alexametrics
24 C
Banyuwangi
Monday, August 8, 2022

Balada Keledai

“Manusia memang cenderung nyinyir dan kepo, bahkan sok super,” gerutu keledai saat tiba di balai karantina untuk diperiksa dan ditanya asal-usulnya. “Kesannya mengganggu hak asasi hewaniyah dan zona privatku,” lanjutnya.

“Orang barat menyebut pejantan kami dengan nama Jack, dan betinanya Jenny. Sedangkan orang Indonesia menamai kami keledai yang kata sohibul hikayah kami punya silsilah dari daratan Afrika dan mereka memperkerjakan kami sejak lima ribu tahun yang lalu,” jelas keledai kepada petugas balai karantina yang mencurigainya terkena antraks.

“Ukuran kami sangat bervariasi, tinggi kisaran 160 cm dengan berat hingga setengah kwintal, usia harapan hidup kami sampai 15 tahun di negara berkembang, sampai 50 tahun di negara maju. Kami adalah kawanan hewan yang sanggup beradaptasi di pinggiran gurun pasir. Hal mana beberapa betina, kami biasa hidup dengan seekor pejantan,” ujar keledai yang dengan sangat antusias melanjutkan keterangannya.

Dengan nada bangga keledai memamerkan kelebihannya. “Ringkikan suara kami berlangsung selama 20 detik dan terdengar hingga jarak 3 kilometer, karena hal yang demikian antara sesama anggota bisa berkomunikasi walau harus berjauhan,bahkan. Kami memiliki keistimewaan bisa melihat dengan sinar infra merah maka mudah bagi kami untuk melihat wujud setan,” bebernya.

Baca Juga :  Puisi-Puisi En. Aang MZ

Memperkuat kebanggaannya, keledai menirukan gaya orasi seorang mubaligh, mengutip sebuah Hadis Riwayat Bukhori. “Bila engkau mendengar suara ayam jantan, maka mintalah karunia Allah karena ia melihat malaikat.  Sedangkan bila engkau mendengar ringkikan keledai maka berlindunglah kepada Allah dari setan karena dia melihat setan”.

Dengan mimik serius, kemudian keledai mengeraskan suaranya. “Aku melihat tiada henti-hentinya setan meninabobokkan manusia dengan serenceng khayalan tanpa kenyataan. Segebok teori minus bukti dan setumpuk fatamorgana tanpa usaha. Mereka bebal terhadap potensi diri sendiri, padahal terhampar di depannya sumber daya alam (SDA) yang melimpah ruah, namun seakan musnah tanpa berkah”.

“Lihatlah penduduk suatu negeri yang garis pantainya terpanjang setelah Kanada, kebutuhan garamnya ternyata harus impor, padahal kekurangan yodium berakibat menurunya kecerdasan, penyakit gondok dan potensi gagal hamil yang tinggi,” lanjut keledai berapi-api.

“Tersiar kabar bahwa kebutuhan garam di negara tersebut mencapai empat jutaan ton per tahun, baik untuk konsumsi maupun industri.  Jika faktor alam menjadi alasan gagal panen garam, tentu peran pakar teknologi industri yang bertahta di perguruan tinggi bergengsi patut dipertanyakan kualitasnya,” kritik keledai kepada pemangku kebijakan.

Baca Juga :  Karbon, Korban, dan Kurban

Tampaknya keledai cukup piawai dan arif dengan tidak sekadar mengkritisi, tapi juga menyodorkan solusi. “Membuat garam itu mudah, kakek moyang manusia memulainya dengan membikin kolam, mengisinya dengan air laut dan membiarkannya beberapa hari bermandi sinar matahari, seiring dengan mengeringnya air muncullah kristal garam”.

“Kami juga mendengar tahun depan di negeri yang potensi geotermalnya mencapai 40 % pasokan dunia, membentang mulai dari Sumatera hingga Papua akan terjadi krisis listrik dengan angka defisit mencapai seribu MW. Maka kebijakan pintas, pantas diambil, yaitu impor listrik,” kata keledai berlagak seperti analis ESDM senior.

Kemudian di ujung pembicaraan, keledai mengingatkan manusia supaya tidak meniru kebiasaan buruk komunitasnya, yaitu ” Perumpamaan orang yang diberi tugas membawa taurat (ilmu) kemudian mereka tidak mengamalkannya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal….”QS:Al Jumu ah ayat 5. (*)

“Manusia memang cenderung nyinyir dan kepo, bahkan sok super,” gerutu keledai saat tiba di balai karantina untuk diperiksa dan ditanya asal-usulnya. “Kesannya mengganggu hak asasi hewaniyah dan zona privatku,” lanjutnya.

“Orang barat menyebut pejantan kami dengan nama Jack, dan betinanya Jenny. Sedangkan orang Indonesia menamai kami keledai yang kata sohibul hikayah kami punya silsilah dari daratan Afrika dan mereka memperkerjakan kami sejak lima ribu tahun yang lalu,” jelas keledai kepada petugas balai karantina yang mencurigainya terkena antraks.

“Ukuran kami sangat bervariasi, tinggi kisaran 160 cm dengan berat hingga setengah kwintal, usia harapan hidup kami sampai 15 tahun di negara berkembang, sampai 50 tahun di negara maju. Kami adalah kawanan hewan yang sanggup beradaptasi di pinggiran gurun pasir. Hal mana beberapa betina, kami biasa hidup dengan seekor pejantan,” ujar keledai yang dengan sangat antusias melanjutkan keterangannya.

Dengan nada bangga keledai memamerkan kelebihannya. “Ringkikan suara kami berlangsung selama 20 detik dan terdengar hingga jarak 3 kilometer, karena hal yang demikian antara sesama anggota bisa berkomunikasi walau harus berjauhan,bahkan. Kami memiliki keistimewaan bisa melihat dengan sinar infra merah maka mudah bagi kami untuk melihat wujud setan,” bebernya.

Baca Juga :  Sektor Properti Klaim Sumbang Pendapatan Daerah Rp 7 Miliar

Memperkuat kebanggaannya, keledai menirukan gaya orasi seorang mubaligh, mengutip sebuah Hadis Riwayat Bukhori. “Bila engkau mendengar suara ayam jantan, maka mintalah karunia Allah karena ia melihat malaikat.  Sedangkan bila engkau mendengar ringkikan keledai maka berlindunglah kepada Allah dari setan karena dia melihat setan”.

Dengan mimik serius, kemudian keledai mengeraskan suaranya. “Aku melihat tiada henti-hentinya setan meninabobokkan manusia dengan serenceng khayalan tanpa kenyataan. Segebok teori minus bukti dan setumpuk fatamorgana tanpa usaha. Mereka bebal terhadap potensi diri sendiri, padahal terhampar di depannya sumber daya alam (SDA) yang melimpah ruah, namun seakan musnah tanpa berkah”.

“Lihatlah penduduk suatu negeri yang garis pantainya terpanjang setelah Kanada, kebutuhan garamnya ternyata harus impor, padahal kekurangan yodium berakibat menurunya kecerdasan, penyakit gondok dan potensi gagal hamil yang tinggi,” lanjut keledai berapi-api.

“Tersiar kabar bahwa kebutuhan garam di negara tersebut mencapai empat jutaan ton per tahun, baik untuk konsumsi maupun industri.  Jika faktor alam menjadi alasan gagal panen garam, tentu peran pakar teknologi industri yang bertahta di perguruan tinggi bergengsi patut dipertanyakan kualitasnya,” kritik keledai kepada pemangku kebijakan.

Baca Juga :  Embik pun Beragam Jenisnya

Tampaknya keledai cukup piawai dan arif dengan tidak sekadar mengkritisi, tapi juga menyodorkan solusi. “Membuat garam itu mudah, kakek moyang manusia memulainya dengan membikin kolam, mengisinya dengan air laut dan membiarkannya beberapa hari bermandi sinar matahari, seiring dengan mengeringnya air muncullah kristal garam”.

“Kami juga mendengar tahun depan di negeri yang potensi geotermalnya mencapai 40 % pasokan dunia, membentang mulai dari Sumatera hingga Papua akan terjadi krisis listrik dengan angka defisit mencapai seribu MW. Maka kebijakan pintas, pantas diambil, yaitu impor listrik,” kata keledai berlagak seperti analis ESDM senior.

Kemudian di ujung pembicaraan, keledai mengingatkan manusia supaya tidak meniru kebiasaan buruk komunitasnya, yaitu ” Perumpamaan orang yang diberi tugas membawa taurat (ilmu) kemudian mereka tidak mengamalkannya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal….”QS:Al Jumu ah ayat 5. (*)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/