alexametrics
23.2 C
Banyuwangi
Monday, August 8, 2022

Spirit Jumat: Bijak

Mengamati proses penetasan telur, terlihat jelas sistem pencernaan adalah yang mula-mula terbentuk. Saat masuk etape kedua puluh empat terbentuk pula jaringan otak, tulang belakang kepala, hingga sistem aliran darah.

Puncaknya saat kuning telur berangsur menghilang, embrio anak ayam mulai terlihat dengan jelas. Dari mulai jari kaki dan sayap serta perut sampai bentuk bulu dan mulut yang terbuka lalu diikuti retakan cangkang.

Sekalipun bermaksud baik, memukul cangkang telur untuk membantu proses ”kelahiran” anak ayam bukanlah tindakan bijak. Sebaliknya membiarkannya ”keluar” sendiri dengan energi yang dimiliki adalah tindakan terpuji.

Sebagai sebuah tindakan yang mengutamakan objektivitas dan keadilan, bijak bisa diperoleh melalui proses ”lelaku” hidup yang dinamis dan kadang dramatis hingga setiap tulisan di lembarannya dimaknai sebagai sumber pengetahuan yang tinggi nilainya.

Dalam teorema kepemimpinan, disebut bijaksana jika seorang pemimpin siap mendengar dan mengelola masukan orang lain dengan bijak.  Seperti ketika Nabi SAW menawarkan kepada para sahabatnya untuk mengemukakan pendapat mengenai perlakuan terhadap tawanan Perang Badar.

Abu Bakar Ra menawarkan pembebasan kepada tawanan yang mampu dengan membayar sejumlah tebusan dan menjadi relawan guru bagi yang berkemampuan mengajar. Namun Umar Ra justru berinisiatif menghukum mati para tawanan karena mereka telah berbuat zalim.

Baca Juga :  Jelang Buka, General Manager Hotel Santika Bermain Bersama Wartawan

Kedua pendapat tersebut dibenarkan oleh Allah dalam QS Muhammad 47 untuk Abu Bakar Ra dan QS Al Anfal 67-69 untuk pendapat Umar. Namun, dengan bijak Nabi SAW memilih pendapat Abu Bakar Ra mengingat masyarakat muslim masih butuh dana besar dan SDM yang berkualitas untuk memajukan negeri yang baru seumur jagung.

Sebuah laku bijak bisa pula dilihat pada saat Umar Bin Abdul Aziz merampungkan sejumlah tugas di kantornya. Tiba-tiba salah seorang putranya masuk ruangan dan hendak membicarakan sesuatu. ”Untuk urusan apa engkau datang ke sini, Nak?” tanya Umar. ”Urusan keluarga, Ayahnda” jawab anaknya.

Kontan Umar mematikan lampu penerang dan berkata, ”anakku, lampu yang sedang ayah pakai bekerja ini milik negara, minyak yang digunakan juga dibeli dengan uang negara. Sementara kita membicarakan urusan keluarga,” kata Umar.

Baca Juga :  Gowes Banyuwangi-Semarang

Umar kemudian meminta pembantunya mengambil lampu dari dalam. ”Nah sekarang lampu yang kita nyalakan ini milik keluarga kita. Minyaknya pun dibeli dari uang kita sendiri. Silakan Ananda memulai pembicaraan dengan ayah,” kata Umar.

Zaman ”now”, setiap pemimpin dituntut untuk bijak dalam merespons laporan komisi PBB ”On Financing Global Opportunity” yang menyatakan akan terjadi PHK pada kurun waktu dua puluh tahun mendatang bagi 2 miliar pegawai di seluruh dunia akibat revolusi digital pada semua proses pekerjaan layanan publik.

Akibatnya, sekelas perusahaan transportasi tidak perlu membeli armada. Transaksi perbankan tidak melibatkan karyawan, aktivitas produksi tidak butuh buruh. Bahkan adu senjata pada pertempuran militer tidak perlu tentara karena semua selesai pada sentuhan papan digital berbasis radar.

Revolusi mental yang ditindaklanjuti dengan sistem pendidikan berbasis karakter adalah pilihan yang sangat bijak untuk menghadapi iklim kompetisi hidup yang makin ketat. Maka semisal menyebar undangan hajatan pernikahan bagi pejabat publik lebih dari 400 undangan tentu  kategori tindakan yang kurang bijak… (*)

Mengamati proses penetasan telur, terlihat jelas sistem pencernaan adalah yang mula-mula terbentuk. Saat masuk etape kedua puluh empat terbentuk pula jaringan otak, tulang belakang kepala, hingga sistem aliran darah.

Puncaknya saat kuning telur berangsur menghilang, embrio anak ayam mulai terlihat dengan jelas. Dari mulai jari kaki dan sayap serta perut sampai bentuk bulu dan mulut yang terbuka lalu diikuti retakan cangkang.

Sekalipun bermaksud baik, memukul cangkang telur untuk membantu proses ”kelahiran” anak ayam bukanlah tindakan bijak. Sebaliknya membiarkannya ”keluar” sendiri dengan energi yang dimiliki adalah tindakan terpuji.

Sebagai sebuah tindakan yang mengutamakan objektivitas dan keadilan, bijak bisa diperoleh melalui proses ”lelaku” hidup yang dinamis dan kadang dramatis hingga setiap tulisan di lembarannya dimaknai sebagai sumber pengetahuan yang tinggi nilainya.

Dalam teorema kepemimpinan, disebut bijaksana jika seorang pemimpin siap mendengar dan mengelola masukan orang lain dengan bijak.  Seperti ketika Nabi SAW menawarkan kepada para sahabatnya untuk mengemukakan pendapat mengenai perlakuan terhadap tawanan Perang Badar.

Abu Bakar Ra menawarkan pembebasan kepada tawanan yang mampu dengan membayar sejumlah tebusan dan menjadi relawan guru bagi yang berkemampuan mengajar. Namun Umar Ra justru berinisiatif menghukum mati para tawanan karena mereka telah berbuat zalim.

Baca Juga :  Pelari Kenya Libas Kelas 27 K

Kedua pendapat tersebut dibenarkan oleh Allah dalam QS Muhammad 47 untuk Abu Bakar Ra dan QS Al Anfal 67-69 untuk pendapat Umar. Namun, dengan bijak Nabi SAW memilih pendapat Abu Bakar Ra mengingat masyarakat muslim masih butuh dana besar dan SDM yang berkualitas untuk memajukan negeri yang baru seumur jagung.

Sebuah laku bijak bisa pula dilihat pada saat Umar Bin Abdul Aziz merampungkan sejumlah tugas di kantornya. Tiba-tiba salah seorang putranya masuk ruangan dan hendak membicarakan sesuatu. ”Untuk urusan apa engkau datang ke sini, Nak?” tanya Umar. ”Urusan keluarga, Ayahnda” jawab anaknya.

Kontan Umar mematikan lampu penerang dan berkata, ”anakku, lampu yang sedang ayah pakai bekerja ini milik negara, minyak yang digunakan juga dibeli dengan uang negara. Sementara kita membicarakan urusan keluarga,” kata Umar.

Baca Juga :  Abaikan Dualisme di Pusat, PTMSI Banyuwangi Tetap Kirim Atlet ke Kejurnas Riau

Umar kemudian meminta pembantunya mengambil lampu dari dalam. ”Nah sekarang lampu yang kita nyalakan ini milik keluarga kita. Minyaknya pun dibeli dari uang kita sendiri. Silakan Ananda memulai pembicaraan dengan ayah,” kata Umar.

Zaman ”now”, setiap pemimpin dituntut untuk bijak dalam merespons laporan komisi PBB ”On Financing Global Opportunity” yang menyatakan akan terjadi PHK pada kurun waktu dua puluh tahun mendatang bagi 2 miliar pegawai di seluruh dunia akibat revolusi digital pada semua proses pekerjaan layanan publik.

Akibatnya, sekelas perusahaan transportasi tidak perlu membeli armada. Transaksi perbankan tidak melibatkan karyawan, aktivitas produksi tidak butuh buruh. Bahkan adu senjata pada pertempuran militer tidak perlu tentara karena semua selesai pada sentuhan papan digital berbasis radar.

Revolusi mental yang ditindaklanjuti dengan sistem pendidikan berbasis karakter adalah pilihan yang sangat bijak untuk menghadapi iklim kompetisi hidup yang makin ketat. Maka semisal menyebar undangan hajatan pernikahan bagi pejabat publik lebih dari 400 undangan tentu  kategori tindakan yang kurang bijak… (*)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/