24.3 C
Banyuwangi
Friday, June 2, 2023

Puisi Ardhi Ridwansyah

Malam Sendu

 

Sendu cuaca menuai rindu,

Di tengah jalan suara klakson tersedu,

Membiak keluh dalam dada pengendara,

Lelah yang termaktub dalam keringat,

Menetes deras basahi raga lesu.

 

Sepasang mata menerkam,

Jiwa lunglai siap layu,

Seraya malam begitu syahdu,

Lirih hujan menebar teror,

Tentang kenangan masa lalu.

 

Kala puisi yang tergores,

Pada tubuh kertas lusuh,

Tiada bermakna, menewaskan kata,

Tepat saat jemari,

Menikam asa jadi binasa.

 

Jakarta, 2021

 

——————————

 

Halaman Satu

 

Mencarimu di sebuah buku,

Aku coba menata rasa,

Dalam sesaknya kata-kata,

Meramu cinta dengan rindu,

Yang terurai dalam setiap halaman,

Penuh ilmu.

 

Ada jiwamu di sana, tersenyum,

Mengetuk jemala dengan manja,

Menebar secercah huruf menjadi,

Baca Juga :  Sepi Job Sejak Pandemi, Kini Buka Warung Nasi

Kisah yang patut dibaca.

 

Ada gelisahmu meringkuk,

Di halaman satu; kala memulai,

Aku bersiap mengakhiri tiap kasih,

Dengan waktu yang terus berlari.

 

Jakarta, 2021

——————————

 

Mengetuk Jendela Sepi

Untuk Windy Nur Malasari

 

Datang angin mengetuk jendela sepi,

Menyapa diri yang sibuk merawat mimpi,

Di dada ringkih tiada cerita yang tertata,

Segala kisah tewas tanpa kasih.

 

Namun angin menuntunnya,

Berembus di sekitar telinga berbisik,

Dengan cinta yang kini bangkit,

Berdiri tegak menantang hati yang resah.

 

Sejak surya membelai permukaan bumi,

Hingga sinarnya redup sebagai senja,

Angin terus menuai memori rindu,

Tentang pesan dengan kesan kelabu,

Di setiap kalimat menuai candu.

 

Jakarta, 2021

 ——————————

 

Jam Dinding

 

Adalah jam dinding tua,

Baca Juga :  Tradisi Malam 1 Suro di Alas Purwo Ditutup Total

Merekat di tembok usang,

Berlumur waktu yang lamur,

Wajahnya kian luntur.

 

Menyatu dengan tanah,

Kemboja subur merekah,

Tanda duka terdalam,

Dari hati nan resah

 

Jakarta, 2021

——————————

 

Embun

Embun bertengger,

Di tubuh daun lesu,

Dan ada wajahmu, menyapa daku,

Menuai rindu sekaligus ragu.

 

Sebab embun,

Akan mengering seiring waktu,

Menanti fajar kembali,

Tersenyum seperti biasa,

Lagi dan lagi.

 

Jakarta, 2021

——————————

Ardhi Ridwansyah kelahiran Jakarta, 4 Juli 1998. Puisinya ”Memoar dari Takisung” dimuat di buku antologi puisi ”Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2019”. Puisinya juga tersebar di berbagai media cetak dan daring. Penulis buku antologi puisi tunggal ”Lelaki yang Bersetubuh dengan Malam”. Salah satu penyair terpilih dalam ”Sayembara Manuskrip Puisi: Siapakah Jakarta”.

Malam Sendu

 

Sendu cuaca menuai rindu,

Di tengah jalan suara klakson tersedu,

Membiak keluh dalam dada pengendara,

Lelah yang termaktub dalam keringat,

Menetes deras basahi raga lesu.

 

Sepasang mata menerkam,

Jiwa lunglai siap layu,

Seraya malam begitu syahdu,

Lirih hujan menebar teror,

Tentang kenangan masa lalu.

 

Kala puisi yang tergores,

Pada tubuh kertas lusuh,

Tiada bermakna, menewaskan kata,

Tepat saat jemari,

Menikam asa jadi binasa.

 

Jakarta, 2021

 

——————————

 

Halaman Satu

 

Mencarimu di sebuah buku,

Aku coba menata rasa,

Dalam sesaknya kata-kata,

Meramu cinta dengan rindu,

Yang terurai dalam setiap halaman,

Penuh ilmu.

 

Ada jiwamu di sana, tersenyum,

Mengetuk jemala dengan manja,

Menebar secercah huruf menjadi,

Baca Juga :  Usaha Kerajinan Gamelan Laris Manis

Kisah yang patut dibaca.

 

Ada gelisahmu meringkuk,

Di halaman satu; kala memulai,

Aku bersiap mengakhiri tiap kasih,

Dengan waktu yang terus berlari.

 

Jakarta, 2021

——————————

 

Mengetuk Jendela Sepi

Untuk Windy Nur Malasari

 

Datang angin mengetuk jendela sepi,

Menyapa diri yang sibuk merawat mimpi,

Di dada ringkih tiada cerita yang tertata,

Segala kisah tewas tanpa kasih.

 

Namun angin menuntunnya,

Berembus di sekitar telinga berbisik,

Dengan cinta yang kini bangkit,

Berdiri tegak menantang hati yang resah.

 

Sejak surya membelai permukaan bumi,

Hingga sinarnya redup sebagai senja,

Angin terus menuai memori rindu,

Tentang pesan dengan kesan kelabu,

Di setiap kalimat menuai candu.

 

Jakarta, 2021

 ——————————

 

Jam Dinding

 

Adalah jam dinding tua,

Baca Juga :  Sekolah Tua

Merekat di tembok usang,

Berlumur waktu yang lamur,

Wajahnya kian luntur.

 

Menyatu dengan tanah,

Kemboja subur merekah,

Tanda duka terdalam,

Dari hati nan resah

 

Jakarta, 2021

——————————

 

Embun

Embun bertengger,

Di tubuh daun lesu,

Dan ada wajahmu, menyapa daku,

Menuai rindu sekaligus ragu.

 

Sebab embun,

Akan mengering seiring waktu,

Menanti fajar kembali,

Tersenyum seperti biasa,

Lagi dan lagi.

 

Jakarta, 2021

——————————

Ardhi Ridwansyah kelahiran Jakarta, 4 Juli 1998. Puisinya ”Memoar dari Takisung” dimuat di buku antologi puisi ”Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2019”. Puisinya juga tersebar di berbagai media cetak dan daring. Penulis buku antologi puisi tunggal ”Lelaki yang Bersetubuh dengan Malam”. Salah satu penyair terpilih dalam ”Sayembara Manuskrip Puisi: Siapakah Jakarta”.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/