alexametrics
23.8 C
Banyuwangi
Monday, August 15, 2022

Filantropi Kepedulian Sampah di Banyuwangi

BANYUWANGI merupakan salah satu kabupaten di Jawa Timur yang gaungnya terus menggema ke seluruh penjuru dunia. Hal tersebut menarik perhatian saya untuk sekadar menghabiskan waktu akhir pekan di Bumi Blambangan. Beberapa destinasi wisata seperti Kawah Ijen, Pantai Pulau Merah hingga kawasan Perkotaan tak luput dari kunjungan empat hari selama di Banyuwangi.

Kabupaten berjuluk “The Sunrise of Java” di ujung timur Pulau Jawa tersebut banyak menawarkan pesona alam bagi wisatawan yang datang. Namun dari beberapa kunjungan tersebut, tampaknya Banyuwangi masih harus bekerja ekstra guna memberikan edukasi dan penyadaran bagi masyarakat dan wisatawan dalam aspek pengelolaan sampah.

Hal tersebut menjadi atensi penulis karena saat berkunjung di sekitar Kawah Ijen, Gazebo yang notabene baru saja dibangun justru beralih fungsi menjadi tempat sampah oleh oknum wisatawan. Padahal di sekitar kawah, banyak tersedia kantong sampah yang disediakan Balai Konservasi Sumber Daya Alam.

Tak hanya di wilayah Gunung Ijen, di sekitar Pantai Pulau Merah di Kecamatan Pesanggaran, kondisinya juga tidak jauh berbeda. Masalahnya bukan pada pengelola tempat wisata. Namun perilaku oknum wisatawan yang kurang teredukasi terhadap aspek pengelolaan sampah, menjadikan kawasan pantai tersebut banyak dijumpai sampah plastik bekas botol air mineral.

Butuh penyadaran dari berbagai pemangku kepentingan kepada masyarakat dan wisatawan, agar dapat menjaga kebersihan lingkungan wisata di Bumi Blambangan.  Ikhwal tersebut, tampaknya menjadi momentum untuk melakukan pembenahan, penyadaran serta edukasi terhadap habit masyarakat yang kini seperti menafikan peran sampah dalam kerusakan bumi.

Hal itu karena setiap tahun, masing-masing kota di seluruh dunia setidaknya menghasilkan sampah hingga 1,3 miliar Ton. Menurut Bank Dunia, pada tahun 2025 mendatang, jumlah sampah akan bertambah hingga 2,2 miliar Ton di setiap kota.

Fakta tentang sampah nasional pun sudah cukup meresahkan. Sebuah penelitian yang diterbitkan di www.sciencemag.org edisi Februari tahun lalu menyebutkan, Indonesia berada di peringkat kedua di dunia penyumbang sampah plastik ke laut  setelah Tiongkok, disusul kemudian Filipina, Vietnam, dan Sri Lanka.

Sementara itu, menurut Riset Greeneration, organisasi nonpemerintah yang telah 10 tahun mengikuti isu sampah, satu orang di Indonesia rata-rata menghasilkan 700 kantong plastik per tahun. Di alam, kantong plastik yang tak terurai menjadi ancaman kehidupan dan ekosistem.

Idealnya permasalahan sampah di Indonesia khususnya di Banyuwangi tidak bisa dianggap enteng. Sampah bisa menimbulkan bencana, seperti yang terjadi dalam tragedi longsornya sampah di Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat, pada 21 Februari 2005 silam. Tragedi tersebut memicu dicanangkannya Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) yang diperingati tepat di tanggal insiden itu terjadi.

Baca Juga :  Hilangkan Bosan dengan Bernyanyi

Mengutip berita Radar Banyuwangi edisi 28 Februari 2018 yang menurunkan tulisan “Bulusan Overload, Butuh TPSA Baru” yang mengejawantahkan betapa pentingnya pengadaan lahan untuk tempat pembuangan sampah, guna menampung sampah rumah tangga masyarakat di seluruh Kabupaten Banyuwangi.

Kondisi TPSA Bulusan yang sudah overload hingga ketinggiannya mencapai 15 meter. Mengingat jika tidak segera ditangani, kondisi ini akan menimbulkan bahaya bagi masyarakat sekitar lokasi TPSA. Hal itu karena tidak sedikit warga sekitar TPSA yang mengais rezeki dengan mencari barang bekas di sana.

Tidak hanya TPSA yang perlu menjadi perhatian Pemkab Banyuwangi. Fungsi penyadaran terhadap masyarakat, guna menghilangkan perilaku masyarakat yang masih punya paradigma bahwa sungai merupakan tempat sampah terpanjang, juga harus dilakukan upaya edukasi.

Aspek Budaya dan Sosiologi

Pada dasarnya, masalah sampah tidak sekadar bagaimana mengolah atau mengelola sampah. Tetapi juga terkait dengan masalah budaya atau pun aspek sosiologi masyarakat. Masyarakat Indonesia, khususnya warga Banyuwangi, tidak jarang memiliki kadar kepekaan rendah terhadap permasalahan tentang sampah.

Paradigma yang salah itu, mungkin merupakan salah satu penyebab, kenapa banyak program tentang sampah yang tidak berhasil. Mengubah paradigma masyarakat tentang sampah menjadi salah satu bagian yang tidak terpisahkan dari upaya-upaya penanganan sampah secara terpadu.

Padahal, upaya dan cara terus digiatkan oleh seluruh stakeholder di Banyuwangi dengan terstruktur, sistematis, dan masif. Sebut saja penggunaan komunikasi verbal dengan meletakkan tulisan larangan membuang sampah di lokasi strategis dekat aliran sungai. 

Idealnya, tulisan-tulisan peringatan itu dapat berimplikasi bagi masyarakat baik mereka yang melek literasi maupun yang tidak. Hal tersebut karena untuk memahami bentuk tulisan itu, tidak dibutuhkan kualitas atau kemampuan yang mencakup melek visual. Artinya kemampuan untuk mengenali dan memahami ide-ide yang disampaikan secara visual baik dalam bentuk adegan, video, gambar maupun teks.

Dalam benak  penulis sempat timbul pertanyaan, mengapa bentuk larangan, Perda, atau segala macam imbauan seperti tidak pernah dihiraukan oleh masyarakat. Padahal hal itu merupakan ikhwal yang sangat mendasar bagi terjaganya ekosistem lingkungan di wilayah Banyuwangi. Pada dasarnya mencari jawaban yang benar dari pertanyaan itu sama pentingnya dengan masalah sampah itu sendiri.

Baca Juga :  Pengolahan Pascapanen

Agar mendapat hasil yang mendalam dan komprehensif  perlu dilaksanakan sebuah survei tentang perilaku masyarakat berkaitan dengan aktivitas sampah. Hal itu bukan pekerjaan sederhana. Penulis sendiri belum pernah membaca hasil penelitian tentang perilaku masyarakat Banyuwangi yang secara spesifik membahas terkait perilaku masyarakat dalam mengelola sampah.

Akar Masalah Sampah

Meski belum ada kebenaran tentang akar permasalahan sampah di Indonesia, tetapi sepanjang pengalaman penulis membaca literasi tentang persampahan di dunia. Salah satu penyebab adalah paradigma masyarakat yang salah tentang sampah itu sendiri.

Tidak sedikit masyarakat yang menganalogikan sampah adalah barang atau pun sesuatu yang sudah tidak ada gunanya sama sekali. Sampah adalah bau. Sampah adalah sumber bersarangnya berbagai macam penyakit serta stigma-stigma negatif lainnya.

Sebenarnya masyarakat tahu jika membuang sampah sembarangan itu tidak baik, tetapi sebagian mereka tetap saja membuang sampah sembarangan. Masyarakat tahu kalau membuang sampah di sungai bisa menyebabkan aliran sungai mampet dan bisa menyebabkan banjir, tetapi sebagian mereka tetap saja membuang sampah ke sungai atau saluran air lainnya.

Masyarakat juga tahu kalau sampah organik bisa diubah menjadi kompos. Namun ironisnya sebagian mereka justru engan memanfaatkannya untuk membuat kompos. Masyarakat juga tahu kalau sampah sebaiknya dipisah agar bisa menambah nilai jual, tetapi mereka justru malas memilah-milah sehingga langsung membuang yang mengakibatkan sampah tak memiliki nilai jual.

Pandangan penulis, dibutuhkan sinergi antara masyarakat dan pemerintah guna melakukan pengelolaan sampah tersebut, karena meski sudah mengeluarkan banyak dana untuk berbagai macam program tentang pengelolaan sampah di Banyuwangi, jika tanpa ada dukungan masyarakat, maka semuanya bagaikan jauh panggang dari api.

Selain itu, Pemkab Banyuwangi juga perlu menyentuh aspek non fisik dari permasalahan sampah itu sendiri. Membangun TPA, membuat tempat-tempat sampah, mendatangkan teknologi hi-tech dari luar, dan banyak program yang lainnya, merupakan fokus pada program fisik saja. Sisi non-fisiknya belum banyak disentuh, atau pun kalau ada hanya pelengkap saja.

Padahal masalah nonfisik itu tidak kalah penting dibandingkan dengan program-program fisik. Justru hal tersebut lebih sulit karena membutuhkan waktu lama, kontinuitas, dan dana yang tidak sedikit. Mengubah sebuah kebiasaan, budaya, dan paradigma bukan masalah sederhana. Tidak mudah seperti membalikkan telapak tangan, namun bukan berarti tidak bisa diupayakan.

*)Peneliti  HANS Institute Semarang

BANYUWANGI merupakan salah satu kabupaten di Jawa Timur yang gaungnya terus menggema ke seluruh penjuru dunia. Hal tersebut menarik perhatian saya untuk sekadar menghabiskan waktu akhir pekan di Bumi Blambangan. Beberapa destinasi wisata seperti Kawah Ijen, Pantai Pulau Merah hingga kawasan Perkotaan tak luput dari kunjungan empat hari selama di Banyuwangi.

Kabupaten berjuluk “The Sunrise of Java” di ujung timur Pulau Jawa tersebut banyak menawarkan pesona alam bagi wisatawan yang datang. Namun dari beberapa kunjungan tersebut, tampaknya Banyuwangi masih harus bekerja ekstra guna memberikan edukasi dan penyadaran bagi masyarakat dan wisatawan dalam aspek pengelolaan sampah.

Hal tersebut menjadi atensi penulis karena saat berkunjung di sekitar Kawah Ijen, Gazebo yang notabene baru saja dibangun justru beralih fungsi menjadi tempat sampah oleh oknum wisatawan. Padahal di sekitar kawah, banyak tersedia kantong sampah yang disediakan Balai Konservasi Sumber Daya Alam.

Tak hanya di wilayah Gunung Ijen, di sekitar Pantai Pulau Merah di Kecamatan Pesanggaran, kondisinya juga tidak jauh berbeda. Masalahnya bukan pada pengelola tempat wisata. Namun perilaku oknum wisatawan yang kurang teredukasi terhadap aspek pengelolaan sampah, menjadikan kawasan pantai tersebut banyak dijumpai sampah plastik bekas botol air mineral.

Butuh penyadaran dari berbagai pemangku kepentingan kepada masyarakat dan wisatawan, agar dapat menjaga kebersihan lingkungan wisata di Bumi Blambangan.  Ikhwal tersebut, tampaknya menjadi momentum untuk melakukan pembenahan, penyadaran serta edukasi terhadap habit masyarakat yang kini seperti menafikan peran sampah dalam kerusakan bumi.

Hal itu karena setiap tahun, masing-masing kota di seluruh dunia setidaknya menghasilkan sampah hingga 1,3 miliar Ton. Menurut Bank Dunia, pada tahun 2025 mendatang, jumlah sampah akan bertambah hingga 2,2 miliar Ton di setiap kota.

Fakta tentang sampah nasional pun sudah cukup meresahkan. Sebuah penelitian yang diterbitkan di www.sciencemag.org edisi Februari tahun lalu menyebutkan, Indonesia berada di peringkat kedua di dunia penyumbang sampah plastik ke laut  setelah Tiongkok, disusul kemudian Filipina, Vietnam, dan Sri Lanka.

Sementara itu, menurut Riset Greeneration, organisasi nonpemerintah yang telah 10 tahun mengikuti isu sampah, satu orang di Indonesia rata-rata menghasilkan 700 kantong plastik per tahun. Di alam, kantong plastik yang tak terurai menjadi ancaman kehidupan dan ekosistem.

Idealnya permasalahan sampah di Indonesia khususnya di Banyuwangi tidak bisa dianggap enteng. Sampah bisa menimbulkan bencana, seperti yang terjadi dalam tragedi longsornya sampah di Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat, pada 21 Februari 2005 silam. Tragedi tersebut memicu dicanangkannya Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) yang diperingati tepat di tanggal insiden itu terjadi.

Baca Juga :  Kerajinan Daur Ulang Hasilkan Rp 450 Juta Setahun

Mengutip berita Radar Banyuwangi edisi 28 Februari 2018 yang menurunkan tulisan “Bulusan Overload, Butuh TPSA Baru” yang mengejawantahkan betapa pentingnya pengadaan lahan untuk tempat pembuangan sampah, guna menampung sampah rumah tangga masyarakat di seluruh Kabupaten Banyuwangi.

Kondisi TPSA Bulusan yang sudah overload hingga ketinggiannya mencapai 15 meter. Mengingat jika tidak segera ditangani, kondisi ini akan menimbulkan bahaya bagi masyarakat sekitar lokasi TPSA. Hal itu karena tidak sedikit warga sekitar TPSA yang mengais rezeki dengan mencari barang bekas di sana.

Tidak hanya TPSA yang perlu menjadi perhatian Pemkab Banyuwangi. Fungsi penyadaran terhadap masyarakat, guna menghilangkan perilaku masyarakat yang masih punya paradigma bahwa sungai merupakan tempat sampah terpanjang, juga harus dilakukan upaya edukasi.

Aspek Budaya dan Sosiologi

Pada dasarnya, masalah sampah tidak sekadar bagaimana mengolah atau mengelola sampah. Tetapi juga terkait dengan masalah budaya atau pun aspek sosiologi masyarakat. Masyarakat Indonesia, khususnya warga Banyuwangi, tidak jarang memiliki kadar kepekaan rendah terhadap permasalahan tentang sampah.

Paradigma yang salah itu, mungkin merupakan salah satu penyebab, kenapa banyak program tentang sampah yang tidak berhasil. Mengubah paradigma masyarakat tentang sampah menjadi salah satu bagian yang tidak terpisahkan dari upaya-upaya penanganan sampah secara terpadu.

Padahal, upaya dan cara terus digiatkan oleh seluruh stakeholder di Banyuwangi dengan terstruktur, sistematis, dan masif. Sebut saja penggunaan komunikasi verbal dengan meletakkan tulisan larangan membuang sampah di lokasi strategis dekat aliran sungai. 

Idealnya, tulisan-tulisan peringatan itu dapat berimplikasi bagi masyarakat baik mereka yang melek literasi maupun yang tidak. Hal tersebut karena untuk memahami bentuk tulisan itu, tidak dibutuhkan kualitas atau kemampuan yang mencakup melek visual. Artinya kemampuan untuk mengenali dan memahami ide-ide yang disampaikan secara visual baik dalam bentuk adegan, video, gambar maupun teks.

Dalam benak  penulis sempat timbul pertanyaan, mengapa bentuk larangan, Perda, atau segala macam imbauan seperti tidak pernah dihiraukan oleh masyarakat. Padahal hal itu merupakan ikhwal yang sangat mendasar bagi terjaganya ekosistem lingkungan di wilayah Banyuwangi. Pada dasarnya mencari jawaban yang benar dari pertanyaan itu sama pentingnya dengan masalah sampah itu sendiri.

Baca Juga :  Ternyata Ini yang Membuat Lalare Orchestra Dikagumi Banyak Orang

Agar mendapat hasil yang mendalam dan komprehensif  perlu dilaksanakan sebuah survei tentang perilaku masyarakat berkaitan dengan aktivitas sampah. Hal itu bukan pekerjaan sederhana. Penulis sendiri belum pernah membaca hasil penelitian tentang perilaku masyarakat Banyuwangi yang secara spesifik membahas terkait perilaku masyarakat dalam mengelola sampah.

Akar Masalah Sampah

Meski belum ada kebenaran tentang akar permasalahan sampah di Indonesia, tetapi sepanjang pengalaman penulis membaca literasi tentang persampahan di dunia. Salah satu penyebab adalah paradigma masyarakat yang salah tentang sampah itu sendiri.

Tidak sedikit masyarakat yang menganalogikan sampah adalah barang atau pun sesuatu yang sudah tidak ada gunanya sama sekali. Sampah adalah bau. Sampah adalah sumber bersarangnya berbagai macam penyakit serta stigma-stigma negatif lainnya.

Sebenarnya masyarakat tahu jika membuang sampah sembarangan itu tidak baik, tetapi sebagian mereka tetap saja membuang sampah sembarangan. Masyarakat tahu kalau membuang sampah di sungai bisa menyebabkan aliran sungai mampet dan bisa menyebabkan banjir, tetapi sebagian mereka tetap saja membuang sampah ke sungai atau saluran air lainnya.

Masyarakat juga tahu kalau sampah organik bisa diubah menjadi kompos. Namun ironisnya sebagian mereka justru engan memanfaatkannya untuk membuat kompos. Masyarakat juga tahu kalau sampah sebaiknya dipisah agar bisa menambah nilai jual, tetapi mereka justru malas memilah-milah sehingga langsung membuang yang mengakibatkan sampah tak memiliki nilai jual.

Pandangan penulis, dibutuhkan sinergi antara masyarakat dan pemerintah guna melakukan pengelolaan sampah tersebut, karena meski sudah mengeluarkan banyak dana untuk berbagai macam program tentang pengelolaan sampah di Banyuwangi, jika tanpa ada dukungan masyarakat, maka semuanya bagaikan jauh panggang dari api.

Selain itu, Pemkab Banyuwangi juga perlu menyentuh aspek non fisik dari permasalahan sampah itu sendiri. Membangun TPA, membuat tempat-tempat sampah, mendatangkan teknologi hi-tech dari luar, dan banyak program yang lainnya, merupakan fokus pada program fisik saja. Sisi non-fisiknya belum banyak disentuh, atau pun kalau ada hanya pelengkap saja.

Padahal masalah nonfisik itu tidak kalah penting dibandingkan dengan program-program fisik. Justru hal tersebut lebih sulit karena membutuhkan waktu lama, kontinuitas, dan dana yang tidak sedikit. Mengubah sebuah kebiasaan, budaya, dan paradigma bukan masalah sederhana. Tidak mudah seperti membalikkan telapak tangan, namun bukan berarti tidak bisa diupayakan.

*)Peneliti  HANS Institute Semarang

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/