alexametrics
23.6 C
Banyuwangi
Thursday, June 30, 2022

Warga Aliyan Kesurupan, Minta Ritual Keboan Digelar Sederhana

RadarBanyuwangi.id – Saleen dan Tanosok mendadak bertingkah aneh. Suaranya mengerang. Tatapan matanya kosong. Kedua lengannya ditekuk di depan dadanya.

Tingkahnya mirip seperti kerbau. Kepalanya digosok-gosokkan ke tanah dan mencari kubangan lumpur. Dua orang ini sedang kerasukan roh leluhur Desa Aliyan. Bagi warga setempat peristiwa ini bukan hal aneh, apalagi memasuki bulan Suro.

Saleen dan Tanosok yang berperilaku seperti kerbau berlari ke rumah Jumhar yang merupakan salah satu sesepuh sekaligus pawang keboan di Dusun Temurejo. Sambil didampingi sanak keluarga, keduanya meminta agar upacara adat Keboan dan selametan kampung di makam Buyut Wongso Kenongo tetap digelar.

Dari rumah Jumhar, Saleen dan Tanosok ganti mendatangi kediaman Kades Aliyan, Anton Sujarwo. Mereka minta upacara adat Keboan yang rutin digelar di Desa Aliyan tetap diselenggarakan meski dengan cara sederhana.

”Jarene enek selametan, tak enteni gak onok, ayo Pak Lurah tak enteni, masio sederhana kudu onok ben gak akeh wong-wong seng teko, Pak. Saksenono Pak, ben selamet kabeh rakyate sampean, Pak (Katanya ada selamatan, saya tunggu tidak ada, ayo Pak saya tunggu meskipun sederhana, supaya tidak banyak warga yang datang, bapak jadi saksinya, supaya aman masyarakat desa ini, Red),” ujar Saleen yang sudah kerasukan.

Mendengar permintaan itu, Kades Aliyan Anton Sujarwo mengaku masih akan menggelar rapat bersama sesepuh dan tokoh adat di Desa Aliyan. Namun demikian, pada pukul 10.00 Jumat (13/8) tradisi selamatan di makam Buyut Wongso Kenongo tetap digelar secara sederhana bersama puluhan warga.

Saleen dan Tanosok yang kesurupan roh leluhur akhirnya bisa disadarkan setelah selamatan di makam Buyut Wongso Kenongo selesai digelar. Menurut Anton, upacara adat Keboan di Desa Aliyan sempat tidak digelar untuk mencegah penularan wabah virus korona. 

Sejak saat itu, warga mulai banyak yang mendadak dirasuki roh leluhur. Mereka meminta agar tradisi Keboan tetap diselenggarakan meski cukup sederhana. ”Warga yang kerasukan tidak dibuat-buat. Tradisi Keboan sudah turun-temurun dan tidak dibuat-buat,” jelas Anton.

Anton berencana tetap akan menggelar adat tradisi bersih desa dengan mengadakan selamatan latar di depan rumah masing-masing dengan menerapkan protokol kesehatan. Tamu ataupun wisatawan dari luar desa tidak boleh datang.

”Kami akan tetap menggelar tradisi ini secara sederhana dan hanya akan diikuti oleh warga desa kami saja. Kami tidak mengundang warga luar desa. Semoga pagebluk pandemi virus korona ini segera berakhir,” tandasnya. (ddy/aif/c1)

RadarBanyuwangi.id – Saleen dan Tanosok mendadak bertingkah aneh. Suaranya mengerang. Tatapan matanya kosong. Kedua lengannya ditekuk di depan dadanya.

Tingkahnya mirip seperti kerbau. Kepalanya digosok-gosokkan ke tanah dan mencari kubangan lumpur. Dua orang ini sedang kerasukan roh leluhur Desa Aliyan. Bagi warga setempat peristiwa ini bukan hal aneh, apalagi memasuki bulan Suro.

Saleen dan Tanosok yang berperilaku seperti kerbau berlari ke rumah Jumhar yang merupakan salah satu sesepuh sekaligus pawang keboan di Dusun Temurejo. Sambil didampingi sanak keluarga, keduanya meminta agar upacara adat Keboan dan selametan kampung di makam Buyut Wongso Kenongo tetap digelar.

Dari rumah Jumhar, Saleen dan Tanosok ganti mendatangi kediaman Kades Aliyan, Anton Sujarwo. Mereka minta upacara adat Keboan yang rutin digelar di Desa Aliyan tetap diselenggarakan meski dengan cara sederhana.

”Jarene enek selametan, tak enteni gak onok, ayo Pak Lurah tak enteni, masio sederhana kudu onok ben gak akeh wong-wong seng teko, Pak. Saksenono Pak, ben selamet kabeh rakyate sampean, Pak (Katanya ada selamatan, saya tunggu tidak ada, ayo Pak saya tunggu meskipun sederhana, supaya tidak banyak warga yang datang, bapak jadi saksinya, supaya aman masyarakat desa ini, Red),” ujar Saleen yang sudah kerasukan.

Mendengar permintaan itu, Kades Aliyan Anton Sujarwo mengaku masih akan menggelar rapat bersama sesepuh dan tokoh adat di Desa Aliyan. Namun demikian, pada pukul 10.00 Jumat (13/8) tradisi selamatan di makam Buyut Wongso Kenongo tetap digelar secara sederhana bersama puluhan warga.

Saleen dan Tanosok yang kesurupan roh leluhur akhirnya bisa disadarkan setelah selamatan di makam Buyut Wongso Kenongo selesai digelar. Menurut Anton, upacara adat Keboan di Desa Aliyan sempat tidak digelar untuk mencegah penularan wabah virus korona. 

Sejak saat itu, warga mulai banyak yang mendadak dirasuki roh leluhur. Mereka meminta agar tradisi Keboan tetap diselenggarakan meski cukup sederhana. ”Warga yang kerasukan tidak dibuat-buat. Tradisi Keboan sudah turun-temurun dan tidak dibuat-buat,” jelas Anton.

Anton berencana tetap akan menggelar adat tradisi bersih desa dengan mengadakan selamatan latar di depan rumah masing-masing dengan menerapkan protokol kesehatan. Tamu ataupun wisatawan dari luar desa tidak boleh datang.

”Kami akan tetap menggelar tradisi ini secara sederhana dan hanya akan diikuti oleh warga desa kami saja. Kami tidak mengundang warga luar desa. Semoga pagebluk pandemi virus korona ini segera berakhir,” tandasnya. (ddy/aif/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/