alexametrics
24.7 C
Banyuwangi
Friday, August 12, 2022

Curah Hujan Tinggi, Panen Kopi Menurun

KALIBARU, Jawa Pos Radar Genteng – Yang ditunggu para petani kopi di Banyuwangi, khususnya di wilayah Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi, akhirnya datang juga. Mereka memulai masa panen raya di kebunnya, Kamis (14/7). Sayangnya, hasil panen raya kali ini menurun.

Hujan yang sering turun dengan deras, menjadi penyebab utamanya. Hasil panen yang turun ini, menambah panjang menurunnya hasil produksi petani. “Hasil panen turun sejak 2020, kalini hujan sering turun membuat hasil panen jadi turun,” cetus Muhammad Shodiq, 35, salah satu petani kopi asal Dusun Barurejo, Desa Kalibaru Manis, Kecamatan Kalibaru.

Padahal saat ini, terang Shodiq, harga jual kopi sedang bagus. Harga ceri kopi yang baru dipanen, bisa laku Rp 6.000 per kilogram. Untuk harga kopi green beans mencapai Rp 24.500 sampai Rp 25 ribu per kilogram. “Kalau yang dipanen terus menurun, bikin pusing juga,” ungkapnya.

Sebagai contoh, Shodiq menyampaikan hasil panen kopi miliknya yang menurun hingga dua kuintal setiap tahunnya. Dan itu, juga banyak terjadi ke petani lain. “Pada 2020, saya bisa memproduksi satu ton kopi green beans kopi, setahun kemudian hanya delapan kuintal saja,” ucapnya seraya mengaku punya lahan Hak Guna Usaha (HGU) seluas satu hektare.

Baca Juga :  Pilih Bahan Logam Pipih agar Lebih Ringan

Pada Jawa Pos Radar Genteng, pria yang jadi ketua Kelompok Tani Kopi Kita Kalibaru (Kotaru) itu memprediksi, penurunan hasil produksi kopi itu bakal terjadi lagi di tahun ini. “Prediksi saya begitu (menurun lagi),” cetusnya.

Penurunan hasil produksi itu, masih kata Shodiq, disebabkan bunga kopi yang seharusnya jadi buah, banyak yang membusuk akibat terus diguyur hujan. “Kalau tidak busuk ya rontok, makanya hasil panen ceri kopi jadi sedikit,” jelasnya.

Yang membuat para petani kopi pusing, hasil panen yang menurun itu diperparah dengan harga pupuk yang semakin mahal. Saat ini, harga pupuk nonsubsidi mencapai Rp 450 sampai Rp 500 ribu per sak. “Untuk pemangkasan ranting dan memanen, kita menyuruh orang, itu keluar biaya,” cetusnya.

Petani lainnya, Mustafidz Ali, 28, asal Dusun Curahleduk, Desa Banyuanyar, Kecamatan Kalibaru menyebut akibat curah hujan yang tinggi, banyak petani memilih untuk menunda panennya. “Kalau dipanen sekarang, takut gak bisa jemur,” ungkapnya.

Baca Juga :  Bawang Putih dan Merah Harga Terendah

Bukan tanpa risiko, pria yang biasa disapa Tafidz itu menyampaikan menunda panen juga berakibat pada kualitas kopi itu sendiri. Ceri kopi bisa menghitam, dan tak bisa diolah karena terlalu lama di pohon. “Kalau kematangan bisa rontok dan menghitam, malah gak bisa diproses,” tandasnya.

Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Banyuwangi, K. Khoiri mengatakan faktor cuaca memang sulit diprediksi, dan itu sangat berdampak pada petani kopi. “Itu tidak hanya di Kalibaru saja, petani sudah berusaha maksimal untuk melakukan budidaya sesuai anjuran dari pemerintah,” ungkapnya.

Khoiri menyampaikan kesulitan para petani, biasanya terjadi saat proses pasca panen. Mereka akan buru-buru melakukan penjemuran kopi. “Kalau hujan terus, bisa berdampak terhadap kualitas kopi itu sendiri,” cetusnya.

Untuk mengantisipasi cuaca yang kurang menguntungkan ini, Khoiri menyarankan para petani kopi mulai mengolah dengan cara proses basah (full wash). “Solusinya petani harus olah basah, tidak olah kering,” sarannya.(sas/abi)

KALIBARU, Jawa Pos Radar Genteng – Yang ditunggu para petani kopi di Banyuwangi, khususnya di wilayah Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi, akhirnya datang juga. Mereka memulai masa panen raya di kebunnya, Kamis (14/7). Sayangnya, hasil panen raya kali ini menurun.

Hujan yang sering turun dengan deras, menjadi penyebab utamanya. Hasil panen yang turun ini, menambah panjang menurunnya hasil produksi petani. “Hasil panen turun sejak 2020, kalini hujan sering turun membuat hasil panen jadi turun,” cetus Muhammad Shodiq, 35, salah satu petani kopi asal Dusun Barurejo, Desa Kalibaru Manis, Kecamatan Kalibaru.

Padahal saat ini, terang Shodiq, harga jual kopi sedang bagus. Harga ceri kopi yang baru dipanen, bisa laku Rp 6.000 per kilogram. Untuk harga kopi green beans mencapai Rp 24.500 sampai Rp 25 ribu per kilogram. “Kalau yang dipanen terus menurun, bikin pusing juga,” ungkapnya.

Sebagai contoh, Shodiq menyampaikan hasil panen kopi miliknya yang menurun hingga dua kuintal setiap tahunnya. Dan itu, juga banyak terjadi ke petani lain. “Pada 2020, saya bisa memproduksi satu ton kopi green beans kopi, setahun kemudian hanya delapan kuintal saja,” ucapnya seraya mengaku punya lahan Hak Guna Usaha (HGU) seluas satu hektare.

Baca Juga :  Upaya Tingkatkan Ekspor ke Kawasan Teluk dan Timur Tengah

Pada Jawa Pos Radar Genteng, pria yang jadi ketua Kelompok Tani Kopi Kita Kalibaru (Kotaru) itu memprediksi, penurunan hasil produksi kopi itu bakal terjadi lagi di tahun ini. “Prediksi saya begitu (menurun lagi),” cetusnya.

Penurunan hasil produksi itu, masih kata Shodiq, disebabkan bunga kopi yang seharusnya jadi buah, banyak yang membusuk akibat terus diguyur hujan. “Kalau tidak busuk ya rontok, makanya hasil panen ceri kopi jadi sedikit,” jelasnya.

Yang membuat para petani kopi pusing, hasil panen yang menurun itu diperparah dengan harga pupuk yang semakin mahal. Saat ini, harga pupuk nonsubsidi mencapai Rp 450 sampai Rp 500 ribu per sak. “Untuk pemangkasan ranting dan memanen, kita menyuruh orang, itu keluar biaya,” cetusnya.

Petani lainnya, Mustafidz Ali, 28, asal Dusun Curahleduk, Desa Banyuanyar, Kecamatan Kalibaru menyebut akibat curah hujan yang tinggi, banyak petani memilih untuk menunda panennya. “Kalau dipanen sekarang, takut gak bisa jemur,” ungkapnya.

Baca Juga :  Siswa MTs Negeri 2 Bondowoso Belajar Jurnalistik

Bukan tanpa risiko, pria yang biasa disapa Tafidz itu menyampaikan menunda panen juga berakibat pada kualitas kopi itu sendiri. Ceri kopi bisa menghitam, dan tak bisa diolah karena terlalu lama di pohon. “Kalau kematangan bisa rontok dan menghitam, malah gak bisa diproses,” tandasnya.

Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Banyuwangi, K. Khoiri mengatakan faktor cuaca memang sulit diprediksi, dan itu sangat berdampak pada petani kopi. “Itu tidak hanya di Kalibaru saja, petani sudah berusaha maksimal untuk melakukan budidaya sesuai anjuran dari pemerintah,” ungkapnya.

Khoiri menyampaikan kesulitan para petani, biasanya terjadi saat proses pasca panen. Mereka akan buru-buru melakukan penjemuran kopi. “Kalau hujan terus, bisa berdampak terhadap kualitas kopi itu sendiri,” cetusnya.

Untuk mengantisipasi cuaca yang kurang menguntungkan ini, Khoiri menyarankan para petani kopi mulai mengolah dengan cara proses basah (full wash). “Solusinya petani harus olah basah, tidak olah kering,” sarannya.(sas/abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/