alexametrics
28.9 C
Banyuwangi
Friday, August 12, 2022

Saatnya Beralih ke Pupuk Organik

Pupuk urea terancam langka. Penyebabnya, pasokan pupuk ke Banyuwangi terhambat karena dipicu kerusakan cerobong penyalur pupuk dari pabrik Pupuk Kaltim ke kapal pengangkut pupuk. Akibatnya, sebanyak 38 ribu ton pupuk urea yang sedianya dikirim ke gudang Pupuk Kaltim di wilayah Meneng, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, belum bisa terangkut kapal.

Sementara, perjalanan dari Kalimantan ke Banyuwangi membutuhkan waktu sekitar satu pekan. Sedangkan proses pengemasan membutuhkan waktu sekitar dua pekan. Diperkirakan, hingga Februari mendatang, distribusi pupuk mengalami kendala, yang berarti petani kesulitan mendapatkan pupuk urea.

Kelangkaan pupuk ini sebenarnya bukan kali pertama terjadi. Anehnya, kelangkaan pupuk ini terjadi setiap kali musim tanam tiba. Bertahun-tahun. Tanpa ada solusi apapun. Beragam alasan dikemukakan. Mulai kerusakan mesin di pabrik, kendala distribusi, hingga permainan mafia pupuk. Yang pasti, petani menjadi pihak paling dirugikan dari kelangkaan pupuk.

Baca Juga :  Kopdar, Driver Go-Jek Konvoi BWI–Genteng

Saat ini, petani kita memang tergantung pada pupuk urea. Padahal, menurut para pakar, pupuk urea memiliki kandungan zat kimia berbahaya yang dapat merusak kesuburan tanah untuk jangka waktu lama. Pengunaan pupuk urea secara terus-menerus akan meninggalkan residu. Jika residu ini dibiarkan akan merusak unsur hara dalam tanah dan berakibat tanah menjadi keras dan menggumpal. Akibatnya tanaman tidak dapat tumbuh secara subur.

Karena itu, kelangkaan pupuk saat ini harus dijadikan momentum bagi dinas terkait untuk menggalakkan kembali penggunaan pupuk urea. Petani harus diberi pemahaman bahwa penggunaan pupuk organik sejatinya tidak kalah dengan pupuk non-organik. Mengapa harus pupuk organik? Karena ternyata pupuk organik dapat meningkatkan hasil pertanian untuk segala keadaan. Terutama di alam tropis ini. Pupuk organik bisa digunakan untuk tanaman keras maupun lunak. Mengapa demikian? Hal itu karena pupuk organik tidak meninggalkan residu di dalam tanah dan membuat tanah menjadi gembur. Sehingga kesuburan tanah tetap terjaga.

Baca Juga :  Selamat Datang Rizki

Penggunaan pupuk organik juga lebih murah dan bisa dibuat sendiri. Pupuk organik bisa dibuat dari kotoran sapi atau kambing. Juga sisa-sisa sampah rumah tangga. Memang, prosesnya membutuhkan waktu lama. Namun, saat ini sudah banyak warga yang mulai memproduksi pupuk organik sendiri. Namun bisanya pemakaiannya sangat terbatas. Itu karena produksinya tidak dilakukan secara masal. Belum ada pabrik pupuk yang memproduksi pupuk organik secara besar-besaran.

Di sinilah peran dinas terkait, kelompok tani, maupun pedagang pupuk untuk memberi pemahaman kepada petani, bahwa memakai pupuk organik memiliki lebih banyak kelebihan dibanding pupuk urea atau non-organik. (alsodbwi@gmail.com)

Pupuk urea terancam langka. Penyebabnya, pasokan pupuk ke Banyuwangi terhambat karena dipicu kerusakan cerobong penyalur pupuk dari pabrik Pupuk Kaltim ke kapal pengangkut pupuk. Akibatnya, sebanyak 38 ribu ton pupuk urea yang sedianya dikirim ke gudang Pupuk Kaltim di wilayah Meneng, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, belum bisa terangkut kapal.

Sementara, perjalanan dari Kalimantan ke Banyuwangi membutuhkan waktu sekitar satu pekan. Sedangkan proses pengemasan membutuhkan waktu sekitar dua pekan. Diperkirakan, hingga Februari mendatang, distribusi pupuk mengalami kendala, yang berarti petani kesulitan mendapatkan pupuk urea.

Kelangkaan pupuk ini sebenarnya bukan kali pertama terjadi. Anehnya, kelangkaan pupuk ini terjadi setiap kali musim tanam tiba. Bertahun-tahun. Tanpa ada solusi apapun. Beragam alasan dikemukakan. Mulai kerusakan mesin di pabrik, kendala distribusi, hingga permainan mafia pupuk. Yang pasti, petani menjadi pihak paling dirugikan dari kelangkaan pupuk.

Baca Juga :  Portal dan Kanopi Dipasang di Pintu Parkir

Saat ini, petani kita memang tergantung pada pupuk urea. Padahal, menurut para pakar, pupuk urea memiliki kandungan zat kimia berbahaya yang dapat merusak kesuburan tanah untuk jangka waktu lama. Pengunaan pupuk urea secara terus-menerus akan meninggalkan residu. Jika residu ini dibiarkan akan merusak unsur hara dalam tanah dan berakibat tanah menjadi keras dan menggumpal. Akibatnya tanaman tidak dapat tumbuh secara subur.

Karena itu, kelangkaan pupuk saat ini harus dijadikan momentum bagi dinas terkait untuk menggalakkan kembali penggunaan pupuk urea. Petani harus diberi pemahaman bahwa penggunaan pupuk organik sejatinya tidak kalah dengan pupuk non-organik. Mengapa harus pupuk organik? Karena ternyata pupuk organik dapat meningkatkan hasil pertanian untuk segala keadaan. Terutama di alam tropis ini. Pupuk organik bisa digunakan untuk tanaman keras maupun lunak. Mengapa demikian? Hal itu karena pupuk organik tidak meninggalkan residu di dalam tanah dan membuat tanah menjadi gembur. Sehingga kesuburan tanah tetap terjaga.

Baca Juga :  Angkat Kopi Robusta Kalibaru ke Mancanegara

Penggunaan pupuk organik juga lebih murah dan bisa dibuat sendiri. Pupuk organik bisa dibuat dari kotoran sapi atau kambing. Juga sisa-sisa sampah rumah tangga. Memang, prosesnya membutuhkan waktu lama. Namun, saat ini sudah banyak warga yang mulai memproduksi pupuk organik sendiri. Namun bisanya pemakaiannya sangat terbatas. Itu karena produksinya tidak dilakukan secara masal. Belum ada pabrik pupuk yang memproduksi pupuk organik secara besar-besaran.

Di sinilah peran dinas terkait, kelompok tani, maupun pedagang pupuk untuk memberi pemahaman kepada petani, bahwa memakai pupuk organik memiliki lebih banyak kelebihan dibanding pupuk urea atau non-organik. (alsodbwi@gmail.com)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/