alexametrics
24 C
Banyuwangi
Wednesday, July 6, 2022

Rebana Dari Banyuwangi Merambah Seluruh Negeri

SINGOJURUH – Alat musik tersebut populer disebut rebana. Namun, masyarakat Banyuwangi menyebutnya terbang atau terbangan. Nah, rebana dari Bumi Blambangan pun sudah menyebar ke banyak provinsi di Indonesia.

Banyuwangi punya segudang talenta seni. Tak terhitung berapa kali seniman-seniman asal Bumi Blambangan mengharumkan nama kabupaten the Sunrise of Java ini di kancah nasional maupun internasional. Namun lebih dari itu, tangan-tangan kreatif warganya menjadikan kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini sebagai produsen alat-alat kesenian yang produknya telah merambah seantero negeri.

Salah satu sentra penghasil alat-alat kesenian tersebut berada di Desa Kemiri, Kecamatan Singojuruh. Lebih tepatnya di Dusun Kedungliwung. Di dusun yang satu ini, terdapat sedikitnya tiga produsen alat-alat musik kesenian hadrah dan kuntulan, seperti terbang alias rebana, jidor, pantus, gong, dan lain-lain.

Salah satu produsennya adalah Suhami alias Cak Imik. Tentu dia tak ujug-ujug membuka usaha. Dia mengaku mulai belajar membuat alat musik terbang dan lain-lain sejak masih bujangan, yakni tahun 1990-an.

Selanjutnya, sekitar tahun 2000, dia mulai memproduksi alat-alat musik kuntulan. Pada perkembangan selanjutnya, Imik memberanikan diri membuka usaha secara mandiri sekitar tahun 2005.

Seiring berjalannya waktu, terbang, jidor, pantus, gong, angklung, dan ketipung produksi Imik kian mendapat sambutan positif pasar. Tidak sedikit grup kuntulan atau hadrah asal seantero Bumi Blambangan yang memesan alat-alat musik kepadanya. Termasuk grup kuntulan atau hadrah asal Kota Banyuwangi dan sekitarnya. ”Silakan dicek. Di belakang terbang yang mereka gunakan, ada stempel bertuliskan Cak Imik Terbang Kedungliwung,” ujarnya seraya tersenyum.

Imik menuturkan, satu unit terbang dia jual seharga Rp 350 ribu sampai Rp 425 ribu. Tergantung kualitas bahan yang digunakan, seperti kayu dan kulit. Sedangkan satu set alat musik kuntulan yang terdiri dari sembilan unit terbang, jidor, pantus, keling, dan gong dia banderol seharga Rp 8,5 juta.

Lewat usaha produksi alat musik kuntulan tersebut, Imik berhasil mempekerjakan beberapa orang. ”Ada beberapa teman yang membantu saya. Alhamdulillah orderan lumayan lancar. tidak hanya datang dari Banyuwangi, tetapi juga Maluku, Sulawesi, dan Kalimantan,” kata pria berusia 50 tahun tersebut.

Selain melayani pesanan terbang, Imik juga menyediakan jasa service alat musik tersebut. Sementara itu, Imik mengungkapkan, tidak sembarang kulit bisa digunakan untuk menghasilkan terbang dengan kualitas prima. ”Untuk terbang, bahan baku terbaik yang bisa digunakan adalah kulit kambing,” pungkasnya.

SINGOJURUH – Alat musik tersebut populer disebut rebana. Namun, masyarakat Banyuwangi menyebutnya terbang atau terbangan. Nah, rebana dari Bumi Blambangan pun sudah menyebar ke banyak provinsi di Indonesia.

Banyuwangi punya segudang talenta seni. Tak terhitung berapa kali seniman-seniman asal Bumi Blambangan mengharumkan nama kabupaten the Sunrise of Java ini di kancah nasional maupun internasional. Namun lebih dari itu, tangan-tangan kreatif warganya menjadikan kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini sebagai produsen alat-alat kesenian yang produknya telah merambah seantero negeri.

Salah satu sentra penghasil alat-alat kesenian tersebut berada di Desa Kemiri, Kecamatan Singojuruh. Lebih tepatnya di Dusun Kedungliwung. Di dusun yang satu ini, terdapat sedikitnya tiga produsen alat-alat musik kesenian hadrah dan kuntulan, seperti terbang alias rebana, jidor, pantus, gong, dan lain-lain.

Salah satu produsennya adalah Suhami alias Cak Imik. Tentu dia tak ujug-ujug membuka usaha. Dia mengaku mulai belajar membuat alat musik terbang dan lain-lain sejak masih bujangan, yakni tahun 1990-an.

Selanjutnya, sekitar tahun 2000, dia mulai memproduksi alat-alat musik kuntulan. Pada perkembangan selanjutnya, Imik memberanikan diri membuka usaha secara mandiri sekitar tahun 2005.

Seiring berjalannya waktu, terbang, jidor, pantus, gong, angklung, dan ketipung produksi Imik kian mendapat sambutan positif pasar. Tidak sedikit grup kuntulan atau hadrah asal seantero Bumi Blambangan yang memesan alat-alat musik kepadanya. Termasuk grup kuntulan atau hadrah asal Kota Banyuwangi dan sekitarnya. ”Silakan dicek. Di belakang terbang yang mereka gunakan, ada stempel bertuliskan Cak Imik Terbang Kedungliwung,” ujarnya seraya tersenyum.

Imik menuturkan, satu unit terbang dia jual seharga Rp 350 ribu sampai Rp 425 ribu. Tergantung kualitas bahan yang digunakan, seperti kayu dan kulit. Sedangkan satu set alat musik kuntulan yang terdiri dari sembilan unit terbang, jidor, pantus, keling, dan gong dia banderol seharga Rp 8,5 juta.

Lewat usaha produksi alat musik kuntulan tersebut, Imik berhasil mempekerjakan beberapa orang. ”Ada beberapa teman yang membantu saya. Alhamdulillah orderan lumayan lancar. tidak hanya datang dari Banyuwangi, tetapi juga Maluku, Sulawesi, dan Kalimantan,” kata pria berusia 50 tahun tersebut.

Selain melayani pesanan terbang, Imik juga menyediakan jasa service alat musik tersebut. Sementara itu, Imik mengungkapkan, tidak sembarang kulit bisa digunakan untuk menghasilkan terbang dengan kualitas prima. ”Untuk terbang, bahan baku terbaik yang bisa digunakan adalah kulit kambing,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Maling Motor Babak belur Dihajar Massa

Motor CBR vs Mio, Satu Pemotor Tewas

Siswa Itu Sahabat

Artikel Terbaru

/