alexametrics
27.8 C
Banyuwangi
Monday, July 4, 2022

Puisi-Puisi Vito Prasetyo

Di Dermaga Ketapang

 

aku menunggu, nama yang terucapkan

dari lambaian tangan, jauh tertutup kabut laut

dermaga ini, mungkin letih menyangga tubuhku

hingga sorak tawa, tak pernah pecah

mengusir rindu yang terpancang di sudut batas cakrawala

ribuan debur ombak seakan bercengkerama di tatapanku

hilir mudik angin bagai tawarkan makna,

membasuh penat

yang kian menghimpit tubuh

di pikiranku, dua larik sajak menghampiri

merajam diksi rindu, tidur di pembaringan cemas

lalu-lalang kapal bagai fragmen penantian

berjejal di kaki Ketapang

mengucap salam dari geligi corong toa kapal

dan sirene bersenandung bagai kidung asmara

menyulam gelisah dan rindu

namamu tak pernah menghampiriku

seperti puisi yang menyambutmu di tidurku

Pelabuhan Ketapang serupa butiran tasbih

yang menziarahi ingatanku

 

Malang, 2021

——————————

 

Di Balik Waktu

 

sirnalah waktu

jika engkau bukan cintaku

sebab ruang waktu adalah untuk tumbuh

dan menumbuhkan cinta

 

jika ada jalan yang menyesatkan

itu bukanlah detak waktu

sebab waktu tak pernah berputar ke belakang

selalu maju tanpa keraguan

 

adalah kedangkalan kita

untuk menempatkan pikiran kita

menghitung masa lalu

seakan cinta harus mengenang masa silam

 

tahukah engkau

pikiran kita, tempatnya kebimbangan

bukan tempat cinta

 

Malang – 2020

—————————–

 

Di Paras Kitab Kebenaran

 

jelitamu membuatku lupa

butiran padi terus menguning

 

paras wajah adalah guratan jejak

sehabis waktu pergi, itu keabadian

 

kita tenggelam membaca kitab-kitab baru

 

kita ini penggalan rahim terluka

ketika ibu melahirkan gundah

dan padi membiarkan menguliti diri, disebut beras

 

pikiran kita memacu diri,

berkelana mencari kebenaran

 

di sepiring nasi, padi menjadi sempurna

sementara kita, sempurnakan kitab-kitab kebenaran

di tanah-tanah duka, liang lahat

 

Malang – 2021

 

————————

Elegi Zaman

 

Kaki-kaki langit membasahi tanah

telah sewindu lamanya mendung duduk di sayapnya

sajakku menatap duka itu

aku ingin mengirim doa menyeruak langit

walau harus mengembara berbekal sejuta aksara

kulihat tangis anak negeri ini telah lama tersimpan

begitu lama napasnya tak pernah hidup

puluhan tahun mereka berkelana tanpa ada jejak tertinggal

hanya sedikit pesan tercatat dalam sejarah

saat tubuh-tubuh mereka bergelimpangan penuh darah

 

— kutitip negeri ini untuk anak-cucuku —

 

sepenggal kata yang terus mengiang

hingga semakin pupus tertelan roda zaman

 

Jika kutulis nama mereka

seakan sajakku semakin tersayat

berulang kali telah kucoba

agar bisa berpaling dari perasaan itu

dan menulis syair tentang cinta

tetap saja tangis dan bayangan itu melekat dalam jiwaku

hingga aku merasa seperti bukan diriku

 

Hari ini, esok atau entah kapan

ingin kuputar kembali roda zaman

dan berkata kepada Ilahi, maafkan atas segala kelancanganku ini

agar mereka bisa bangkit dan tersenyum

meski hanya dalam kedangkalan sajakku

 

(2021)

———————

Seperti Garam

 

Kemana kita harus membuang lisan-lisan kita

jika doa kita sudah terpasung!?

 

Adalah kitab bersih berulang kali

menerangkan kebenaran

masih saja kita menggarami air laut

 

Malang – 2020

 ———————–

VITO PRASETYO, dilahirkan di Makassar, 24 Februari 1964. Karya-karya opini, cerpen, puisi, esai, resensi, artikel pendidikan, dan bahasa tersiar di media cetak lokal, nasional, dan Malaysia. Buku antologi puisinya antara lain ”Luka Mimpi” (WR Academy, 2021), ”Lelaki Pemburu Hujan” (WR Academy, 2021), ”Sabda Bumi” (Media Literasi Indonesia, 2021), dan ”Sepeda dan Buku” (Apajake.id, 2021). Namanya termaktub dalam Buku ”Apa dan Siapa Penyair Indonesia” (tahun 2017). Mukim di Malang. 

Di Dermaga Ketapang

 

aku menunggu, nama yang terucapkan

dari lambaian tangan, jauh tertutup kabut laut

dermaga ini, mungkin letih menyangga tubuhku

hingga sorak tawa, tak pernah pecah

mengusir rindu yang terpancang di sudut batas cakrawala

ribuan debur ombak seakan bercengkerama di tatapanku

hilir mudik angin bagai tawarkan makna,

membasuh penat

yang kian menghimpit tubuh

di pikiranku, dua larik sajak menghampiri

merajam diksi rindu, tidur di pembaringan cemas

lalu-lalang kapal bagai fragmen penantian

berjejal di kaki Ketapang

mengucap salam dari geligi corong toa kapal

dan sirene bersenandung bagai kidung asmara

menyulam gelisah dan rindu

namamu tak pernah menghampiriku

seperti puisi yang menyambutmu di tidurku

Pelabuhan Ketapang serupa butiran tasbih

yang menziarahi ingatanku

 

Malang, 2021

——————————

 

Di Balik Waktu

 

sirnalah waktu

jika engkau bukan cintaku

sebab ruang waktu adalah untuk tumbuh

dan menumbuhkan cinta

 

jika ada jalan yang menyesatkan

itu bukanlah detak waktu

sebab waktu tak pernah berputar ke belakang

selalu maju tanpa keraguan

 

adalah kedangkalan kita

untuk menempatkan pikiran kita

menghitung masa lalu

seakan cinta harus mengenang masa silam

 

tahukah engkau

pikiran kita, tempatnya kebimbangan

bukan tempat cinta

 

Malang – 2020

—————————–

 

Di Paras Kitab Kebenaran

 

jelitamu membuatku lupa

butiran padi terus menguning

 

paras wajah adalah guratan jejak

sehabis waktu pergi, itu keabadian

 

kita tenggelam membaca kitab-kitab baru

 

kita ini penggalan rahim terluka

ketika ibu melahirkan gundah

dan padi membiarkan menguliti diri, disebut beras

 

pikiran kita memacu diri,

berkelana mencari kebenaran

 

di sepiring nasi, padi menjadi sempurna

sementara kita, sempurnakan kitab-kitab kebenaran

di tanah-tanah duka, liang lahat

 

Malang – 2021

 

————————

Elegi Zaman

 

Kaki-kaki langit membasahi tanah

telah sewindu lamanya mendung duduk di sayapnya

sajakku menatap duka itu

aku ingin mengirim doa menyeruak langit

walau harus mengembara berbekal sejuta aksara

kulihat tangis anak negeri ini telah lama tersimpan

begitu lama napasnya tak pernah hidup

puluhan tahun mereka berkelana tanpa ada jejak tertinggal

hanya sedikit pesan tercatat dalam sejarah

saat tubuh-tubuh mereka bergelimpangan penuh darah

 

— kutitip negeri ini untuk anak-cucuku —

 

sepenggal kata yang terus mengiang

hingga semakin pupus tertelan roda zaman

 

Jika kutulis nama mereka

seakan sajakku semakin tersayat

berulang kali telah kucoba

agar bisa berpaling dari perasaan itu

dan menulis syair tentang cinta

tetap saja tangis dan bayangan itu melekat dalam jiwaku

hingga aku merasa seperti bukan diriku

 

Hari ini, esok atau entah kapan

ingin kuputar kembali roda zaman

dan berkata kepada Ilahi, maafkan atas segala kelancanganku ini

agar mereka bisa bangkit dan tersenyum

meski hanya dalam kedangkalan sajakku

 

(2021)

———————

Seperti Garam

 

Kemana kita harus membuang lisan-lisan kita

jika doa kita sudah terpasung!?

 

Adalah kitab bersih berulang kali

menerangkan kebenaran

masih saja kita menggarami air laut

 

Malang – 2020

 ———————–

VITO PRASETYO, dilahirkan di Makassar, 24 Februari 1964. Karya-karya opini, cerpen, puisi, esai, resensi, artikel pendidikan, dan bahasa tersiar di media cetak lokal, nasional, dan Malaysia. Buku antologi puisinya antara lain ”Luka Mimpi” (WR Academy, 2021), ”Lelaki Pemburu Hujan” (WR Academy, 2021), ”Sabda Bumi” (Media Literasi Indonesia, 2021), dan ”Sepeda dan Buku” (Apajake.id, 2021). Namanya termaktub dalam Buku ”Apa dan Siapa Penyair Indonesia” (tahun 2017). Mukim di Malang. 

Artikel Terkait

Most Read

Biaya Pemindahan Bisa Habiskan Rp 500 Juta

Memperjelas Status

Gotong Royong Itu Indah

Artikel Terbaru

/