alexametrics
28.2 C
Banyuwangi
Wednesday, June 29, 2022

Di Pataka Polisi Itu…

TIBA-tiba pikiran saya melambung. Tertuju pada pataka polisi. Saat melihat lambang-lambang di baju dinas Kombes Nasrun Pasaribu, Kapolresta Banyuwangi. Rabu petang itu Pak Nasrun berbuka puasa di Untag Banyuwangi. Usai memberikan apresiasi Gebyar Ramadan BEM Untag Banyuwangi. Bersama komandan lain, Letkol Eko Julianto (Dandim) dan  Letkol Ansori (Danlanal). Tiga komandan teritori yang supel, tak jaim.

Empat hal saya catat. Bintang berjumlah 3 di bagian atas. Di tengah ada perisai. Di bagian bawah tertulis kata Sansekerta Rastra Sewakottama. Kanan-kiri perisai ada padi dan kapas. Di pataka itulah jatidiri polisi RI.  

Bintang berjumlah 3 bermakna tribrata, tiga jalan. Jalan pertama Rastra Sewakottama, abdi utama untuk nusa dan bangsa. Jalan kedua Nagara Janottama, warga negara teladan. Dan, jalan ketiga Jana Anusasana Dharma, wajib menjaga ketertiban. Jalan pertama, Rastra Sewakottama, dieksplisitkan di bagian bawah.

Perisai menandakan pelindung rakyat. Di dalam perisai ada nyala obor bersaf (4 saf di kepala, 5 saf di kaki). Ada 8 jilatan api dari obor itu. Ada 17 garis sinar dari api obor. Jelas sekali: 17.8.45. Kode hari bersejarah: Proklamasi Kemerdekaan. Dan, padi-kapas yang berada di samping perisai adalah sila kelima Pancasila: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Tak main-main. Konon, pataka polisi dibuat oleh Kapolri Pertama, Raden Said Soekanto. Benderanya pun dijahit sendiri oleh Lena Mokoginta, istri Soekanto. Mungkin terinspirasi oleh bendera pusaka merah-putih yang dijahit sendiri oleh Fatmawati, istri Soekarno, Sang Proklamator.

Tiang pataka pun berasal dari pohon yang terdapat di Pulau Karimun Jawa. ”Secara khusus diambil Soekanto dengan cara tirakatan,” demikian Nugroho Djajoesman dalam buku Meniti Gelombang Reformasi. Dia menuliskan kesaksian ayahnya, Hendra Djajoesman, yang pernah menjadi ajudan Soekanto.

Pataka itu diserahkan Presiden Soekarno kepada Soekanto selaku Kepala Kepolisian RI. Saat perayaan ulang tahun kepolisian di Lapangan Banteng, 1 Juli 1955. Tribrata (yang dilambangkan 3 bintang) itulah yang diucapkan Soekanto. Tatkala menerima pataka dari Presiden Soekarno. Dan, pengorbanan Soekanto diganjar predikat pahlawan nasional pada tahun 2020.

Sungguh mendalam makna falsafi pataka polisi. Lambang-lambang itu selalu melekat di tubuh setiap polisi. Di mana pun, kapan pun. Saat bertugas. Seolah-olah hendak menegaskan, sekaligus mengingatkan: pedomanilah makna dan nilai yang terkandung pada lambang-lambang pataka.

Hakikat tugas polisi adalah pelindung rakyat. Mengayomi dan melindungi warga masyarakat. Menjaga ketertiban dan menegakkan hukum secara berkeadilan. Untuk apa? Agar tercapai cita-cita kemerdekaan: masyarakat adil berkemakmuran, makmur berkeadilan.

Bukan sembarangan. Konon, setiap menjelang 1 Juli, Hari Ulang Tahun Kepolisian RI, digelar Upacara Pencucian Pataka. Tradisi yang penuh makna. Simbolis sekali. Dari kacamata Arlond van Gennep, antropolog yang menekuni ritus-ritus peralihan, disebut liminalitas. Subjek disucikan di ruang liminal. Yakni, ruang ”antara”. Menandai transisi hari ini menuju hari esok.

Pataka itu disucikan. Dari segala noda. Agar bersih kembali, segar kembali. Tatkala memasuki hari esok. Sebuah simbol refleksi. Yang memperlihatkan kesadaran introspeksi dan perenungan. Terhadap status hari ini. Agar esok makin baik. Lantaran memuliakan dan merevitalisasi nilai-nilai tribrata. Lantaran kemauan Korps Bhayangkara untuk terus-menerus memperbaiki kinerjanya. Seiring dinamika masyarakat yang diayomi, dilindungi. Agar polisi makin dicintai rakyat. Bukan dicaci maki, dibenci. 

Sungguh mulia. Pantas disebut warga negara teladan. Kesadaran introspeksi dan perenungan itu patut diberi garis tebal. Betapa tidak! Setiap hari polisi ada di tengah masyarakat. Dari pagi hingga pagi lagi. Berhadapan dengan urusan yang kompleks. Masalah dan kepentingannya. Maka, demi tugasnya, polisi dipersenjatai. Diberi kewenangan mengambil tindakan hukum. Termasuk menggunakan senjatanya.

Tak aneh bila sebagian citra polisi adalah ”buram”. Polisi nakal, polisi hitam, dan segenap citra buruk lain. Abai tribrata. Saya pernah dinasihati seseorang, ”Hindari berurusan dengan polisi. Bukan selesai urusan, malah tambah urusan.”

Karena itu pula, tak aneh muncul humor satire dari Gus Dur. Katanya, hanya ada 3 polisi jujur di Indonesia: patung polisi, polisi tidur, dan Hoegeng Imam Santoso. Hoegeng adalah Kapolri Kelima. Dan, satire tersebut digarisbawahi pula oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Sebagai tantangan. Yang dijawabnya dengan ”Program Presisi” (prediktif, responsibilitas, transparan, berkeadilan).

Saya melihat Kombes Nasrun petang itu ceria sekali. Komandan Polresta Banyuwangi itu bercerita tentang hotline yang baru diluncurkan. Sebagai upayanya menerjemahkan Program Presisi Kapolri. Tentu dengan kreasinya.

Dibuatlah Program Wadul Propam Presisi Polresta Banyuwangi. Sebagai salah satu upaya optimalisasi kinerja. Juga peningkatan kualitas pelayanan jajaran korps Bhayangkara yang bertugas di Banyuwangi. Sekaligus ikhtiar untuk semakin dekat dengan masyarakat.

Melalui program ini masyarakat punya pintu untuk melaporkan kinerja anggota kepolisian di lapangan. Baik saat mendapati polisi nakal maupun polisi terpuji. Yang istimewa, Program Wadul Propam Presisi bukan hanya diisi Unit Propam atau jajaran Polresta Banyuwangi. Kombes Nasrun juga melibatkan kalangan masyarakat. ”Masyarakat bisa melaporkan melalui hotline itu Pak Rektor,” ucap Kombes Nasrun kepada saya petang itu. Saya kira positif, dan perlu direspons positif pula.

Petang itu kami juga diskusi hal lain. Sangat produktif dan berkualitas. Di antaranya mencari model sinergi. Kombes Nasrun rupanya tertarik dengan ide saya: SDSD (satu desa satu dosen). Tidak semua desa. Tentu saja selektif. Rupanya Kombes Nasrun itu eksekutor tangkas. Dengan cepat mengiyakan. Kami sepakat mematangkannya. Kombes Nasrun tampak senang. Saya pun senang.

Sehari kemudian saya dapat kabar. Kombes Nasrun akan pindah tugas. Begitulah perwira. Cepat geser. Saya terkesan gaya komunikasinya. Menyenangkan sekali. Ingat komandan, pataka polisi disucikan setiap menjelang 1 Juli. Dari segala noda. Selamat bertugas di tempat baru. (*)

*) Rektor Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi

TIBA-tiba pikiran saya melambung. Tertuju pada pataka polisi. Saat melihat lambang-lambang di baju dinas Kombes Nasrun Pasaribu, Kapolresta Banyuwangi. Rabu petang itu Pak Nasrun berbuka puasa di Untag Banyuwangi. Usai memberikan apresiasi Gebyar Ramadan BEM Untag Banyuwangi. Bersama komandan lain, Letkol Eko Julianto (Dandim) dan  Letkol Ansori (Danlanal). Tiga komandan teritori yang supel, tak jaim.

Empat hal saya catat. Bintang berjumlah 3 di bagian atas. Di tengah ada perisai. Di bagian bawah tertulis kata Sansekerta Rastra Sewakottama. Kanan-kiri perisai ada padi dan kapas. Di pataka itulah jatidiri polisi RI.  

Bintang berjumlah 3 bermakna tribrata, tiga jalan. Jalan pertama Rastra Sewakottama, abdi utama untuk nusa dan bangsa. Jalan kedua Nagara Janottama, warga negara teladan. Dan, jalan ketiga Jana Anusasana Dharma, wajib menjaga ketertiban. Jalan pertama, Rastra Sewakottama, dieksplisitkan di bagian bawah.

Perisai menandakan pelindung rakyat. Di dalam perisai ada nyala obor bersaf (4 saf di kepala, 5 saf di kaki). Ada 8 jilatan api dari obor itu. Ada 17 garis sinar dari api obor. Jelas sekali: 17.8.45. Kode hari bersejarah: Proklamasi Kemerdekaan. Dan, padi-kapas yang berada di samping perisai adalah sila kelima Pancasila: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Tak main-main. Konon, pataka polisi dibuat oleh Kapolri Pertama, Raden Said Soekanto. Benderanya pun dijahit sendiri oleh Lena Mokoginta, istri Soekanto. Mungkin terinspirasi oleh bendera pusaka merah-putih yang dijahit sendiri oleh Fatmawati, istri Soekarno, Sang Proklamator.

Tiang pataka pun berasal dari pohon yang terdapat di Pulau Karimun Jawa. ”Secara khusus diambil Soekanto dengan cara tirakatan,” demikian Nugroho Djajoesman dalam buku Meniti Gelombang Reformasi. Dia menuliskan kesaksian ayahnya, Hendra Djajoesman, yang pernah menjadi ajudan Soekanto.

Pataka itu diserahkan Presiden Soekarno kepada Soekanto selaku Kepala Kepolisian RI. Saat perayaan ulang tahun kepolisian di Lapangan Banteng, 1 Juli 1955. Tribrata (yang dilambangkan 3 bintang) itulah yang diucapkan Soekanto. Tatkala menerima pataka dari Presiden Soekarno. Dan, pengorbanan Soekanto diganjar predikat pahlawan nasional pada tahun 2020.

Sungguh mendalam makna falsafi pataka polisi. Lambang-lambang itu selalu melekat di tubuh setiap polisi. Di mana pun, kapan pun. Saat bertugas. Seolah-olah hendak menegaskan, sekaligus mengingatkan: pedomanilah makna dan nilai yang terkandung pada lambang-lambang pataka.

Hakikat tugas polisi adalah pelindung rakyat. Mengayomi dan melindungi warga masyarakat. Menjaga ketertiban dan menegakkan hukum secara berkeadilan. Untuk apa? Agar tercapai cita-cita kemerdekaan: masyarakat adil berkemakmuran, makmur berkeadilan.

Bukan sembarangan. Konon, setiap menjelang 1 Juli, Hari Ulang Tahun Kepolisian RI, digelar Upacara Pencucian Pataka. Tradisi yang penuh makna. Simbolis sekali. Dari kacamata Arlond van Gennep, antropolog yang menekuni ritus-ritus peralihan, disebut liminalitas. Subjek disucikan di ruang liminal. Yakni, ruang ”antara”. Menandai transisi hari ini menuju hari esok.

Pataka itu disucikan. Dari segala noda. Agar bersih kembali, segar kembali. Tatkala memasuki hari esok. Sebuah simbol refleksi. Yang memperlihatkan kesadaran introspeksi dan perenungan. Terhadap status hari ini. Agar esok makin baik. Lantaran memuliakan dan merevitalisasi nilai-nilai tribrata. Lantaran kemauan Korps Bhayangkara untuk terus-menerus memperbaiki kinerjanya. Seiring dinamika masyarakat yang diayomi, dilindungi. Agar polisi makin dicintai rakyat. Bukan dicaci maki, dibenci. 

Sungguh mulia. Pantas disebut warga negara teladan. Kesadaran introspeksi dan perenungan itu patut diberi garis tebal. Betapa tidak! Setiap hari polisi ada di tengah masyarakat. Dari pagi hingga pagi lagi. Berhadapan dengan urusan yang kompleks. Masalah dan kepentingannya. Maka, demi tugasnya, polisi dipersenjatai. Diberi kewenangan mengambil tindakan hukum. Termasuk menggunakan senjatanya.

Tak aneh bila sebagian citra polisi adalah ”buram”. Polisi nakal, polisi hitam, dan segenap citra buruk lain. Abai tribrata. Saya pernah dinasihati seseorang, ”Hindari berurusan dengan polisi. Bukan selesai urusan, malah tambah urusan.”

Karena itu pula, tak aneh muncul humor satire dari Gus Dur. Katanya, hanya ada 3 polisi jujur di Indonesia: patung polisi, polisi tidur, dan Hoegeng Imam Santoso. Hoegeng adalah Kapolri Kelima. Dan, satire tersebut digarisbawahi pula oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Sebagai tantangan. Yang dijawabnya dengan ”Program Presisi” (prediktif, responsibilitas, transparan, berkeadilan).

Saya melihat Kombes Nasrun petang itu ceria sekali. Komandan Polresta Banyuwangi itu bercerita tentang hotline yang baru diluncurkan. Sebagai upayanya menerjemahkan Program Presisi Kapolri. Tentu dengan kreasinya.

Dibuatlah Program Wadul Propam Presisi Polresta Banyuwangi. Sebagai salah satu upaya optimalisasi kinerja. Juga peningkatan kualitas pelayanan jajaran korps Bhayangkara yang bertugas di Banyuwangi. Sekaligus ikhtiar untuk semakin dekat dengan masyarakat.

Melalui program ini masyarakat punya pintu untuk melaporkan kinerja anggota kepolisian di lapangan. Baik saat mendapati polisi nakal maupun polisi terpuji. Yang istimewa, Program Wadul Propam Presisi bukan hanya diisi Unit Propam atau jajaran Polresta Banyuwangi. Kombes Nasrun juga melibatkan kalangan masyarakat. ”Masyarakat bisa melaporkan melalui hotline itu Pak Rektor,” ucap Kombes Nasrun kepada saya petang itu. Saya kira positif, dan perlu direspons positif pula.

Petang itu kami juga diskusi hal lain. Sangat produktif dan berkualitas. Di antaranya mencari model sinergi. Kombes Nasrun rupanya tertarik dengan ide saya: SDSD (satu desa satu dosen). Tidak semua desa. Tentu saja selektif. Rupanya Kombes Nasrun itu eksekutor tangkas. Dengan cepat mengiyakan. Kami sepakat mematangkannya. Kombes Nasrun tampak senang. Saya pun senang.

Sehari kemudian saya dapat kabar. Kombes Nasrun akan pindah tugas. Begitulah perwira. Cepat geser. Saya terkesan gaya komunikasinya. Menyenangkan sekali. Ingat komandan, pataka polisi disucikan setiap menjelang 1 Juli. Dari segala noda. Selamat bertugas di tempat baru. (*)

*) Rektor Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/