alexametrics
24.1 C
Banyuwangi
Tuesday, July 5, 2022

Pentingnya Pengawasan Orangtua

Siapapun pasti mengelus dada terkait ulah FF, 16, pencuri cilik asal Jalan Andalas, Kelurahan Singotrunan, Banyuwangi. Pasalnya, tidak hanya terlibat pencurian di sejumlah lokasi, berdasar pengakuannya sendiri, FF juga sudah mulai mencuri sejak duduk di bangku taman kanak-kanak (TK). Ini artinya, di usianya yang masih belia, FF sudah tergolong kawakan dalam urusan mengambil hak milik orang lain.

Mencuri, apapun alasannya, merupakan perilaku buruk dan harus ditangani secara serius. Seorang anak yang kedapatan mencuri, sebisa mungkin harus segera ditangani oleh orang tua. Jika tidak, kebiasaan tersebut akan terbawa hingga dia dewasa kelak. Bisa jadi, yang dilakukan FF sejak usia TK karena kurangnya pengawasan dari orang-orang terdekatnya, atau karena meniru kebiasaan buruk.

Ada beberapa penyebab seorang anak melakukan pencurian. Salah satunya adalah mencuri karena mencontoh yang salah. Contohnya, seorang anak mencuri karena melihat orangtua (ibu atau ayah) mengambil barang yang bukan miliknya. Selain itu, ketidakjujuran yang dilakukan orangtua juga bisa mendorong kecenderungan mencuri pada anak-anak. Jika orang tua mencuri, kemungkinan anak akan melakukan perbuatan serupa. Begitu juga teladan buruk dari teman-teman, balas dendam, kepribadian antisosial, kemiskinan dan sebagainya, merupakan penyebab utama seorang anak mencuri.

Mencuri juga bisa karena tekanan. Anak mencuri karena ada tekanan akan kebutuhan dan keinginannya. Anak ini mencuri karena terpaksa. Misalnya, anak ingin makanan, tetapi tidak diberi uang jajan oleh orangtuanya. Akhirnya, dia terpaksa mencuri uang temannya untuk membeli makanan.

Penyebab mencuri lainnya adalah karena orangtua tidak memenuhi kebutuhan anak. Mencuri biasanya dimulai di rumah, terutama dimulai dengan mencuri milik ibu dan ayah. Sekali jika si anak berhasil melakukannya, dia merasa terdorong untuk mengulanginya terus.

Karena itu, waspadai jika anak mulai mencoba-coba mengambil hak milik orang tua. Sebab, jika dibiarkan perbuatan buruk itu akan menjadi kebiasaan saat si anak dewasa kelak. Salah satu contohnya adalah FF, remaja 16 tahun, yang sudah menjadi “pencuri” profesional.

Siapapun pasti mengelus dada terkait ulah FF, 16, pencuri cilik asal Jalan Andalas, Kelurahan Singotrunan, Banyuwangi. Pasalnya, tidak hanya terlibat pencurian di sejumlah lokasi, berdasar pengakuannya sendiri, FF juga sudah mulai mencuri sejak duduk di bangku taman kanak-kanak (TK). Ini artinya, di usianya yang masih belia, FF sudah tergolong kawakan dalam urusan mengambil hak milik orang lain.

Mencuri, apapun alasannya, merupakan perilaku buruk dan harus ditangani secara serius. Seorang anak yang kedapatan mencuri, sebisa mungkin harus segera ditangani oleh orang tua. Jika tidak, kebiasaan tersebut akan terbawa hingga dia dewasa kelak. Bisa jadi, yang dilakukan FF sejak usia TK karena kurangnya pengawasan dari orang-orang terdekatnya, atau karena meniru kebiasaan buruk.

Ada beberapa penyebab seorang anak melakukan pencurian. Salah satunya adalah mencuri karena mencontoh yang salah. Contohnya, seorang anak mencuri karena melihat orangtua (ibu atau ayah) mengambil barang yang bukan miliknya. Selain itu, ketidakjujuran yang dilakukan orangtua juga bisa mendorong kecenderungan mencuri pada anak-anak. Jika orang tua mencuri, kemungkinan anak akan melakukan perbuatan serupa. Begitu juga teladan buruk dari teman-teman, balas dendam, kepribadian antisosial, kemiskinan dan sebagainya, merupakan penyebab utama seorang anak mencuri.

Mencuri juga bisa karena tekanan. Anak mencuri karena ada tekanan akan kebutuhan dan keinginannya. Anak ini mencuri karena terpaksa. Misalnya, anak ingin makanan, tetapi tidak diberi uang jajan oleh orangtuanya. Akhirnya, dia terpaksa mencuri uang temannya untuk membeli makanan.

Penyebab mencuri lainnya adalah karena orangtua tidak memenuhi kebutuhan anak. Mencuri biasanya dimulai di rumah, terutama dimulai dengan mencuri milik ibu dan ayah. Sekali jika si anak berhasil melakukannya, dia merasa terdorong untuk mengulanginya terus.

Karena itu, waspadai jika anak mulai mencoba-coba mengambil hak milik orang tua. Sebab, jika dibiarkan perbuatan buruk itu akan menjadi kebiasaan saat si anak dewasa kelak. Salah satu contohnya adalah FF, remaja 16 tahun, yang sudah menjadi “pencuri” profesional.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/