alexametrics
23.5 C
Banyuwangi
Friday, August 12, 2022

Planet Masa Depan

Bangsa yang besar adalah mereka yang saat hadir perubahan senantiasa menerimanya dengan jiwa besar sebagaimana yang dicitrakan oleh Taqiyudin An Nabhani. ”Berpikir tentang perubahan tidak akan disukai oleh orang-orang yang lemah semangat dan tidak diterima oleh orang yang malas, sebab perubahan itu sendiri harganya sangat mahal.”

Kemudian mereka fokus pada antisipasi progresif terhadap keunggulan teknologi ”masa depan” dengan penguatan bidang pendidikan, riset, dan eksperimen terhadap temuan yang senantiasa berkelanjutan.

Dari kacamata kaum ”masa depan”,  tingginya populasi penduduk bumi dengan segala risikonya diantisipasi dengan ikhtiar untuk migrasi ke Planet Mars, yang jarak terdekatnya dengan bumi mencapai kisaran 56 juta kilo meter.

Dengan usaha yang gigih pada tahun 1976 NASA berhasil mendaratkan pesawat nir awak  Viking 1. Di Mars lalu mengambil sampel tanah untuk diteliti. Hasilnya belum ditemukan  tanda-tanda kehidupan.

Namun, ambisi untuk meyakinkan bahwa Mars adalah planet layak huni mendorong ilmuwan NASA di tahun 2008 mengirimkan pesawat Phoenix dan mengambil lagi sampel tanah untuk diteliti. Hasilnya ditemukan zat Perchlorat yang jamak digunakan untuk pengobatan dan industri piroteknik.

Baca Juga :  Lawan Tim Internasional, BRCC Peringkat Lima

Hingga imajinasi untuk sampai ke Mars yang semula menggunakan rute transfer orbit yang bergantung pada konstelasi Bumi dan Mars, terus dilanjut oleh dua ilmuwan Fransesco Tpputo dan Edward Belbruno  dengan tawaran rute transfer energi rendah, di mana pesawat tidak langsung terbang menuju Mars, tapi melambung dengan kecepatan rendah.

Pesawat yang ditumpangi kaum muhajirin dari bumi tersebut memanfaatkan pergerakan Mars yang lebih cepat di lintasan orbitnya untuk memeluk energi gravitasi dengan teknik Balkistic Capture seperti yang dilakukan oleh pesawat nir awak milik Jepang Hiten.

Saat ini, sudah tersedia wahana antariksa New Horizons milik NASA yang punya kecepatan 58 ribu km/jam. Jika digunakan untuk pergi ke Mars perlu waktu 942 jam saat Mars di posisi terdekat dengan Bumi dan 6944 jam jika di posisi terjauhnya.

Baca Juga :  Buruh – Pengusaha Berselisih, Utamakan Mediasi

Elon Musk, pebisnis dan arsitek Tesla Motors berusaha mewujudkan mimpi mengurangi ”risiko punahnya umat manusia” dengan meningkatkan teknologi untuk hidup di Mars. Hingga dirancanglah proyek SpaceX yang roketnya bisa membawa 100 penumpang menuju Mars dengan tiket seharga 200 ribu US$ /orang.

Lebih jauh, The Mars One Foundation telah menerima dua ratus ribuan pendaftar dari 140 negara untuk menjadi penduduk Mars tahun 2023 dengan risiko tidak bisa kembali ke bumi akibat terbatasnya lingkungan tempat tinggal dan bahan makanan.

Fenomena ambisi manusia untuk bisa tinggal di planet lain sejatinya sudah di apresiasi oleh QS As Syuuro 29, ”dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah menciptakan langit dan bumi dan mahluk-mahluk yang melata yang Dia sebarkan pada keduanya, dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan apabila dikehendaki-Nya.” Bahwa kemudian kaum muslimin tertinggal jauh dalam memahami dan mengelola ayat-ayat sains yang berorientasi ”masa depan” bisa jadi mereka terlalu fokus pada teks dan abai terhadap konteks. Wallahu A lam bishowab. (*)

 

Bangsa yang besar adalah mereka yang saat hadir perubahan senantiasa menerimanya dengan jiwa besar sebagaimana yang dicitrakan oleh Taqiyudin An Nabhani. ”Berpikir tentang perubahan tidak akan disukai oleh orang-orang yang lemah semangat dan tidak diterima oleh orang yang malas, sebab perubahan itu sendiri harganya sangat mahal.”

Kemudian mereka fokus pada antisipasi progresif terhadap keunggulan teknologi ”masa depan” dengan penguatan bidang pendidikan, riset, dan eksperimen terhadap temuan yang senantiasa berkelanjutan.

Dari kacamata kaum ”masa depan”,  tingginya populasi penduduk bumi dengan segala risikonya diantisipasi dengan ikhtiar untuk migrasi ke Planet Mars, yang jarak terdekatnya dengan bumi mencapai kisaran 56 juta kilo meter.

Dengan usaha yang gigih pada tahun 1976 NASA berhasil mendaratkan pesawat nir awak  Viking 1. Di Mars lalu mengambil sampel tanah untuk diteliti. Hasilnya belum ditemukan  tanda-tanda kehidupan.

Namun, ambisi untuk meyakinkan bahwa Mars adalah planet layak huni mendorong ilmuwan NASA di tahun 2008 mengirimkan pesawat Phoenix dan mengambil lagi sampel tanah untuk diteliti. Hasilnya ditemukan zat Perchlorat yang jamak digunakan untuk pengobatan dan industri piroteknik.

Baca Juga :  Waktu Mepet, Sepak Takraw Tambah Jadwal Uji Coba

Hingga imajinasi untuk sampai ke Mars yang semula menggunakan rute transfer orbit yang bergantung pada konstelasi Bumi dan Mars, terus dilanjut oleh dua ilmuwan Fransesco Tpputo dan Edward Belbruno  dengan tawaran rute transfer energi rendah, di mana pesawat tidak langsung terbang menuju Mars, tapi melambung dengan kecepatan rendah.

Pesawat yang ditumpangi kaum muhajirin dari bumi tersebut memanfaatkan pergerakan Mars yang lebih cepat di lintasan orbitnya untuk memeluk energi gravitasi dengan teknik Balkistic Capture seperti yang dilakukan oleh pesawat nir awak milik Jepang Hiten.

Saat ini, sudah tersedia wahana antariksa New Horizons milik NASA yang punya kecepatan 58 ribu km/jam. Jika digunakan untuk pergi ke Mars perlu waktu 942 jam saat Mars di posisi terdekat dengan Bumi dan 6944 jam jika di posisi terjauhnya.

Baca Juga :  Puluhan Wasit Siap Penuhi Kebutuhan Askab

Elon Musk, pebisnis dan arsitek Tesla Motors berusaha mewujudkan mimpi mengurangi ”risiko punahnya umat manusia” dengan meningkatkan teknologi untuk hidup di Mars. Hingga dirancanglah proyek SpaceX yang roketnya bisa membawa 100 penumpang menuju Mars dengan tiket seharga 200 ribu US$ /orang.

Lebih jauh, The Mars One Foundation telah menerima dua ratus ribuan pendaftar dari 140 negara untuk menjadi penduduk Mars tahun 2023 dengan risiko tidak bisa kembali ke bumi akibat terbatasnya lingkungan tempat tinggal dan bahan makanan.

Fenomena ambisi manusia untuk bisa tinggal di planet lain sejatinya sudah di apresiasi oleh QS As Syuuro 29, ”dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah menciptakan langit dan bumi dan mahluk-mahluk yang melata yang Dia sebarkan pada keduanya, dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan apabila dikehendaki-Nya.” Bahwa kemudian kaum muslimin tertinggal jauh dalam memahami dan mengelola ayat-ayat sains yang berorientasi ”masa depan” bisa jadi mereka terlalu fokus pada teks dan abai terhadap konteks. Wallahu A lam bishowab. (*)

 

Artikel Terkait

Most Read

Garasi Kopi Rambah Promosi Digita

Lihat Tagihan PDAM Semudah Chatting

Jarak 13 Km Diterima di SMA Negeri

Artikel Terbaru

/