alexametrics
24 C
Banyuwangi
Friday, August 12, 2022

Sektor Properti Klaim Sumbang Pendapatan Daerah Rp 7 Miliar

JawaPos.com – Pelaku bisnis sektor properti di Banyuwangi mantap menyambut tahun 2021 dengan optimisme. Selain karena kebutuhan rumah siap huni di Banyuwangi sangat tinggi, optimisme itu juga didorong keyakinan pandemi Covid-19 bisa segera tertangani.

Salah satu pengusaha properti Banyuwangi Eko Joko Susanto mengatakan, sepanjang tahun 2020, realisasi penjualan rumah bersubsidi di kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini mencapai 1.611 unit. Angka ini terbilang sangat tinggi mengingat pandemi Covid-19 sempat membuat berbagai sektor bisnis melemah.

Joko menuturkan realisasi rumah bersubsidi tahun 2020 memang turun dibanding 2019. Namun, penurunannya tidak terlalu signifikan. ”Sepanjang 2019, realisasi rumah bersubsidi sekitar 1.700 unit. Ini menunjukkan kebutuhan rumah siap huni di Banyuwangi masih sangat tinggi,” kata mantan Ketua REI Banyuwangi tersebut.

Baca Juga :  Berharap Ada Tambahan Kuota dan Kemudahan MBR

Joko berharap, pandemi Covid-19 bisa segera teratasi. Apalagi, pemerintah berkomitmen memberikan vaksin Covid-19 kepada jutaan rakyat. ”Dengan pandemi yang bisa ditangani, penjualan perumahan minimal bisa kembali seperti tahun sebelumnya atau bahkan bisa lebih bagus lagi,” kata dia.

Joko mengaku optimistis menyongsong tahun 2021 ini. Terlebih, pada 2020 realisasi rumah bersubsidi di Banyuwangi mencapai 1.600 unit lebih. ”Ternyata masyarakat masih bisa memenuhi kebutuhan papan. Artinya, meski terpengaruh pandemi, daya beli masyarakat tidak jatuh hingga titik nadir. Untuk itu, di tahun 2021 kami optimistis penjualan properti bakal naik. Peluang sekecil apa pun harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya,” kata dia.

Eko menambahkan, penjualan properti yang meningkat juga akan berdampak positif bagi perekonomian Banyuwangi. Selain mendukung sektor padat usaha, penjualan perumahan juga berdampak langsung pada pendapatan asli daerah (PAD), khususnya dari bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB) serta pajak bumi dan bangunan (PBB).

Baca Juga :  Pemerintah Sediakan Dukungan bagi Generasi Muda Berwirausaha

Dikatakan, jika dihitung secara kasar, penjualan 1.611 unit rumah bersubsidi tahun 2020 menghasilkan BPHTB sekitar Rp 7 miliar. Dia menjelaskan, angka tersebut diperoleh dari kalkulasi nilai jual rumah (Rp 150,5 juta) dikurangi nilai jual objek pajak tidak kena pajak (NJOPTKP) sebesar Rp 60 juta, dikali lima persen. ”Itu pun belum termasuk PBB. Pembangunan perumahan juga mengakibatkan pendapatan PBB meningkat. Sebab, pajak sebidang tanah dengan bangunan lebih tinggi dibandingkan sebidang tanah tanpa bangunan,” pungkasnya.

JawaPos.com – Pelaku bisnis sektor properti di Banyuwangi mantap menyambut tahun 2021 dengan optimisme. Selain karena kebutuhan rumah siap huni di Banyuwangi sangat tinggi, optimisme itu juga didorong keyakinan pandemi Covid-19 bisa segera tertangani.

Salah satu pengusaha properti Banyuwangi Eko Joko Susanto mengatakan, sepanjang tahun 2020, realisasi penjualan rumah bersubsidi di kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini mencapai 1.611 unit. Angka ini terbilang sangat tinggi mengingat pandemi Covid-19 sempat membuat berbagai sektor bisnis melemah.

Joko menuturkan realisasi rumah bersubsidi tahun 2020 memang turun dibanding 2019. Namun, penurunannya tidak terlalu signifikan. ”Sepanjang 2019, realisasi rumah bersubsidi sekitar 1.700 unit. Ini menunjukkan kebutuhan rumah siap huni di Banyuwangi masih sangat tinggi,” kata mantan Ketua REI Banyuwangi tersebut.

Baca Juga :  Ritual di Pantai Cacalan, Jai Crawford Senang Bisa Lepas Tukik

Joko berharap, pandemi Covid-19 bisa segera teratasi. Apalagi, pemerintah berkomitmen memberikan vaksin Covid-19 kepada jutaan rakyat. ”Dengan pandemi yang bisa ditangani, penjualan perumahan minimal bisa kembali seperti tahun sebelumnya atau bahkan bisa lebih bagus lagi,” kata dia.

Joko mengaku optimistis menyongsong tahun 2021 ini. Terlebih, pada 2020 realisasi rumah bersubsidi di Banyuwangi mencapai 1.600 unit lebih. ”Ternyata masyarakat masih bisa memenuhi kebutuhan papan. Artinya, meski terpengaruh pandemi, daya beli masyarakat tidak jatuh hingga titik nadir. Untuk itu, di tahun 2021 kami optimistis penjualan properti bakal naik. Peluang sekecil apa pun harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya,” kata dia.

Eko menambahkan, penjualan properti yang meningkat juga akan berdampak positif bagi perekonomian Banyuwangi. Selain mendukung sektor padat usaha, penjualan perumahan juga berdampak langsung pada pendapatan asli daerah (PAD), khususnya dari bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB) serta pajak bumi dan bangunan (PBB).

Baca Juga :  Hemat dan Sehat, Memaknai Hari Bawa Bekal Nasional

Dikatakan, jika dihitung secara kasar, penjualan 1.611 unit rumah bersubsidi tahun 2020 menghasilkan BPHTB sekitar Rp 7 miliar. Dia menjelaskan, angka tersebut diperoleh dari kalkulasi nilai jual rumah (Rp 150,5 juta) dikurangi nilai jual objek pajak tidak kena pajak (NJOPTKP) sebesar Rp 60 juta, dikali lima persen. ”Itu pun belum termasuk PBB. Pembangunan perumahan juga mengakibatkan pendapatan PBB meningkat. Sebab, pajak sebidang tanah dengan bangunan lebih tinggi dibandingkan sebidang tanah tanpa bangunan,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/