alexametrics
28.1 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Tas Kulit Ular Terkendala Pengiriman Selama Masa Pandemi

BLIMBINGSARI – Kulit ular diolah menjadi produk fashion berkelas, seperti tas dan dompet yang bernilai tinggi. Bahkan, karyanya sudah menembus pasar Asia dan Eropa.

Hanya selama pandemi Covid-19, produksi tas kulit ular ini berhenti. Sebab, terkendala pengiriman kargo ke negara tujuan.

Muhamad Rofiq, seorang pengusaha fashion berbahan kulit ular asal Desa Desa Patoman, Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi, mengatakan, kulit ular memiliki nilai estetis dan ekonomis untuk dikembangkan menjadi aksesori mewah seperti tas dan dompet.

Rofiq mengatakan, usaha kulit reptil ini berawal saat dia tinggal di Bali pada tahun 2009 silam. Saat itu, dia membuat kerajinan tas dari kulit lembu, domba, dan kambing. Baru tahun 2010, dia mulai mencoba menggunakan kulit ular. Saat itu dia memutuskan pulang ke Banyuwangi.

Bisnisnya terus berkembang dengan angka permintaan yang semakin bertambah setiap tahunnya. Kemudian, tas kulit ular juga telah masuk pasar ekspor, seperti ke Korea Selatan hingga ke Rusia. Rofiq mengaku, punya alasan kuat mengapa menekuni bisnis fashion dengan bahan kulit ular. Menurutnya, menggunakan kulit ular akan memberikan kesan lebih eksklusif. ”Pasarnya jelas, kelas menengah atas,” ujar pria yang kini tinggal di Desa Lemahbang Dewo, Kecamatan Rogojampi ini.

Rofiq mengungkapkan, bila dia mendapat pasokan kulit ular mentah dari pengepul asal Pulau Sumatra dan Kalimantan yang telah mengantongi izin dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). ”Kita ambil kulitnya itu dari tempat yang legal. Pengepul kami sudah mengantongi Surat Tangkap Dalam Negeri,” jelas Rofiq.

Untuk kerajinan tasnya, Rofiq khusus menggunakan bahan baku dari kulit ular jenis Phyton repticula dan Phyton dismay dari hutan di wilayah Sumatra dan Kalimantan. Selain karena motif kulitnya cantik, dua jenis ular ini bisa tumbuh sangat besar hingga panjangnya mencapai tujuh meter.

Rofiq mengakui, penggunaan kulit ular sebagai bahan baku pembuatan tas ini memiliki nilai jual tinggi. Untuk tas dibanderol mulai harga Rp 1 juta hingga Rp 3 juta. Sedangkan dompet dipatok dari harga Rp 300 ribu sampai Rp 800 ribu. Nominal harga, tergantung dari ukuran dan tingkat kerumitannya. ”Kalau untuk dijual lagi di pasar lokal sangat tidak menguntungkan, paling mungkin beli untuk dipakai sendiri alias konsumen langsung,” katanya.

Tidak heran jika pembeli produk fashion buatan Rofiq berasal dari kalangan menengah atas. Beberapa di antaranya juga adalah kolektor fashion. ”Sementara kami hanya produksi bahan baku saja, masih belum produksi barang jadi, karena terkendali pengiriman ekspor ke negara tujuan dampak dari pandemi ini,” tandasnya

Lain halnya dengan Rosid, warga Dusun Patoman Timur, Desa Patoman, Kecamatan Blimbingsari. Lelaki berusia 37 tahun ini, justru masih tetap eksis karena melayani pasar lokal dengan harga yang relatif terjangkau mulai harga Rp 80 ribu hingga harga jutaan rupiah. ”Selama pandemi memang berdampak, tetapi masih ada saja. Sebab, sasaran saya pasar lokal dan nasional,” katanya.

Sebelum pandemi, Rosid juga sempat membuat tas pesanan yang dikirim ke beberapa negara di Asia dan Eropa. Namun, sejak pandemi ini mendadak terhenti.”Kalau di tempat kami hanya produksi bahan jadi, tidak memproduksi bahan baku,” tandasnya. 

BLIMBINGSARI – Kulit ular diolah menjadi produk fashion berkelas, seperti tas dan dompet yang bernilai tinggi. Bahkan, karyanya sudah menembus pasar Asia dan Eropa.

Hanya selama pandemi Covid-19, produksi tas kulit ular ini berhenti. Sebab, terkendala pengiriman kargo ke negara tujuan.

Muhamad Rofiq, seorang pengusaha fashion berbahan kulit ular asal Desa Desa Patoman, Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi, mengatakan, kulit ular memiliki nilai estetis dan ekonomis untuk dikembangkan menjadi aksesori mewah seperti tas dan dompet.

Rofiq mengatakan, usaha kulit reptil ini berawal saat dia tinggal di Bali pada tahun 2009 silam. Saat itu, dia membuat kerajinan tas dari kulit lembu, domba, dan kambing. Baru tahun 2010, dia mulai mencoba menggunakan kulit ular. Saat itu dia memutuskan pulang ke Banyuwangi.

Bisnisnya terus berkembang dengan angka permintaan yang semakin bertambah setiap tahunnya. Kemudian, tas kulit ular juga telah masuk pasar ekspor, seperti ke Korea Selatan hingga ke Rusia. Rofiq mengaku, punya alasan kuat mengapa menekuni bisnis fashion dengan bahan kulit ular. Menurutnya, menggunakan kulit ular akan memberikan kesan lebih eksklusif. ”Pasarnya jelas, kelas menengah atas,” ujar pria yang kini tinggal di Desa Lemahbang Dewo, Kecamatan Rogojampi ini.

Rofiq mengungkapkan, bila dia mendapat pasokan kulit ular mentah dari pengepul asal Pulau Sumatra dan Kalimantan yang telah mengantongi izin dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). ”Kita ambil kulitnya itu dari tempat yang legal. Pengepul kami sudah mengantongi Surat Tangkap Dalam Negeri,” jelas Rofiq.

Untuk kerajinan tasnya, Rofiq khusus menggunakan bahan baku dari kulit ular jenis Phyton repticula dan Phyton dismay dari hutan di wilayah Sumatra dan Kalimantan. Selain karena motif kulitnya cantik, dua jenis ular ini bisa tumbuh sangat besar hingga panjangnya mencapai tujuh meter.

Rofiq mengakui, penggunaan kulit ular sebagai bahan baku pembuatan tas ini memiliki nilai jual tinggi. Untuk tas dibanderol mulai harga Rp 1 juta hingga Rp 3 juta. Sedangkan dompet dipatok dari harga Rp 300 ribu sampai Rp 800 ribu. Nominal harga, tergantung dari ukuran dan tingkat kerumitannya. ”Kalau untuk dijual lagi di pasar lokal sangat tidak menguntungkan, paling mungkin beli untuk dipakai sendiri alias konsumen langsung,” katanya.

Tidak heran jika pembeli produk fashion buatan Rofiq berasal dari kalangan menengah atas. Beberapa di antaranya juga adalah kolektor fashion. ”Sementara kami hanya produksi bahan baku saja, masih belum produksi barang jadi, karena terkendali pengiriman ekspor ke negara tujuan dampak dari pandemi ini,” tandasnya

Lain halnya dengan Rosid, warga Dusun Patoman Timur, Desa Patoman, Kecamatan Blimbingsari. Lelaki berusia 37 tahun ini, justru masih tetap eksis karena melayani pasar lokal dengan harga yang relatif terjangkau mulai harga Rp 80 ribu hingga harga jutaan rupiah. ”Selama pandemi memang berdampak, tetapi masih ada saja. Sebab, sasaran saya pasar lokal dan nasional,” katanya.

Sebelum pandemi, Rosid juga sempat membuat tas pesanan yang dikirim ke beberapa negara di Asia dan Eropa. Namun, sejak pandemi ini mendadak terhenti.”Kalau di tempat kami hanya produksi bahan jadi, tidak memproduksi bahan baku,” tandasnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/