alexametrics
30.7 C
Banyuwangi
Monday, July 4, 2022

Paralon Bekas Jadi Lampu Hias

RadarBanyuwangi.id – Tidak perlu mencari bahan baku mewah untuk bisa menghasilkan barang indah. Asal kreatif, sisa bahan bekas pun bisa menghasilkan barang handmade nan indah.

Lihat saja kreasi lampu hias karya Ahmad Fahmi Rosyid, 27, warga Dusun Krajan, Desa Bubuk, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi ini. Berawal dari melihat pipa PVC alias pipa paralon bekas yang tidak terpakai di rumahnya, dia berhasil menciptakan lampu hias yang ciamik. Penuh dengan guratan seni.

Cerita ini berawal dari beberapa sisa paralon bekas yang tergeletak di rumah Fahmi. Bersama pemuda setempat, dia memiliki ide mengubah barang bekas tak terpakai tersebut menjadi sebuah barang yang bermanfaat.

Beberapa paralon bekas di sekitar sangat sayang untuk dibuang. Makanya kemudian dia berpikir, bagaimana caranya supaya paralon ini bisa kembali digunakan dan bermanfaat.

Akhirnya, para remaja kampung itu menemukan ide untuk mengubah paralon bekas tersebut menjadi berbagai lampu hias. Tentu dengan berbagai bentuk dan ornamen yang menarik. Dengan sentuhan seni bergambar masjid, gajah, batik motif Gajah Oling khas Banyuwangi, serta berbagai gambar lainnya.

Bersamaan dengan momentum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-76 RI, akhirnya ada ide mencoba membuat lampu lampion dari pipa paralon bekas tersebut. ”Awalnya coba-coba bersama rekan sekampung membuat lampion. Ternyata hasilnya lumayan bagus dan dipasang di tepi jalan, untuk menyemarakkan HUT Kemerdekaan RI,” ujar Fahmi.

Tidak seperti produk serupa yang sudah biasa ditemui di pasaran, lampu hias buatan Fahmi dan remaja Desa Bubuk ini lebih fleksibel. Karena motif dapat disesuaikan dengan pesanan. Motif yang dibuat mulai dari kaligrafi, alam, bunga, batik, dan berbagai jenis motif lainnya.

Tidak sekadar menjadi lampion outdoor, pipa paralon bekas juga bisa dibentuk menjadi lampu hias untuk model gantung, lampu dinding, lampu belajar atau lampu meja, hingga lampu-lampu hias yang bisa digunakan untuk taman.

Menurut Fahmi, yang paling sulit dan membutuhkan waktu pengerjaan lebih lama yakni untuk pesanan dengan ukiran. Karena unsur seni yang detail membutuhkan waktu ekstra teliti dalam pengerjaan.

Untuk satu lampion hias dibanderol dengan harga antara Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu. Harga lampu tergantung kesulitan saat proses pengerjaan. Untuk pengerjaan kerajinan paralon bekas itu cukup mudah. Pertama, paralon diampelas kemudian digambar sesuai motif yang diinginkan. Selanjutnya motif gambar diukir menggunakan mata bor, sampai permukaan paralon berlubang. ”Agar rata, pipa dipotong menggunakan gerinda. Lalu diampelas dan warnanya menggunakan cat semprot,” tandas Fahmi. (ddy/bay/c1)

RadarBanyuwangi.id – Tidak perlu mencari bahan baku mewah untuk bisa menghasilkan barang indah. Asal kreatif, sisa bahan bekas pun bisa menghasilkan barang handmade nan indah.

Lihat saja kreasi lampu hias karya Ahmad Fahmi Rosyid, 27, warga Dusun Krajan, Desa Bubuk, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi ini. Berawal dari melihat pipa PVC alias pipa paralon bekas yang tidak terpakai di rumahnya, dia berhasil menciptakan lampu hias yang ciamik. Penuh dengan guratan seni.

Cerita ini berawal dari beberapa sisa paralon bekas yang tergeletak di rumah Fahmi. Bersama pemuda setempat, dia memiliki ide mengubah barang bekas tak terpakai tersebut menjadi sebuah barang yang bermanfaat.

Beberapa paralon bekas di sekitar sangat sayang untuk dibuang. Makanya kemudian dia berpikir, bagaimana caranya supaya paralon ini bisa kembali digunakan dan bermanfaat.

Akhirnya, para remaja kampung itu menemukan ide untuk mengubah paralon bekas tersebut menjadi berbagai lampu hias. Tentu dengan berbagai bentuk dan ornamen yang menarik. Dengan sentuhan seni bergambar masjid, gajah, batik motif Gajah Oling khas Banyuwangi, serta berbagai gambar lainnya.

Bersamaan dengan momentum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-76 RI, akhirnya ada ide mencoba membuat lampu lampion dari pipa paralon bekas tersebut. ”Awalnya coba-coba bersama rekan sekampung membuat lampion. Ternyata hasilnya lumayan bagus dan dipasang di tepi jalan, untuk menyemarakkan HUT Kemerdekaan RI,” ujar Fahmi.

Tidak seperti produk serupa yang sudah biasa ditemui di pasaran, lampu hias buatan Fahmi dan remaja Desa Bubuk ini lebih fleksibel. Karena motif dapat disesuaikan dengan pesanan. Motif yang dibuat mulai dari kaligrafi, alam, bunga, batik, dan berbagai jenis motif lainnya.

Tidak sekadar menjadi lampion outdoor, pipa paralon bekas juga bisa dibentuk menjadi lampu hias untuk model gantung, lampu dinding, lampu belajar atau lampu meja, hingga lampu-lampu hias yang bisa digunakan untuk taman.

Menurut Fahmi, yang paling sulit dan membutuhkan waktu pengerjaan lebih lama yakni untuk pesanan dengan ukiran. Karena unsur seni yang detail membutuhkan waktu ekstra teliti dalam pengerjaan.

Untuk satu lampion hias dibanderol dengan harga antara Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu. Harga lampu tergantung kesulitan saat proses pengerjaan. Untuk pengerjaan kerajinan paralon bekas itu cukup mudah. Pertama, paralon diampelas kemudian digambar sesuai motif yang diinginkan. Selanjutnya motif gambar diukir menggunakan mata bor, sampai permukaan paralon berlubang. ”Agar rata, pipa dipotong menggunakan gerinda. Lalu diampelas dan warnanya menggunakan cat semprot,” tandas Fahmi. (ddy/bay/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/