembari mengasah otak belajar hukum lewat korespondensi hingga mengantarkannya menjadi pengacara.

Rematik dan seabrek penyakit khas lansia senantiasa menggerogoti tubuhnya yang semakin tua. Toh Harland tidak lelah berkeliling selama dua tahun menawarkan resep ayam goreng ciptaannya pada lebih seribu restoran, dan semua menolaknya.  Tapi “mimpi” untuk sukses tak pernah surut. Di usia tujuh puluh tahun ia mulai menapaki kesuksesan dengan “sebelas resep ayam goreng” yang kini sudah merambah di delapan puluh negara.

Kang Kamid, sobat kentalku, sepertinya tidak jauh beda dengan “mimpi” Harland Sanders.  Pensiunan dari Pabrik Kertas Banyuwangi itu tentu  tak cukup untuk membiayai kuliah anak-anaknya di Jogja dengan “mimpi” heroisnya. Ia boyong istri tercinta untuk membuka warles sego tempong di belantara trotoar Jogja.

Hasilnya kurang dari tiga tahun tiga belas warles tersebar di berbagai sudut kota dan sempat tahadust nikmat mengajakku mampir ke rumah yang baru dibelinya Rp 750 juta di dekat UII ketika itu.

Sepenggal lirik Westlife mengajari diri untuk senantiasa membangun “mimpi” tanpa batas… “ I have a dream, a fantasy to help me through realty And my destination makes it  worth  the while Pushing through  the darkness mile….Bagaimana dengan Anda?

ONEIROLOGI, studi ilmiah tentang “mimpi”  mengartikan bahwa, “mimpi” sebagai deretan citra, suara, atau emosi yang dialami pikiran saat tidur. Dalam tradisi Yahudi direspons dengan upacara  “hatavat halom” supaya mimpi menjadi baik. Berbeda dengan Sigmund Freud yang menyodorkan persepsi ekstrem, bahwa mimpi sekadar jalan bebas hambatan menuju alam bawah sadar.

Menjembatani kontroversi pengertian mimpi yang demikian, tradisi Islam menghadirkan konsep bahwa mimpi bisa berasal dari Tuhan, setan atau halusinasi diri. Karenanya tiap Muslim dipandu untuk meludah ke kiri (tanpa keluar air) tiga kali dan mengucapkan ta’awudz, jika mendapati mimpi yang buruk.

Respons yang demikian menjadikan setan tidak berani mengganggu. Berikutnya diwanti-wanti untuk tidak memberitahukan “mimpi” tersebut kepada orang lain. Sebaliknya jika bermimpi baik maka bergembiralah serta jangan beritahukan kepada siapa pun kecuali kepada orang yang sangat dekat.

Dalam keseharian kata “mimpi” sering juga dipakai untuk menggambarkan angan-angan yang tinggi dan sulit dicapai, seperti kisah pungguk, pemuda jelata yang tiba-tiba berpapasan pandang dengan putri Bulan nan cantik. Keduanya jatuh hati dan berkesempatan untuk memadu kasih, namun tiba-tiba burung Garuda yang menjaganya mematuk hingga ia terjatuh lalu disusul tendangan burung rajawali.

Terakhir burung gandasuli yang sangar mengempaskannya ke dalam jurang. Dari kisah ini muncul pepatah yang menggambarkan “mimpi” yang tak sampai dengan ungkapan “bagai pungguk merindukan bulan”.

Predikat “bau tanah” sering menempel pada mereka kaum lanjut usia yang kesehariannya terbiasa akrab dengan “apatisme”, membiarkan anggapan yang demikian berlabuh tentu akan melahirkan “akidah” bahwa “mimpi” sebuah kemewahan, buat apa terlalu “ngoyo” jika semua hampir “berakhir”.

Fakta yang demikian nyatanya tidak berlaku bagi Harland Sanders yang sedari kecil akrab dengan ragam kesulitan. Di usia enam tahun ia harus menjadi yatim dan memaksanya untuk berperan sebagai “koki” bagi kedua adiknya sekaligus menjadi buruh tani dengan upah dua dolar per bulan. Sebab, sang ibu harus bekerja di luar rumah.

Bermaksud mengubah nasib, ia berjibaku di kota menjadi juru parkir, kuli bangunan, sampai akhirnya berlabuh menjadi tentara dan bertugas di Kuba. Tak berhenti untuk “bermimpi”,  Harland mengajukan pensiun dini dan banting setir buka stand yang bagian depan untuk servis mobil sedang bagian belakang untuk warung sembari mengasah otak belajar hukum lewat korespondensi hingga mengantarkannya menjadi pengacara.

Rematik dan seabrek penyakit khas lansia senantiasa menggerogoti tubuhnya yang semakin tua. Toh Harland tidak lelah berkeliling selama dua tahun menawarkan resep ayam goreng ciptaannya pada lebih seribu restoran, dan semua menolaknya.  Tapi “mimpi” untuk sukses tak pernah surut. Di usia tujuh puluh tahun ia mulai menapaki kesuksesan dengan “sebelas resep ayam goreng” yang kini sudah merambah di delapan puluh negara.

Kang Kamid, sobat kentalku, sepertinya tidak jauh beda dengan “mimpi” Harland Sanders.  Pensiunan dari Pabrik Kertas Banyuwangi itu tentu  tak cukup untuk membiayai kuliah anak-anaknya di Jogja dengan “mimpi” heroisnya. Ia boyong istri tercinta untuk membuka warles sego tempong di belantara trotoar Jogja.

Hasilnya kurang dari tiga tahun tiga belas warles tersebar di berbagai sudut kota dan sempat tahadust nikmat mengajakku mampir ke rumah yang baru dibelinya Rp 750 juta di dekat UII ketika itu.

Sepenggal lirik Westlife mengajari diri untuk senantiasa membangun “mimpi” tanpa batas… “ I have a dream, a fantasy to help me through realty And my destination makes it  worth  the while Pushing through  the darkness mile….Bagaimana dengan Anda?

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/