alexametrics
24.7 C
Banyuwangi
Sunday, August 14, 2022

Rajut Kebersamaan lewat Festival Kebangsaan

BANYUWANGI – Wilayah Banyuwangi yang membentang di ujung timur Pulau Jawa, memiliki garis pantai yang sangat panjang, serta tanah yang subur menjadi perhatian banyak orang sejak dulu kala. Tak pelak, banyak warga dari berbagai etnis, suku, ras, dan agama berbondong-bondong datang. Entitas yang berbeda itu, terjalin erat dengan penduduk asli Blambangan dan membentuk wajah Banyuwangi saat ini.

”Wajah” Banyuwangi yang plural inilah yang melatarbelakangi terselenggaranya Festival Kebangsaan di Desa Patoman, Kecamatan Blimbingsari, yang digelar Rabu (29/12).

Bupati Ipuk Fiestiandani mengatakan, keberagaman di Banyuwangi bukan menjadi alasan untuk saling membeda-bedakan. Sebaliknya, keberagaman itu ada untuk saling mengenal dan memperkuat persatuan. Dengan kerukunan dan persatuan semua suku dan etnis tersebut, Banyuwangi akan semakin aman dan nyaman. ”Sehingga semua dapat bekerja dan beraktivitas dengan lancar. Memberikan yang terbaik untuk daerah. Semuanya menjadi sejahtera,” ujarnya saat membuka acara tersebut secara virtual.

Festival Kebangsaan kali ini menghadirkan berbagai etnis dan suku yang tinggal di Banyuwangi. Selain suku Oseng yang merupakan penduduk asli, juga terdapat berbagai suku lain. Seperti Jawa, Madura, Bali, Mandar-Bugis, Minang, sampai etnis Tionghoa dan Arab. Mereka mengenakan baju khasnya masing-masing.

Baca Juga :  Kampanye Kebersihan Sungai lewat Festival Oling Rived Food

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Muhammad Lutfi mengatakan, sejarah membuktikan bahwa seluruh suku dan etnis yang tinggal di Banyuwangi ini telah berkontribusi untuk membangun kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini. ”Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk mengucilkan atau bahkan mendiskriminasi. Semua berhak untuk mengekspresikan dirinya di bumi Blambangan ini,” tuturnya.

Ketua Forum Pembauran Kebangsaan Banyuwangi Miskawi menambahkan, Desa Patoman sengaja dipilih sebagai tuan rumah karena memiliki karakter keberagaman etnis dan agama. Di desa yang berbatasan dengan pantai ini, setidaknya ada empat suku yang tinggal. Selain Oseng, juga ada suku Jawa, Madura, dan Bali. Menariknya, masing-masing suku tersebut tetap mempertahankan budaya dan bahasanya. ”Semuanya hidup rukun dan saling berbaur dengan baik. Inilah yang kemudian menjadi alasan utama kegiatan ini diselenggarakan di sini. Desa ini juga bisa disebut Desa Kebangsaan,” ujarnya.

Baca Juga :  Hemat dan Sehat, Memaknai Hari Bawa Bekal Nasional

Ekspresi keberagaman dalam Festival Kebangsaan tidak hanya terlihat dari aneka jenis baju adatnya. Namun, juga terlihat dari tumpeng yang disajikan. Mulai tumpeng Oseng, Jawa, Madura, sampai tumpeng kebuli khas Arab.

Selain itu, juga ditampilkan tari barong dari lintas suku dan etnis. Diawali dengan tari barong khas Bali yang diiringi dengan Rande dari Patoman. Kemudian disusul dengan tari barong Oseng dari Gintangan dengan iringan gamelan yang khas. Kemudian ditutup dengan tari barongsai persembahan dari komunitas Tionghoa TITD Hoo Tong Bio, Banyuwangi. ”Keseniannya boleh sama, barong. Tapi, masing-masing punya kekhasannya sendiri. Inilah kekayaan dari keragaman budaya di Banyuwangi,” terang Lutfi. 

BANYUWANGI – Wilayah Banyuwangi yang membentang di ujung timur Pulau Jawa, memiliki garis pantai yang sangat panjang, serta tanah yang subur menjadi perhatian banyak orang sejak dulu kala. Tak pelak, banyak warga dari berbagai etnis, suku, ras, dan agama berbondong-bondong datang. Entitas yang berbeda itu, terjalin erat dengan penduduk asli Blambangan dan membentuk wajah Banyuwangi saat ini.

”Wajah” Banyuwangi yang plural inilah yang melatarbelakangi terselenggaranya Festival Kebangsaan di Desa Patoman, Kecamatan Blimbingsari, yang digelar Rabu (29/12).

Bupati Ipuk Fiestiandani mengatakan, keberagaman di Banyuwangi bukan menjadi alasan untuk saling membeda-bedakan. Sebaliknya, keberagaman itu ada untuk saling mengenal dan memperkuat persatuan. Dengan kerukunan dan persatuan semua suku dan etnis tersebut, Banyuwangi akan semakin aman dan nyaman. ”Sehingga semua dapat bekerja dan beraktivitas dengan lancar. Memberikan yang terbaik untuk daerah. Semuanya menjadi sejahtera,” ujarnya saat membuka acara tersebut secara virtual.

Festival Kebangsaan kali ini menghadirkan berbagai etnis dan suku yang tinggal di Banyuwangi. Selain suku Oseng yang merupakan penduduk asli, juga terdapat berbagai suku lain. Seperti Jawa, Madura, Bali, Mandar-Bugis, Minang, sampai etnis Tionghoa dan Arab. Mereka mengenakan baju khasnya masing-masing.

Baca Juga :  Anak Muda Banyuwangi Sulap Rumah Kuno

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Muhammad Lutfi mengatakan, sejarah membuktikan bahwa seluruh suku dan etnis yang tinggal di Banyuwangi ini telah berkontribusi untuk membangun kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini. ”Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk mengucilkan atau bahkan mendiskriminasi. Semua berhak untuk mengekspresikan dirinya di bumi Blambangan ini,” tuturnya.

Ketua Forum Pembauran Kebangsaan Banyuwangi Miskawi menambahkan, Desa Patoman sengaja dipilih sebagai tuan rumah karena memiliki karakter keberagaman etnis dan agama. Di desa yang berbatasan dengan pantai ini, setidaknya ada empat suku yang tinggal. Selain Oseng, juga ada suku Jawa, Madura, dan Bali. Menariknya, masing-masing suku tersebut tetap mempertahankan budaya dan bahasanya. ”Semuanya hidup rukun dan saling berbaur dengan baik. Inilah yang kemudian menjadi alasan utama kegiatan ini diselenggarakan di sini. Desa ini juga bisa disebut Desa Kebangsaan,” ujarnya.

Baca Juga :  Wartawan dan Pegawai Hotel Santika Pose Bersama

Ekspresi keberagaman dalam Festival Kebangsaan tidak hanya terlihat dari aneka jenis baju adatnya. Namun, juga terlihat dari tumpeng yang disajikan. Mulai tumpeng Oseng, Jawa, Madura, sampai tumpeng kebuli khas Arab.

Selain itu, juga ditampilkan tari barong dari lintas suku dan etnis. Diawali dengan tari barong khas Bali yang diiringi dengan Rande dari Patoman. Kemudian disusul dengan tari barong Oseng dari Gintangan dengan iringan gamelan yang khas. Kemudian ditutup dengan tari barongsai persembahan dari komunitas Tionghoa TITD Hoo Tong Bio, Banyuwangi. ”Keseniannya boleh sama, barong. Tapi, masing-masing punya kekhasannya sendiri. Inilah kekayaan dari keragaman budaya di Banyuwangi,” terang Lutfi. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/